Mengungkap Sisi Lain Venom yang Terhubung Langsung dengan Kita

Mengungkap Sisi Lain Venom yang Terhubung Langsung dengan Kita

Film Venom (Sony Pictures)

Bagi penikmat film superhero, Venom dikenal sebagai salah satu musuh Spider Man yang cukup diperhitungkan. Simbiot, makhluk berlendir asal Planet Klyntar yang butuh manusia untuk dijadikan inang ini, sempat mendiami tubuh Peter Parker sebelum akhirnya didepak dan sakit hati.

Ketika trailer pertama film Venom muncul dengan slogan “Embrace your inner anti-hero”, beredar wacana mengenai status Venom di antara Marvel enthusiast. Bukankah posisinya yang berseberangan dengan Spider Man menjadikan Venom sebagai villain?

Lalu, mengapa Venom diberi label anti-hero, karakter yang pada dasarnya juga pahlawan, namun tak seheroik dan tak sesempurna para superhero? Apa hanya karena tampilannya yang sangar dan suka makan orang?

Pada film arahan Ruben Fleischer ini, tak ada Spider Man ataupun Peter Parker yang membentuk karakter Eddie Brock maupun Venom. Pertemuan Eddie dan simbiot terjadi di Life Foundation, sebuah lembaga milik seorang megalomaniak bernama Carlton Drake.

Absennya Peter Parker-Spider Man membuat jalan Eddie-Venom menuju anti-hero menjadi lebih mudah. Sejatinya, film Venom sebagai pusara dari bermacam bentuk keinginan untuk memperbaiki keadaan dari pihak yang saling berkonflik.

Kita mulai dari Carlton Drake. Bersama dengan lini penjelajahan ruang angkasa Life Foundation, dia ingin merelokasi manusia ke planet lain. Alasannya, bumi sudah tak sanggup lagi mewadahi peradaban.

Namun, ternyata Drake tidaklah se-Elon Musk itu. Tanpa diketahui oleh publik, roket Drake ternyata membawa tenaga kerja asing alien yang disebut sebagai simbiot.

Baca juga: ‘Review’ Tidak Biasa Film Black Panther

Usut punya usut, keinginan memperbaiki hidup umat manusia ini tidak hanya dengan relokasi planet, tapi juga simbiosis antara manusia dan simbiot. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas manusia yang dianggapnya lemah.

Dengan kuasa ilmu pengetahuan dan modal besar, Drake dengan mudah melakukan percobaan simbiosis antara manusia dan simbiot.

Dalam sudut pandangnya, Drake adalah pahlawan bagi umat manusia. Kondisi manusia saat ini yang menurutnya lemah akan mendapat peningkatan lewat simbiosis dengan alien tersebut.

Hal yang sama juga terjadi pada Riot, salah satu simbiot yang dibawa Drake ke bumi. Riot, yang didaku sebagai pemimpin bagi makhluk slime ini, juga setuju bahwa simbiosis akan membawa keuntungan bagi kaumnya.

Dengan posisinya sebagai pemimpin, Riot bisa mengambil keputusan bahwa manusia di bumi adalah inang yang paling baik untuk kaum simbiot. Akhirnya, Riot pun memilih Drake sendiri sebagai inangnya.

Kesamaan misi berupa simbiosis antara manusia dan simbiot, antara Riot dan Drake, akhirnya menjadi dasar utama koalisi. Mereka pun sepakat untuk membawa simbiot-simbiot lain ke bumi.

Namun, simbiosis ini bukanlah tujuan akhir dari Riot. Riot sebenarnya ingin memberikan kehidupan bagi kaumnya, yakni menyediakan inang dan ruang hidup. Sementara bagi Drake, kombinasi manusia-simbiot merupakan peningkatan formasi manusia itu sendiri.

Baca juga: Andai Victor Kamang, Renne Nesa, dan Raden Rauf Jadi ‘Superhero’

Karena itu, jika diteruskan, koalisi Drake-Riot ini bisa menimbulkan perpecahan, selain tentunya berbahaya. Kepentingan Drake adalah kepentingan umat manusia versi dirinya, sementara kepentingan Riot adalah kepentingan simbiot yang hanya ingin memanfaatkan manusia.

Hal yang berbeda terjadi pada koalisi Eddie Brock dan Venom. Simbiosis mereka awalnya terjadi tanpa consent Eddie, sang protagonis dalam cerita ini. Kepentingan Venom untuk eksis lah yang mengawali kisah mereka.

Sampai akhir film, kisah Eddie dan Venom tampak seperti kisah cinta pada umumnya. Mereka saling menerima dan mengaktualisasi diri satu sama lain. Namun, sekalipun Venom tampak sempurna bagi Eddie, simbiot tetaplah simbiot.

Bukan tak mungkin Venom akan keluar dari koalisi dan mencari partai, eh, inang lain. Sejarah Marvel sendiri menunjukkan bahwa Venom pernah menginangi Deadpool, Scorpion, Flash Thompson, Lee Price, dan lain-lain.

Awalnya, Eddie sendiri tidak memiliki kepentingan apa-apa perihal koalisi manusia dan simbiot ini. Sampai suatu ketika, hidup Eddie berujung tragis akibat persinggungannya dengan Drake. Semua hanya karena Eddie menjunjung tinggi integritas dalam kerjanya sebagai jurnalis.

Soal itu, Marvel tampaknya cukup realistis mencitrakan kehidupan pekerja, yang sering kali berakhir duka ketika mengikuti kata hati saat bekerja. Selain Eddie, Dr Dora Skirth, ilmuan Life Foundation yang mencoba membangkang dari Drake akhirnya juga berujung petaka.

Maka, waspadalah!

Artikel populer: Orang Boleh Pintar, tapi Selama Tidak Baca Fiksi, Mereka akan Merugi

Di tengah keterpurukan hidup Eddie, Venom hadir dan mengubah segalanya menjadi lebih greget. Saat berada dalam pikiran Eddie sewaktu bersimbiosis, Venom yang harusnya mematuhi perintah Riot malah menemukan jalannya sendiri untuk memperbaiki dunia.

Alhasil, dengan menggunakan tubuh Eddie, Venom pun menemukan jalannya untuk menjadi pahlawan.

Namun, di antara itu semua, umat manusia yang nasibnya sering disebut oleh tokoh-tokoh di film ini, justru tidak mendapatkan representasi yang memadai. Drake, Eddie, Venom, bahkan Riot membuat keputusan-keputusan yang terkesan heroik tanpa sedikitpun ‘berbicara’ dengan manusia atau alien.

Sekali lagi, di sisi lain, Marvel seolah memberikan gambaran yang realistis tentang dunia. Pada banyak kebijakan yang mengurusi kehidupan umat manusia, keputusan yang diambil oleh mereka yang memiliki kuasa sering terjadi tanpa mengindahkan pendapat umat manusia itu sendiri.

Dalam film Venom juga seakan menunjukkan bahwa tak ada yang abadi di dunia Marvel, termasuk koalisi. Semua kembali lagi, yang ada hanyalah kesamaan kepentingan. Berbeda dengan koalisi Avengers yang tanpa syarat, ehm, koalisi di Venom kental dengan syarat dan kepentingan kelompok.

Yup, tak jauh beda dengan dunia nyata, banyak tokoh yang kerap berbicara nasib banyak orang, tapi kenyataannya enggan menyerap aspirasi rakyat secara langsung. Kemudian, membuat keputusan atas nama rakyat, tapi ujung-ujungnya demi kepentingan kelompok.

Yang ada, alih-alih meningkatkan kualitas hidup rakyat, malah saling bertikai, bahkan dengan teman dan koalisi sendiri.

Lho, mirip di mana ya?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.