Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Ilustrasi (Aaron Thomas via Unsplash)

Dunia berubah, begitu pula peran suami istri. Sang istri tidak lagi mesti memasak di dapur, menyediakan sarapan untuk anak-anak, dan menyeduhkan secangkir kopi untuk suami.

Begitu pula sang suami, tidak mesti menunggu disediakan istri untuk sekadar minum kopi atau sarapan pagi. Kini, kehidupan suami istri dijalani berdasarkan kesepakatan-kesepakatan, tidak lagi mesti patuh pada peran gender tradisional yang kadung terkonstruksi.

Stay at Home Dad (SAHD) adalah seorang suami yang memutuskan untuk tidak bekerja di luar rumah. Sang suami lebih memilih untuk berurusan dengan hal-hal domestik, seperti memasak, beres-beres rumah, dan mengurus anak dari mulai mandiin, nyebokin, nyuapin, nganter sekolah, bermain, dan lain-lain.

Sedangkan sang istri, fokus pada pekerjaannya di luar rumah. Pergi pagi-pulang sore, diantar jemput sang suami atau sekali waktu pulang sendiri. Keduanya menjalankan peran berdasarkan kesepakatan bersama.

Berada di lingkungan masyarakat patriarkis dan memilih untuk menjadi seorang SAHD adalah keputusan yang sebetulnya mudah. Namun, dalam perjalanannya, tentu ada lika-liku laki-laki beserta segala macam tantangan.

Sebagai suami, selain bersepakat soal peran dengan istri, juga harus dibarengi dengan bersepakat pada diri sendiri, bahwa apapun yang terjadi mesti dinikmati. Dan, jangan…

Baperan.

Berikut ini adalah rangkuman obrolan dengan seorang suami sekaligus bapak beranak satu yang bertukar peran dengan istrinya. Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari responden yang sedang menjalani peran sebagai SAHD, sebab saya tinggal mewawancarai diri saya sendiri.

Mengapa memilih jadi SAHD?

Pada awalnya saya bekerja kantoran juga, seperti suami-suami lainnya. Jadi saya dan istri sama-sama bekerja, sedangkan urusan anak dan urusan rumah diserahkan pada pembantu yang merangkap pengasuh anak.

Baca juga: Pledoi Lelaki yang Mencuci dan Menjemur Baju Sendiri

Sampai kemudian, saya yang gajinya pas-pasan untuk menggaji pengasuh mulai merasa banyak kehilangan waktu bersama anak. Dan berpikir, kalau pun saya tidak bekerja kantoran, saya tidak akan kehilangan apa-apa, karena tidak mesti menggaji pengasuh.

Setelah berdiskusi dengan istri, ternyata istri merasakan hal yang sama. Selama bekerja di kantor, ia selalu khawatir akan anak kami. Meski pengasuh yang kami pekerjakan melakukan pekerjaannya dengan baik, tetapi selalu ada perasaan khawatir karena anak tidak dekat dengan orang tuanya.

Maka, saya dan istri bersepakat, salah satu di antara kami harus ada di rumah menjaga sang anak.

Karena istri saya sedang menanjak kariernya, dan diikuti dengan gaji yang naik seratus persen dari sebelumnya, maka untuk keamanan finansial, istri-lah yang akan fokus pada karier dan pekerjaannya di kantor.

Ditambah lagi, istri memang sangat menikmati pekerjaannya sebagai desainer. Sementara saya, yang mandek secara karier, yang akan mengurus semua hal domestik di rumah.

Berganti peran ini benar-benar didasarkan pada situasi dan kondisi tertentu, dan diprakarsai oleh perasaan tidak enak hati jika membiarkan anak lepas sepenuhnya ke pangkuan pengasuh. Setidaknya salah satu di antara kami ada dan dekat dengan anak.

SAHD ngapain aja di rumah?

Sebelum memutuskan terjun menjadi seorang SAHD, perlu mempersiapkan mental dan pikiran. Berada di rumah sepanjang hari, bukan berarti banyak waktu untuk saya berleha-leha, malas-malasan, atau memanjakan diri.

Tinggal di rumah berarti harus mengelola semua hal, mulai dari berbelanja, bersih-bersih, hingga antar-jemput anak ke sekolah dan istri ke kantor.

Baca juga: Habis Bapakisme, Terbitlah ‘Laki-laki Baru’

Belum lagi harus menyiapkan makanan, sekaligus menjaga, bermain, dan mengajarkan macam-macam hal kepada anak pada saat yang bersamaan. Semua itu bisa saja sangat melelahkan dan menjemukan.

Seorang SAHD berjuang dalam koridor yang sama dengan Stay at Home Mom (SAHM). Setelah anak tidur, malam-malam saya menulis, siapa tahu jadi novel atau artikel berupah. Hehe…

Gak enaknya jadi SAHD?

Kejenuhan bukan tidak mungkin datang. Ketika saya jenuh, saya meluangkan jadwal untuk sekadar bertemu dan mengobrol dengan teman-teman pada akhir minggu. Atau, sederhana saja, jalan-jalan bersama anak dan istri. Jika jenuh datang, memang mesti dipiknikkan.

Justru hal yang paling tidak mengenakan datang dari orang-orang sekitar. Orang-orang yang masih berpikiran bahwa suami harus pergi ke kantor dan istri menunggu di rumah.

Keluarga dekat memang bisa paham setelah ada penjelasan. Namun, orang-orang di luar sana bisa jadi mengernyitkan dahi melihat ketidakbiasaan ini. Terlebih, dalam kultur masyarakat kita.

Dalam bahasa Sunda terdapat peribahasa: “Nyalindung ka gelung”, yang artinya laki-laki yang menumpang hidup pada istri karena istrinya berduit. Peribahasa ini berkonotasi negatif. Tak jarang diucapkan sebagai cibiran.

Bahasa adalah produk budaya, dari peribahasa tersebut bisa dilihat bahwa lingkungan saya tidak menghendaki laki-laki yang tidak berkontribusi dominan dalam hal finansial. Imbasnya, saya sempat minder menjadi SAHD. Merasa terkucilkan dan sering dipertanyakan eksistensinya (baca:profesi).

Memang tidak mudah merekonstruksi nilai sosial yang sudah jadi menara gading. Sampai saat ini, solusinya hanya satu: jangan baperan.

Apa yang orang lain nggak tahu tentang SAHD?

Beberapa orang berpendapat, jika anak tidak lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya, itu tidak baik. Saya pikir akan lebih tidak baik lagi, jika tidak dekat dengan keduanya.

Bahkan penelitian dari negara-negara maju yang sudah tidak begitu rewel dengan urusan peran suami-istri ini, menyimpulkan bahwa seorang ibu masih mampu membentuk ikatan yang kuat dengan anak, meskipun bekerja penuh waktu di luar rumah.

Artikel populer: Pengakuan Lelaki Semenjana tentang Perempuan Cerdas

Studi jangka panjang pun membuktikan bahwa keterlibatan aktif seorang ayah dalam merawat anak sejak lahir hingga remaja, akan meningkatkan keseimbangan emosional anak, meningkatkan rasa ingin tahu anak, dan anak akan memiliki rasa percaya diri yang kuat. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan juga sangat penting dalam mengembangkan empati anak.

Selain itu, SAHD akan menciptakan atmosfer ketenangan bagi ibu yang bekerja di kantor. Ibu akan bebas dari tekanan pengasuhan anak, merasa aman karena anak dijaga oleh suaminya sendiri di rumah. Ketenangan bekerja membuat ibu akan lebih aktif menapaki karier.

Apa yang ingin disampaikan kepada para lelaki di luar sana yang berminat jadi SAHD?

Sebelum memutuskan untuk menjalankan peran sebagai SAHD, harap bersepakat terlebih dahulu dengan istri. Pastikan istri memang ingin bekerja, bukan terpaksa bekerja.

Dan, harus bersepakat dengan diri sendiri bahwa tidak akan keberatan dengan pekerjaan-pekerjaan domestik yang akan dijalani. Jika di tengah perjalanan mulai merasa keberatan, mesti dikomunikasikan kembali dengan istri. Semua berdasarkan kesepakatan bersama, sadar akan pilihan dan konsekuensinya.

Mungkin kita ingat gambar di kaleng biskuit klasik Khong Guan. Sebuah meja makan dikelilingi satu keluarga bahagia yang sedang asyik makan biskuit. Keluarga itu terdiri dari dua anak, satu laki-laki, satu perempuan, dan seorang ibu yang sedang menuangkan air minum dari teko ke cangkir.

Sementara orang-orang ramai bertanya ke mana sang ayah, saya malah bertanya-tanya sendiri, apa mungkin di masa depan nanti gambar sang ibu akan tergantikan oleh sang ayah?

2 COMMENTS

  1. Keluarga kecil saya pun begitu. Suami mencari penghasilan dengan bekerja pada orang tuanya sambil mengasuh anak & saya bekerja d kantor. So far sih ga masalah selama ada saling pengertian… daan berusaha ga baper. 😂

  2. Selamat atas keberanian Anda. Intinya, selama anak dapat perhatian dan gizi yang cukup (dan tumbuh dengan perilaku baik), terserah cara ortu sepakat mengurus rumah tangga bersama. Toh anak lahir juga bukan ‘hasil kontribusi’ istri saja. 😉 Yang nyinyir mending urus aja rumah tangga mereka sendiri.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.