Ilustrasi Youtube (Image by Kaufdex from Pixabay)

Tidak perlu setumpuk teori untuk menilai apa yang dilakukan Youtuber Ferdian Paleka adalah proyek dehumanisasi, kontra produktif, dan sekadar sampah virtual yang bertebaran di media publik.

Belum hilang rasa duka atas kasus pembunuhan Mira, seorang transgender perempuan (transpuan) yang dibakar hidup-hidup oleh sejumlah orang di Cilincing, Jakarta, pada April lalu, kini transpuan lain mesti mengalami nasib tidak mengenakkan: dijadikan konten prank di Youtube demi popularitas si Ferdian Paleka.

Ferdian cs seolah-olah memberikan bantuan sembako kepada transpuan, namun isi bingkisan itu tak lebih dari sekadar sampah. Gimana, sampah betul kan kelakuan Ferdian cs?

Alasan bikin konten prank itu sangat tidak berperikemanusiaan. Menganggap transpuan sebagai sampah masyarakat lah, nggak boleh menghidupi diri di bulan Ramadan, bahkan diseret-seret pula hingga ke zaman nabi dan rasul.

Tanpa bangunan argumentasi konstruktif, tanpa pertimbangan logis dan hanya untuk kepentingan konten belaka, Ferdian mengobral kebodohannya ke publik, yang tak lain hanyalah upaya perendahan harkat dan martabat seseorang.

Baca juga: Menjadi ‘YouTubers’ yang Dihujat Netizen, tapi Dikagumi Presiden

Mungkin, pengetahuan gender yang didapat Ferdian hanya laki-laki dan perempuan yang boleh menghidupi diri. Sementara “bodo amat” dengan transpuan atau waria, gemblak, bissu, dan keragaman gender lainnya. Padahal, mereka masuk dalam kategori kelompok rentan.

Di tengah ancaman krisis ekonomi dan bayang-bayang wabah seperti sekarang, menjadikan kelompok rentan (transpuan) dengan merendahkan apa-apa yang diikhtiarkannya adalah penistaan terhadap kemanusiaan.

Sementara itu, ada ribuan transpuan yang berusaha bertahan hidup dari penghasilan harian dan mencari ruang aman dari ancaman tidak mendapatkan bantuan pemerintah karena tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Lah kok malah ada Youtuber amoral merendahkan usaha seseorang bertahan hidup?

Dari Ferdian Paleka ini kemudian kita bisa mengerti bahwa agen politik pensetanan (politics of demonization) yang biasanya dilakukan oleh politisi yang memanfaatkan kondisi krisis untuk mendiskriminasi kelompok minoritas rentan lewat retorika, ternyata juga bisa dilakukan oleh seorang Youtuber melalui konten kontra produktif.

Baca juga: Menjawab Beberapa Pertanyaan Menohok seputar LGBT

Ada berbagai cara untuk memproteksi nalar sehat Anda sebagai peselancar hiburan di Youtube atau media sosial lainnya ketika mendapati kanal kontra kemanusiaan, selain melaporkannya sebagai konten bermuatan kebencian dan kekerasan, yaitu dengan meningkatkan taraf berpikir kritis dan sensitivitas kemanusiaan di dalamnya.

Dalam hal ini, sudah tepat dengan apa yang dilakukan oleh kawan-kawan pro hak asasi manusia, yakni dengan melaporkan aktivitas kanal tersebut agar ditutup atas nama kemanusiaan.

Sekalipun kelak kanal-kanal semacam itu berpotensi kembali muncul dengan nama yang berbeda dan pengguna yang berbeda pula, penyertaan sensitivitas kemanusiaan jangan sampai ditinggalkan.

Ketika diprotes, umumnya mereka yang telah viral dengan aktivitas konten kontra kemanusiaan tersebut mengunggah permohonan maaf atau klarifikasi yang biasanya terselip kalimat “kami melakukan ini hanya untuk hiburan semata.”

Plisss, jangan percaya argumentasi rapuh semacam itu. Sebab moralitas kemanusiaan bukan untuk bahan humor gerak atau prank yang hanya berpijak pada kebohongan, pelecehan, dan perendahan.

Baca juga: Selamat Datang Rezim ‘Influencer’! Kami Memang Tak Punya Kuasa, tapi Kami Menolak Derita

Lagi pula, seutas maaf tak cukup untuk membangun kembali martabat kemanusiaan yang sudah diporak-porandakan oleh prank sampah semacam itu. Kalau semua persoalan kemanusiaan diselesaikan dengan permintaan maaf, lantas dari mana kita belajar pentingnya tanggung jawab dan restitusi?

Di samping itu, ada aspek lain yang juga perlu digiatkan, yakni pentingnya edukasi identitas gender. Menjalani hidup sebagai transpuan di negeri ini tidaklah mudah. Ada karang-karang stigma dan diskriminasi yang menghantam lajunya, ada besar potensi dehumanisasi yang dipraktikkan melalui sistem dan kebijakan.

Alhasil, akan ada banyak benih-benih Youtuber yang berpotensi terinspirasi dari konten kontra kemanusiaan dan diskriminatif. Akan ada banyak nalar sensitif gender yang terkikis, jika hal-hal semacam Ferdian Paleka dibiarkan.

Sekalipun kita menyadari kutipan “stop making stupid people famous” yang biasanya jadi coretan di dinding dan baju anak kekinian, namun apalah artinya jika upaya pencegahan lewat pendidikan sensitif gender enggan untuk dilakukan.

Artikel populer: Ketika Perempuan Curhat Jadi Korban Fakboi

Terakhir, ada begitu banyak hal yang semestinya dapat dilakukan untuk membantu meringankan kelompok rentan seperti transpuan pada masa sulit saat ini. Selain berbagi kebutuhan pokok, kita mesti memberikan ruang aman bagi mereka untuk bertahan hidup. Syukur-syukur diberi pelatihan agar bisa hidup mandiri.

Ferdian Paleka bisa saja dengan mudah melewati masa sulit akibat dampak pandemi ini dengan simpanan uang, cadangan pangan, dan akses yang ia punya. Namun, dengan menjadikan kelompok rentan (transpuan) sebagai medium menumpuk pundi-pundi rupiah lewat kanal Youtube, sepertinya ada yang salah dengan pendidikan yang didapatkannya.

Tentunya semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kalau kemanusiaan tersinggung. Kecuali orang gila dan Ferdian Paleka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini