Menjadi Perempuan Baru Tanpa Melupakan Masa Lalu

Menjadi Perempuan Baru Tanpa Melupakan Masa Lalu

Ilustrasi (Mohamed Hassan via Pixabay)

“Merebut hak-hak kaum istri, akan bisa mempunyai hak leluasa sebagai lain makhluk kodrat Tuhan… Bekerja berdaya upaya, mencari akal, bertenaga, bersuara mempertimbangkan di muka umum, apa yang harus diberubah keadaan yang sudah tidak cocok dan tidak selaras dengan tingkatnya kemajuan kaum istri… Kita harus berlomba-lomba menguji pengetahuan baharu, dan membuang adat kolot yang sudah tidak pas lagi dengan kebutuhan pada masa ini.”

Dikutip dari Susan Blackburn, ed., Kongres Perempuan I: Tinjauan Ulang (Jakarta: Yayasan Obor & KITLV, 2007)

Sudah 90 tahun berlalu sejak R.A Soedirman – perwakilan Putri Budi Sejati – mengutarakan pidato tersebut di Kongres Perempuan I. Saya kira, bahkan jauh sebelum itu, keberadaan perempuan dan sikap politiknya mulai dipersoalkan. Pada 1928, R.A Soedirman bicara tentang bagaimana meletakkan diri dalam kehidupan sosial.

Hidup sosial itu penting, namun jangan diabaikan bahwa tiap-tiap diri perempuan dalam narasinya pertama-tama selalu bicara tentang diri sendiri. Tiap perempuan punya persoalan berbeda, tiap zaman punya corak berbeda.

Pada era sekarang, sosok perempuan hampir selalu dikaitkan dengan kehendak ingin diagungkan dan diistimewakan. Perempuan yang bicara di muka publik tentang dirinya dan kehidupan sosial seringkali dianggap cari perhatian belaka.

Kita bisa lihat ketika mencuatnya peristiwa Via Vallen. Setelah itu, muncul hiruk-pikuk tuduhan bahwa pelecehan melalui media sosial terlalu remeh untuk diungkap ke publik. Beberapa bilang bahwa Via lebay dan melakukan taktik yang salah dengan tidak melaporkannya ke pihak berwenang.

Peristiwa yang terjadi baru-baru ini juga tidak jauh beda. Di media sosial, tersiar kabar tentang seorang komika yang melontarkan pernyataan kontroversial, karena mengaku telah meniduri banyak perempuan.

Butuh waktu sebentar saja untuk membuat narasi-narasi marjinal di sekitarnya untuk bermunculan. Dalam senyap, dia diceritakan telah menyalahgunakan ketenarannya untuk berhubungan seks. Tidak ada yang berani bersuara, sebelum ada yang memulai.

Itu salah satu bukti bahwa relasi kuasa lelaki-perempuan ternyata tidak hilang ditelan zaman. Relasi kuasa masih ada, bahkan dianggap biasa berkat kemunculannya yang terlalu sering dan terlalu mudah diabaikan di media komunikasi kita. Maka, relasi itu terus tumbuh, dan pada saat yang sama terus diabaikan.

Lihatlah betapa perempuan secara general dituduh memiliki agenda terselubung di balik eksistensi sosialnya. Padahal, buat perempuan zaman sekarang, bisa menunjukkan sikap di muka publik saja sudah syukur. Perempuan dalam waktu yang sangat panjang telah dikerangkeng untuk tetap tinggal dalam ranah domestik.

Ketika berhasil keluar dari ranah domestik, berbagai persoalan baru malah muncul kembali. Misalnya, ya pelecehan seksual melalui media sosial tadi, atau hadirnya iklan-iklan yang mengkonstruksi seperti apa perempuan harus bertindak, produk industri apa yang semestinya digunakan, dan sebagainya.

Membaca Narasi

Tuduhan yang muncul dewasa ini seolah menelantarkan cita-cita R.A Soedirman dalam pidatonya bahwa perempuan yang bekerja, berdaya, matang akal, bertenaga, dan berkebebasan berpendapat sebagai satu bentuk kebaruan.

Dalam pembacaan Aquarini Priyatna terhadap Manusia Bebas karya Suwarsih Djojopuspito (1912-1977) juga dapat ditemukan bahwa pada masa itu, perempuan ditarik untuk membangun formasi diri di antara dua hal.

Pertama, menjadi seorang intelektual dalam pergerakan nasional. Kedua, menjadi seorang feminis yang berjuang memperbaiki kondisi hidup perempuan – ketika itu tersingkir dalam ruang domestik akibat poligami, kekerasan, dan pelecehan oleh suami.

Suwarsih menarasikan proses hidupnya sebagai perempuan. Karya-karyanya membuat kita paham bentuk masyarakat ketika itu – berperadaban maju, namun masih percaya tahayul, setuju pada poligami, dan memandang perempuan sebagai warga kelas dua.

Lebih personal lagi, melalui karyanya, Suwarsih melakukan “resistensi terhadap konstruksi sosial yang menafikkan dan diskriminatif terhadap seksualitas perempuan”. Perempuan – dalam karya-karya Suwarsih – adalah agen bagi kebahagiaan dirinya sendiri.

Meski banyak orang bilang bahagia itu mudah, tetap saja bahagia itu acap kali dicari perempuan era modern dari luar dirinya.

Bagi saya, era ini – apalagi dengan teknologi informasi yang tak berhenti tumbuh – sangat memungkinkan perempuan untuk menerima begitu saja konstruksi sosial yang dibuat bukan oleh dirinya.

Naskah drama “Pembalasannya” yang ditulis oleh Sa’adah Alim (1898-1968) juga berusaha menggambarkan hidup perempuan yang berdaya dan anti diperlakukan semena-mena – terutama dalam hubungan suami-istri.

Pengangkatan tema itu tidak dapat dilepaskan dari aktivisme Sa’adah pada tahun 1918 – melalui majalah Suara Perempuan – yang menggerakkan kaum muda Minang untuk menyuarakan kebebasan dan menentang suara kaum kuno.

Sa’adah – bersama Adlin Affandi – menjadi dua perempuan penulis naskah drama perempuan yang sangat jarang pada masanya. Mengekspresikan diri melalui naskah drama tampak rumit bagi perempuan, karena naskah drama berada dalam bayang-bayang kewajiban mementaskannya di atas panggung.

Pementasan drama memerlukan kelompok-kelompok produksi – yang berarti menuntut aktivitas di luar rumah; di luar ranah domestik.

Narasi Khas

Setiap perempuan punya narasi khas, sebab dirinya adalah bagian dari lingkungan dan tumbuh dengan masyarakat yang beragam.

Persoalan yang timbul dewasa ini adalah bagaimana kita bisa mengenali dan membaca narasi-narasi khas perempuan sepanjang sejarah – dengan persoalan ketidakadilan dalam struktur keluarga, relasi domestik, struktur sosial, bahkan kolonial masing-masing.

Membaca karya-karya perempuan pada masa lalu, saya pikir bisa menjadi cara nomor satu untuk mengenali ragam persoalan.

Membahas persoalan modern itu penting, namun diperlukan pula upaya mendekati dan mendiskusikan persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan pada masa lalu.

Generasi sekarang kelak memiliki kamus persoalan yang lebih lengkap, serta cara masing-masing individu dalam menyelesaikannya – tentu dengan melihat perempuan sebagai subjek penentu sejarah. Bukan sekadar tim hore.

Selain karya-karya yang sudah disebut di atas, ada banyak nama seperti Mariana Amin, SK Trimurti, Selasih, Rohana Kudus, Nursjamsu, Hamidah, Sudjinah, Marianne Katoppo, Sugiarti Siswadi, Soewarsih Djojopoespito, Omi Intan Naomi, dan masih banyak lagi perempuan yang menarasikan diri melalui tulisan.

Kutipan-kutipan karya para narator perempuan itu tentu bisa juga mengisi Instagram Stories-mu kelak. Mudah-mudahan sih bisa mengalahkan dominasi narasi grande tentang emansipasi perempuan, keharusan perempuan memiliki inner beauty, dan sebagainya.

Melalui narasi perempuan pada masa lalu, kita bisa memperoleh bukti bahwa perempuan tak cuma satu. Pengalaman perempuan adalah heterogen. Perempuan dengan ide-ide grande justru sudah banyak tereduksi dan narasi personalnya sudah banyak terkikis.

Kita perlu berkaca pada ragam narasi perempuan, menghargai perempuan sebagai subjek, sambil berlomba-lomba menguji pengetahuan baru kita supaya tak tumbuh menjadi generasi yang congkak.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.