Menikah, tapi Nggak Mau Punya Anak, Boleh kan?

Menikah, tapi Nggak Mau Punya Anak, Boleh kan?

Ilustrasi (Van Thang via Pexels)

Kalian pernah mendengar istilah childfree? Sebuah sebutan untuk para pasangan yang sengaja memutuskan untuk tidak mempunyai anak, baik itu anak kandung, tiri, atau angkat.

Akhir-akhir ini, banyak pasangan menikah yang memutuskan childfree, bahkan nyaris seperti mengkampanyekannya di media sosial. Mereka mengunggah foto-foto bersama pasangan ketika berlibur dan bersenang-senang dengan menyantumkan tagar #childfree.

Menjalani hidup tanpa anak kini menjadi tren gaya hidup. Tentunya itu adalah hak pribadi masing-masing pasangan yang harus dihormati. Namun, ketika mereka menunjukkannya kepada dunia, masyarakat langsung bereaksi.

Masyarakat kita menganggap childfree bagi pasangan yang sudah menikah sebagai sesuatu yang tabu, sesuatu yang tidak bisa diterima dalam konteks agama maupun kehidupan sosial.

Dari hasil observasi di lapangan, pasangan yang sudah menikah berbanding lurus dengan keinginan memiliki anak, atau setidaknya terpapar oleh pertanyaan kapan punya anak.

Jadi, apabila ada 100 pasangan menikah, akan ada 100 pasangan yang mengharapkan segera dikaruniai keturunan atau setidaknya dicecar orang di sekitarnya untuk segera punya momongan. Kamu salah satunya?

Pendapat publik tersebut bisa dinamakan konsensus, sehingga bagi siapa saja yang menolak konsensus tersebut akan dianggap keluar jalur dan akhirnya dialienasi.

Ketika pasangan suami-istri memutuskan childfree, keputusan mereka itu akan otomatis dianggap jelek di mata masyarakat. Akan banyak ujaran-ujaran menghakimi, dianggap super egois hingga menolak rezeki Tuhan.

Baca juga: Berdamai dengan Perempuan yang Tidak Menikah dan Tidak Beranak

Kali ini, mari kita lihat dari konteks sosial, ketika pasangan yang memutuskan childfree dianggap egois oleh masyarakat. Benarkah seperti itu?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, egois berarti orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Mengacu pada definisi tersebut dan kaitannya dengan childfree dapat disimpulkan bahwa pasangan childfree berarti mementingkan diri mereka sendiri.

Padahal, setelah ditelisik alasan memilih childfree, kebanyakan mengaku bahwa mereka justru ingin anak-anak kelak hidup makmur dan layak. Sementara, saat ini, mereka merasa belum sanggup memberikan itu, sehingga memutuskan untuk tidak membebani anak-anak mereka.

Robert Reed, seorang pakar sosiologi, bahkan menyebutkan bahwa tidak ada studi empiris yang menunjukkan pasangan childfree lebih egois daripada pasangan yang memiliki anak.

Sementara itu, sebuah penelitian di Amerika menyebutkan bahwa keinginan untuk childfree karena merasa tidak mampu untuk membesarkan anak dalam lingkungan yang tidak kondusif. Misalnya, keterbatasan finansial atau saat negara dalam kondisi perang.

Menurut para penganut childfree, justru sungguh egois apabila memaksakan diri memiliki anak di tengah kondisi belum mencukupi. Tidak sesederhana ungkapan “Ah, itu dipikir sambil jalan aja” atau “Rejeki anak sudah ada yang ngatur”.

Padahal, membesarkan anak adalah sebuah tanggung jawab besar yang membutuhkan kesiapan finansial, mental, dan emosional yang matang.

Baca juga: Balada Pasangan Muda ketika Ditanya “Sudah Punya Momongan Belum”

Tidak ada satu pun orang tua yang ingin anaknya tumbuh sebagai orang tidak terdidik atau kekurangan uang atau hidup dalam kondisi tidak layak. Pemikiran seperti itu sebetulnya lebih jauh ke depan. Mereka memikirkan masa depan anak, mereka tidak tega mewariskan dunia yang rusak untuk anak-anak mereka, sehingga mereka memutuskan untuk childfree.

Namun, dalam pandangan masyarakat umum, pasangan childfree dilihat sebagai pasangan yang hidupnya hanya mau bersenang-senang saja. Bekerja untuk mereka sendiri, berlibur berdua saja, belanja barang untuk mereka saja.

Sebab itu, pasangan yang sudah menikah diharapkan segera memiliki momongan agar bisa melanjutkan keturunan, agar ibu segera bisa menggendong cucu, agar ketika nanti sudah tua ada yang ngurus.

Bayangkan, salah satu alasan seseorang memiliki anak adalah biar ada yang mengurus di masa tua. Ya tidak apa-apa sih, kalau memang si anak mapan dan mampu.

Tapi bagaimana kalau tidak mampu, karena orang tuanya dulu tidak melakukan persiapan yang matang untuk anaknya tersebut? Lantas, apa bedanya anak dengan investasi? Sebetulnya siapa sih yang egois?

Silakan bertanya kepada pasangan-pasangan di sekitar Anda, baik itu pasangan muda maupun pasangan yang sudah tua. Apa saja alasan mereka punya anak? Berapa banyak jawaban yang berpusat pada diri mereka sendiri, seperti keinginan memiliki ‘keluarga yang utuh’ hingga keinginan agar diurus di masa tua nanti?

Artikel populer: Kebelet Nikah Muda, Buat Apa?

Namun, tetap saja para penganut childfree dianggap egois, tidak mematuhi konsensus, maunya enak saja. Amerika yang katanya negara maju saja masih menganggap pasangan childfree sebagai pasangan yang egois kok. Jadi, bukan hanya di Indonesia.

Nyaris tidak mungkin pasangan childfree bisa lepas dari stigma, meskipun sudah menunjukkan bukti-bukti penelitian yang sahih sekalipun. Norma masyarakat kita tetap akan menilai bahwa childfree adalah sesuatu yang ‘tidak biasa’.

Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah mengontrol diri agar tidak defensif dan emosian, jika ada yang usil nan jahil. Tidak perlu juga membalas pasangan yang mempunyai anak dengan mengatakan bahwa punya anak sebagai bentuk keegoisan tertinggi, meskipun beberapa fakta mungkin berpihak pada Anda.

Tidak perlu juga meyakinkan kepada siapapun bahwa keputusan yang Anda ambil sudah lebih tepat, atau membuktikan bahwa Anda tidak egois dengan ikut berbagai acara amal.

Menjadi pasangan childfree tidak bisa lepas dari tudingan egois, tapi jika itu sudah menjadi keputusan dan bisa bikin lebih bahagia, tidak perlu mengkhawatirkan penilaian orang lain.

Anda yang akan menjalani hidup ke depan, dengan atau tanpa anak, bukan orang di sekitar. Jadi, fokus saja pada kebahagiaan Anda, bukan kebahagiaan orang lain, apalagi sekadar tetangga.

1 COMMENT

  1. setuju, saya juga memutuskan untuk childfree setelah mengikuti gerakan “Voluntary Human Extinction Movement”
    (www.vhemt.org)

    manusia adalah sel kanker bagi ekosistem dunia ini. Planet bumi akan lebih baik tanpa manusia. Tapi bukan berarti saya pro pembunuhan/bunuh diri, yg sudah hidup biarlah menjalani kehidupannya dengan baik. Cara terbaik yg bisa dilakukan adalah dengan tidak bereproduksi lagi.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.