Ilustrasi musik. (Photo by Gustavo Fring from Pexels)

Frank T. McAndrew, Cornelia H. Dudley Professor of Psychology, Knox College

***

Ketika saya masih remaja, ayah saya tidak terlalu tertarik dengan musik yang saya sukai. Baginya, musik kesukaan saya terdengar “sangat berisik”, sementara dia selalu menyebut musik yang dia dengarkan sebagai musik yang “indah”.

Sikap itu bertahan sepanjang hidupnya. Bahkan ketika berusia 80-an, dia pernah melihat iklan di TV yang menggunakan lagu Beatles yang usianya sudah 50 tahun dan berkata, “Saya tidak suka musik-musik zaman sekarang.”

Ternyata dia tidak sendirian.

Seiring bertambahnya usia, saya juga sering mendengar orang seusia saya mengatakan kalimat-kalimat seperti “musik zaman sekarang tidak sebagus musik zaman dulu.”

Mengapa itu terjadi?

Baca juga: Tua Keniscayaan, Menyebalkan Jangan

Untungnya, latar belakang saya sebagai psikolog telah memberi wawasan tentang teka-teki ini.

Kita tahu bahwa selera musik mulai terbentuk sejak usia 13 atau 14 tahun. Pada saat kita menginjak usia 20-an, selera itu terkunci dengan kuat. Bahkan, penelitian menyebutkan bahwa saat berusia 33 tahun, kebanyakan dari kita berhenti mendengarkan musik baru.

Sementara itu, lagu-lagu populer yang dirilis ketika kita masih remaja cenderung tetap populer di kalangan kelompok sebaya kita selama sisa hidup kita.

Mungkin ada penjelasan biologis untuk ini.

Ada bukti bahwa kemampuan otak untuk mengenali perbedaan halus antara akor, ritme, dan melodi yang berbeda memburuk seiring bertambahnya usia. Jadi, bagi orang yang lebih tua, lagu yang lebih baru dan kurang dikenal mungkin “terdengar sama.”

Baca juga: Ternyata Lagu Peradaban .Feast Lebih Keras dari Musik Metal?

Tapi saya yakin ada beberapa alasan sederhana di balik penolakan orang tua terhadap musik yang lebih baru.

Salah satu teori psikologi sosial yang paling banyak diteliti menyebutkan “efek paparan belaka”. Singkatnya, teori ini menyebutkan bahwa semakin kita terpapar sesuatu, semakin kita cenderung menyukainya. Paparan itu terjadi lewat orang yang kita kenal, iklan, dan lagu.

Ketika masih remaja, kita mungkin menghabiskan cukup banyak waktu untuk mendengarkan musik atau menonton video musik. Lagu dan artis favorit itu menjadi bagian yang menghibur dalam hidup kita.

Bagi banyak orang di atas 30 tahun, beban pekerjaan dan keluarga meningkat, jadi hanya ada sedikit waktu untuk menemukan musik baru. Sebagai gantinya, banyak orang di usia itu hanya akan mendengarkan lagu favorit lama yang menjadi bagian hidup mereka ketika mereka memiliki lebih banyak waktu luang.

Baca juga: Ujian Sesungguhnya Penggemar K-pop, Bukan Persoalan Cinta Searah

Tentu saja, usia remaja bukannya tanpa beban dan kesulitan.

Periode ini sebagian besar membingungkan, itulah sebabnya begitu banyak acara TV dan film, mulai dari Glee, Love Simon, hingga Eight Grade yang berkisah tentang gejolak di sekolah menengah.

Penelitian psikologi telah menunjukkan bahwa emosi yang kita alami ketika remaja tampak lebih kuat daripada emosi yang muncul saat dewasa. Kita juga tahu bahwa emosi yang kuat terkait dengan ingatan dan preferensi yang lebih kuat.

Semua itu bisa menjelaskan mengapa lagu yang kita dengarkan selama periode remaja menjadi begitu berkesan dan dicintai.

Artikel populer: Obrolan dengan Ukhti-ukhti Penikmat Musik Punk

Jadi, tidak ada yang salah dengan orangtua kamu kalau mereka tidak suka musikmu. Hal-hal itu terjadi secara alami.

Pada saat yang sama, berdasarkan pengalaman pribadi, saya dapat mengatakan bahwa saya ikut mendengarkan musik yang diputar anak-anak saya ketika mereka masih remaja, kemudian ikut menyukai musik-musik tersebut.

Dengan demikian, bukan tidak mungkin kamu bisa membuat orangtuamu ikut menyukai lagu-lagu Blackpink atau BTS yang menjadi favoritmu.

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca sumber artikel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini