Foto: Disney/Pixar

Sejak didirikan oleh Steve Jobs, mantan CEO Apple Inc, studio animasi komputer Pixar getol melahirkan film animasi dengan ide-ide unik. Namun, kesamaan dari semua film produksi Pixar adalah sama-sama mengangkat tema tentang perasaan dari perspektif tak biasa.

Contohnya, film seri Toy Story yang menceritakan bagaimana jika sebuah mainan memiliki perasaan. Hasilnya, bukan hanya kisah tentang mainan yang bisa hidup ketika tak ada manusia, melainkan gambaran manusiawi tentang kecemburuan dan rasanya diabaikan.

Film Toy Story bukan cuma untuk anak-anak. Menonton jalinan ceritanya, orang dewasa pun bisa terbawa perasaan alias baper. Bagaimana mainan-mainan lama yang merasa terancam dengan kedatangan mainan baru yang lebih canggih. Itu terasa nyata dan bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Perasaan boneka koboi Woody yang ‘dibuang’ oleh sang pemilik karena sudah lewat masanya, seakan mewakili posisi rakyat. Rakyat yang seolah didengarkan suaranya ketika pemilu untuk kemudian diabaikan oleh pemimpin pilihannya setelah menjabat.

Baca juga: Pesan-pesan yang ‘Jleb’ Banget dari Semua Seri Toy Story

Lalu, ada Finding Nemo yang mengajak penonton untuk membedah perasaan seekor ikan. Bagaimana kalutnya ikan badut yang terpisah dengan sang anak karena aktivitas memancing yang dilakukan manusia. Ihwal ikan-ikan di akuarium yang lazim jadi hiasan untuk hiburan manusia. Namun, di film ini para ikan ternyata merasa terpenjara dan ingin kabur ke lautan lepas.

Bu Susi Pudjiastuti sang mantan Menteri Kelautan dan Perikanan jika terlalu baper nonton Finding Nemo, mungkin tak lagi menganjurkan rakyat untuk makan ikan supaya pintar. Yang ada, beliau bisa menjadi vegan dan mengampanyekan gaya hidup vegetarian: makan buah dan sayur, no hewan.

Begitulah dahsyatnya sebuah sudut pandang. Dengan mengambil angle yang pas, film Ratatouille bisa membuat sebuah pengecualian. Kita bisa memaafkan kehadiran tikus (yang terkesan jorok) di dalam dapur restoran, karena tikus itu lebih jago masak dibandingkan koki manusia. Seolah lupa kalau tikus dapat membawa bakteri penyebab penyakit tifus.

Baca juga: Ceritakanlah kepada Anakmu bahwa ‘Frozen’ adalah Dongeng tentang Ratu Independen

Animasi Disney Pixar tak hanya cukup dengan mengeksplorasi tentang hewan (serangga, ikan, tikus, anjing, dan dinosaurus) serta benda mati (mainan, mobil, dan robot) yang memiliki perasaan. Monster, orang mati, dan makhluk mitologi juga turut digali perasaannya.

Bahkan perasaan tentang ‘perasaan’ itu sendiri bisa dijadikan premis cerita dalam film animasi berjudul Inside Out. Bagaimana Sadness (kesedihan) merasakan kesedihannya, Anger (amarah) ngamuk-ngamuk, dan Joy (kesenangan) menyebarkan toxic positivity kayak politisi.

Baru-baru ini, Disney Pixar merilis film berjudul Soul di aplikasi streaming karena sebagian besar bioskop tutup selama pandemi. Soul punya vibe yang sama dengan Coco yang mempresentasikan alam barzakh. Bedanya, Soul mengambil latar kebalikannya, yaitu alam ruh sebelum jiwa-jiwa manusia diturunkan ke bumi.

Bisa dibilang Soul berbicara tentang perasaan sesosok jiwa yang belum dilahirkan ke dunia. Adalah 22, jiwa yang enggan turun ke bumi. Dari namanya, harusnya ia sudah turun ke bumi pada urutan awal peradaban manusia, kira-kira pada zaman Nabi Adam hidup.

Baca juga: Andaikan Cerita The Lion King Berlatar Alam Liar Nusantara

Jika ada yang pernah bertanya mengapa sewaktu di alam ruh, manusia setuju-setuju saja untuk menjalani kehidupan, padahal kehidupan itu keras ketika dijalani? Nah, 22 adalah anomali itu. Sebelum turun ke bumi, ia baca term & condition dan tak mau menandatanganinya. Seperti pengguna WhatsApp yang tak langsung setujui kebijakan baru soal privasi.

Bagi 22, hidup tak menarik. Ia betah di alam ruh. Ditambah, ia belum menemukan passion yang jadi tujuan hidupnya kelak. Sebab peraturan di alam ruh, sesosok jiwa tidak bisa mendapat paspor masuk ke bumi sebelum menemukan passion untuk tujuan hidup.

Namun, Pixar tidak seperti motivator kebanyakan yang mengkultuskan passion. Biar tidak toxic positivity, Pixar menebarkan nilai positif bahwa passion bukanlah segalanya.

Dihadirkanlah figur tukang cukur yang sangat mencintai pekerjaannya. Belakangan diketahui bahwa menjadi tukang cukur bukanlah impian pertamanya. Bekerja tak sesuai passion bukanlah hal buruk selama kamu bisa mencintai pekerjaan itu. Selama kamu bisa hidup dari situ.

Dengan tokoh utama seorang musisi berkulit hitam bernama Joe Gardner, Pixar tampaknya ingin turut mengampanyekan Black Lives Matter. Joe diceritakan mengalami kecelakaan dan mati suri. Namun, jiwanya tak mau menyeberang ke alam baka.

Artikel populer: Cara Mengalahkan Annabelle Selain dengan Agama

Lalu, Joe menjadi mentor untuk jiwa bernama 22 yang belum dilahirkan. Singkat cerita, Joe tak sengaja tukar jiwa dengan kucing. Sementara, 22 mencicipi kehidupan dengan menggunakan raga Joe. Membuat 22 bisa menemukan tujuan hidup ketika menjalaninya. Ternyata, menjalani kehidupan itu sendiri termasuk tujuan hidup.

Pungkasnya, Joe diberikan kesempatan kedua untuk hidup lagi. Lihat, Pixar telah memperjuangkan hidup seorang kulit hitam dengan melibatkan plot yang berliku. Tanpa perlu demo berjilid-jilid.

Pada saat film animasi luar negeri mengangkat isu rasialisme, film animasi Nussa yang notabene karya anak bangsa justru menimbulkan polemik. Seorang pegiat media sosial mempermasalahkan baju Nussa yang diklaim model gurun pasir. Menurutnya, dari dulu anak muslim Indonesia sarungan. Yah, sama seperti orang Myanmar yang hobi pakai sarung.

Dengan ini, film Nussa punya kesamaan dengan film animasi Disney Pixar, yaitu bikin baper orang dewasa. Bedanya, yang satu baper karena ceritanya. Sementara yang lain belum nonton tapi udah baper, hanya karena preferensi politiknya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini