Menikah Adalah Pilihan, Begitu juga Menjadi Janda

Menikah Adalah Pilihan, Begitu juga Menjadi Janda

Ilustrasi (Galina Bogdanovskaya via Pixabay)

“Ayu Ting Ting sudah janda tapi masih cantik aja, ya. Ada apa dengan janda (AADJ)?” Kira-kira begitu ucapan seorang teman saat melihat Ayu Ting Ting sedang live di salah satu stasiun televisi.

Di negeri ini memang serba salah jadi janda. Cantik diomongin, kaya dicurigain, terkenal digosipin. Lagipula, semua perempuan itu cantik. Nggak ada urusannya sama janda atau perawan, artis atau bukan, muda atau tua. Betul? Akui lah…

Saya memang bukan janda, tapi prihatin dengan stigma janda di negeri yang katanya beradab ini. Seneng banget sih ngurusin hidup orang lain? Jadi janda itu berat. Dilan aja nggak sanggup. Ya iyalah.

Seorang ibu beranak lima, kebetulan satu kampung, memilih menjadi janda karena dulu suaminya suka main pukul dan bentak-bentak. Apakah pilihan menjadi janda itu salah? Ditambah faktor ekonomi keluarga yang tidak mendukung.

Baca juga: Mengkhidmati Frasa “Kutunggu Jandamu” dengan Khusyuk dan Benar

Bercerai adalah pilihan terbaik baginya, meski keputusan itu tidak mudah. Terlebih, si ibu harus menghidupi lima orang anaknya, tinggal di sebuah rumah petak yang hanya berukuran 4×4 meter.

Itu adalah salah satu contoh dari sekian banyak kehidupan janda di republik ini, yang mungkin kita tidak mau tahu soal itu. Padahal, bukan rahasia lagi bahwa tingkat perceraian di Indonesia masih tinggi.

Kalau lihat data yang dipublikasikan Dirjen Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung (MA), tren perceraian meningkat selama 2014-2016. Pada 2014, ada sebanyak 344.237 kasus perceraian, sedangkan 2016 mencapai 365.633 kasus. Rata-rata naik 3% setiap tahun.

Tentu tidak mudah jadi single parent, bagi mereka yang mengurus anak pasca perceraian. Berat, tapi bisa lebih berat kalau tetap mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak sehat lagi.

Baca juga: Daripada Terus-terusan Mencibir Janda, Ini yang Bisa Kita Perbuat!

Lalu, di tengah beratnya beban hidup, mereka harus menghadapi stigma pula. Bahkan, masih banyak komentar bernada ejekan, terutama di grup-grup WA. Seolah itu menjadi ‘petunjuk’ bagi laki-laki yang hendak berkunjung ke daerah tertentu atau ‘candaan’ terkait poligami. Lagi-lagi, perempuan hanya menjadi objek.

Nggak lucu tauu..!

Begini ya, mending ‘perhatian’ yang berlebih itu disalurkan ke sesuatu yang lebih berfaedah. Misalnya, bagaimana mencegah pernikahan pada usia anak, bagaimana seharusnya anak memperoleh pendidikan, penguatan ekonomi sebelum menikah, hingga konsepsi tentang rumah tangga.

Mengapa? Ya karena pemicu tingginya perceraian nggak jauh dari persoalan ekonomi, pernikahan dini, pendidikan, KDRT, dan bagaimana memandang pernikahan itu sendiri, termasuk pembagian peran dalam rumah tangga.

Artikel populer: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Kisah janda beranak lima dan Ayu Ting Ting tadi tentunya beda jauh banget, sejauh jarak yang memisahkan kita, ehm. Ya iyalah, si ibu hidup dalam derita, sementara Ayu Ting Ting dalam berita.

Namun, ada dua kesamaan antara mereka: sama-sama perempuan dan janda. Entah warga negara kelas berapa dalam masyarakat yang patriarkis, seperti di negeri kita ini.

Ingat, tak ada seorang pun yang mau menjadi janda. Begitu juga tak seorang pun yang mau menjadi duda. Inginnya menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, till death do us part.

Tapi, sama halnya dengan menikah, bercerai dan menjadi janda juga sebuah pilihan, saat pernikahan tak bisa lagi dipertahankan. Dan, keputusan itu harus dihormati, bukan malah jadi pergunjingan.

Kalau Anda masih saja melabeli janda dengan stigma ini-itu, mungkin sebaiknya Anda sering-sering nonton FTV.

Judulnya?

“Satu Kampung Kena Azab Gara-Gara Nyinyirin Janda”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.