Film Yuni – Official Trailer. (Starvision Plus)

Waktu membeli tiket nonton film Yuni, para penonton mungkin sama sekali tak memikirkan bahwa ‘nama lengkap’ film ini adalah Yu(k), Ni(kah) mengingat tokoh utamanya, Yuni, didatangi setidaknya tiga pria berbeda yang mengajaknya menikah.

Yang bikin bergidik dan pilu, usia Yuni bahkan belum genap 17 tahun. Seragam putih abu-abunya masih harus ia pakai ke sekolah. Masa mudanya sedang menanti dan melambai-lambai. Namun, kenapa ia harus diberi pertanyaan berat yang konsekuensinya bisa seumur hidup: Mau diterima lamarannya?

Yuni digambarkan sebagai penggemar warna ungu. Tas, motor, helm, bahkan pakaian dalamnya berwarna ungu. Saya sempat curiga bahwa Yuni sebenarnya adalah Army (nama penggemar boyband BTS) dan pelanggan setia OVO, tapi ternyata warna ungu punya makna tersendiri yang cukup dalam. Meski sering dianggap warna janda, nyatanya ungu mewakili perasaan setia, kuat, dan ambisi. Tiga hal ini jelas dituangkan oleh Kamila Andini selaku sutradara film Yuni.

Film ini, secara sederhana, berkisah lebih dari cerita tentang Yuni. Ia merangkum banyak kegelisahan perempuan – tentu belum semua, tetapi banyak dari kita yang merasa tersentuh dan relate.

Baca juga: Seandainya Bima dan Dara Anak Twitter, lalu Bikin ‘Thread’ 18+

Cerita Yuni berlatar belakang di daerah Serang-Cilegon, Banten. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu kota industri dengan banyak pabrik dan pekerja. Mungkin itu sebabnya saat laki-laki pertama datang dan melamar Yuni, tetangga banyak yang mendukung sebab ia adalah seorang mandor. Bu Kokom, salah seorang tetangga, dan ibu-ibu lainnya percaya bahwa menikah tak perlu menunggu kecocokan kedua pihak. Toh, tugas perempuan hanya berkutat pada tiga hal: sumur, dapur, dan kasur. Setidaknya, itulah yang selama ini mereka yakini dan lakukan.

Seorang guru, Bu Lies, percaya bahwa Yuni punya kesempatan meraih beasiswa kuliah. Kepala sekolah menegurnya dan meminta agar Bu Lies tak terlalu memberi harapan pada murid-murid, sebab kebanyakan dari mereka kelak akan memilih menikah ketimbang berkuliah. Hal ini tentu tak sejalan dengan syarat beasiswa: harus belum menikah. Hal ini pulalah yang menjadi pertimbangan Yuni setiap kali dirinya dilamar.

Yuni yang masih SMA ini punya geng kecil. Salah satu karibnya, Tika, sudah menikah sejak SMP dan sayangnya harus membesarkan anaknya sendiri karena suaminya lebih sering berada di rumah orangtua. Kawan terdekat lainnya, Sarah, dipaksa menikah oleh orangtuanya karena sebuah fitnah.

Baca juga: Sebagai Perempuan Desa dan Lajang, Ini Kesan yang Muncul Setelah Nonton Tilik

Adapun karakter dua teman lainnya, Uung dan Nisa, memang tak terlalu banyak diulik, tapi kita tahu bahkan pemainnya telah melewati hal yang sama beratnya dengan kita – para perempuan. Aurel, pemeran Nisa, adalah mantan member JKT48 yang pernah menjadi korban pelecehan seksual di media sosial. Sementara itu, pemeran Uung, yakni Boah Sartika, pernah menyebutkan bahwa ia sempat dijodoh-jodohkan oleh orangtuanya dan dituntut untuk menikah bahkan sebelum ijazahnya bisa ditebus. Padahal, ia belum ingin membangun rumah tangga.

Teman sekolah Yuni, yaitu Ade, dikabarkan hamil dan jadi bahan obrolan hampir seluruh siswa di sekolah – bahkan oleh sesama perempuan. Badannya dibungkus jaket dan ada gosip yang mengatakan ia adalah korban pemerkosaan. Tampilan berjaket ini pulalah yang menjadi bayangan Yuni jika dirinya menerima lamaran dari pria kedua yang berjanji akan membelikannya motor baru dan memberinya uang tunai jika dirinya masih perawan pada malam pertama.

Yuni punya kawan lain yang dikenalnya saat ia menepi di sebuah warung: seorang perempuan nyentrik yang punya salon di pasar bernama Suci Cu-te. Dari karakter Suci ini pula, terkuak satu lagi pengalaman perempuan yang mengiris hati: menjadi korban pernikahan dini, KDRT, dan dijauhi keluarga karena dianggap aib karena bercerai. Suci bertahan sendirian di tempatnya tinggal dan merasa jauh lebih bahagia – atau seperti yang ia sebut: “Freedom abis!”. Ia bebas berjoget di TikTok atau mendandani diri sendiri semaunya – sesuatu yang tak ia dapatkan di masa lalu.

Baca juga: Tidak Menikah Itu Normal, Sebagaimana Mereka yang Menikah

Sahabat Suci, yang mengejutkannya juga mengenal Yuni, bernama Asih. Di balik tampilannya yang berubah, ia menanggung sendiri perannya sebagai anak yang menjaga ibunya dari jauh, meski mereka sebenarnya berada di kota yang sama. Keluarganya mengira ia menjadi TKW sukses di Hong Kong dan ia kini seperti tak punya pilihan untuk meneruskan sandiwaranya. Karakter ini sedikit banyak mengingatkan saya pada tokoh Cho Sang-woo di Squid Game.

Yuni dan seluruh teman gengnya, Ade, Bu Kokom, Bu Lies, Suci, dan Asih adalah sebagian kecil jumlah perempuan. Kita adalah kumpulan yang lebih besar. Jika film Yuni dibuat spin off-nya, tentu kita adalah bagian dari ‘yuniverse’-nya.

Anggapan sulit jodoh setelah menolak lamaran, fenomena pernikahan anak, stigma negatif perempuan, poligami, obrolan yang dianggap tabu soal reproduksi dan aktivitas seksual, keharusan melayani suami, keterpaksaan mengubur mimpi-mimpi diri sendiri, hingga perasaan terkekang yang dialami perempuan menjadi menu utama film ini. Kita seakan diberi pertanyaan: Akan bagaimana kamu kalau menjadi Yuni?

Artikel populer: Bocoran dari Layangan Putus soal Membongkar Perselingkuhan

Film ini ‘menelanjangi’ kita sebagai perempuan, menjadikannya sebagai tontonan yang habis dengan air mata. Kesakitan Yuni seperti menjadi kesakitan kita semua. Perjalanan Yuni seperti menjadi perjalanan kita semua.

Karena, ayolah, apa sih yang budaya patriarki harapkan pada seorang perempuan muda yang bahkan belum bisa menentukan jurusan kuliahnya sendiri saat tiba-tiba ia disodori fakta bahwa seseorang mengajaknya menikah? Apa yang dunia bisa jamin kepada mereka yang terpaksa melepas keinginannya untuk sesuatu yang kita kenal sebagai ‘sikap nurut dan tidak melawan suami’? Apa yang bisa kita jadikan medium bagi perempuan bersuara jika kebanyakan dari mereka lebih sering diminta menutup mulut?

Padahal, mengutip perkataan karakter penyanyi rock perempuan dalam film ini, tak semestinya kita biarkan orang melarang kita bersuara. Pasalnya, mereka tidak tahu rasanya benar-benar kehilangan suara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini