Menemukan Pesan Penting Lainnya dari Seorang Sartre yang Ternyata Relevan dengan Kita

Menemukan Pesan Penting Lainnya dari Seorang Sartre yang Ternyata Relevan dengan Kita

Ilustrasi (Joel Schreck via Pixabay)

Saat membaca novel Jean-Paul Sartre yang berjudul Nausea dan mencoba menyelami pikiran Antoine Roquentin, saya berusaha untuk mencari pesan utama dari seorang Sartre.

Walaupun beberapa resensi menjelaskan bahwa novel ini berbicara tentang eksistensi manusia, saya tak ingin langsung menerima tanpa melewati proses pengalaman pribadi. Hingga belakangan ini, saya menemukan satu pesan penting dari banyak hal yang dapat kita pelajari dari novel itu.

Kira-kira seperti ini. Bagi Sartre, manusia atau orang lain selain dirinya itu bisa menjadi neraka (hell is other people). Namun, pandangan sebenarnya pun akan memperlihatkan bahwa manusia adalah keangkuhan yang tetap terjaga.

Selama seseorang menyebut orang lain sebagai neraka, pada saat bersamaan dirinya pun tak jauh berbeda dengan orang yang disebutkan. Bagaimana seorang Sartre tak merasa mual, jika melihat manusia dengan cara seperti itu?

Disadari atau tidak, pemikiran Sartre tidak lahir begitu saja. Tokoh utama dalam novel Nausea bisa saja cerminan dirinya yang terus mengamati dan berkeras untuk memahami suasana sekitarnya.

Jika kita mampu mengutuk diri sendiri, mungkin kehidupan tak akan disesaki pikiran merasa benar sendiri. Sebaliknya, pikiran yang sempit malahan bisa menjadi sumbu dari kehancuran yang akan menyala.

Memandang diri sendiri dengan fokus penuh seperti itu, akhirnya menggiring kita pada titik hilangnya empati. Tak jarang, kita temui banyak orang yang berlomba-lomba memperlihatkan dirinya sendiri di media sosial.

Semua terpampang jelas di media sosial. Semakin tampak jelas bahwa empati – kemampuan kita memahami rasa orang lain – sepertinya pudar. Kemungkinan paling buruk, empati kita sebenarnya telah mati.

Baca juga: Plus Minus Mencintai Pasangan Ala Marx dan Sartre

Berbicara soal empati, rasa dari jiwa seseorang akan menjadi kunci utama. Kepekaan itu tentu saja tidak hadir begitu saja, melainkan terbentuk dari proses yang berbeda-beda.

Saya kadang belajar dari beberapa orang teman yang senang menikmati sambel. Ada beberapa teman yang saking seringnya menikmati sambel, butuh pedas level tinggi agar makannya terasa pedas.

Jika bukan di level tinggi, sambel itu mungkin hilang rasa atau tak lagi pedas sama sekali. Mereka butuh pedas level tinggi hingga akhirnya rasa yang dia inginkan pun mencuat.

Tentu saja, lidahnya telah terlatih mengecap rasa pedas dalam waktu yang cukup lama. Dan, pada level tertentu, dia mampu tak merasakan pedas, jika tingkatannya biasa-biasa saja.

Nah, bagaimana jika pedas itu adalah fokus utama kita pada diri sendiri? Semakin tinggi peduli kita dalam memandang diri sebagai yang maha utama, semakin kebal pula ketidakpedulian kita pada usaha untuk memandang orang lain. Boleh jadi, kita perlahan membiarkan empati kita memudar.

Belajar dari Sartre, saya coba meminjam pandangannya terhadap manusia. Dan, betapa sulitnya memikirkan manusia sebagai sosok yang menyedihkan.

Baca juga: Ada Pemikiran Besar dalam Lirik Lagu Via Vallen, dari Camus Hingga Sartre

Belum lama ini, setelah terjadi bencana alam, berbagai aksi kemanusiaan seakan menjamur. Sebuah tindakan yang positif tentunya. Namun, mari kita melihat dengan ilustrasi tingkat rasa pedas yang saya ceritakan sebelumnya.

Gerak memberikan bantuan hanya hadir setelah bencana alam sebagai rasa pedas level tinggi, membuat kesadaran mereka tersentuh. Apakah perilaku itu didasari atas kesadaran (being for itself) atau tanpa kesadaran (being in itself)?

Pertanyaan itulah yang Sartre seringkali ungkapkan dalam kepalanya sendiri atau beberapa karya yang dia hasilkan.

Bukan tidak mungkin, bila beberapa orang atau kelompok hanya melakukan tindakan bantuan itu tidak didasari dengan kesadaran utuh. Jika demikian, itu juga bisa menjadi pertanda bahwa masyarakat kita mungkin bermasalah dengan empati.

Terlepas dari bencana alam di beberapa daerah, sudah semestinya kita bisa memperlihatkan perilaku menolong yang lebih dan tidak hanya menjadi musiman saat terjadi bencana besar.

Masih banyak anak putus sekolah, orang-orang tergusur, fakir miskin, dan keadaan lain untuk melakukan hal yang sering kita sebut sebagai usaha untuk kemanusian. Sayangnya, nilai kemanusian hanya dikaitkan dengan bencana alam.

Tanpa disadari, kita mungkin tengah menghadapi bencana empati di tengah masyarakat kita hari ini.

Artikel populer: Remaja di Amerika Kritis-kritis, Indonesia kok Tidak?

Andaikan saja, beberapa orang ingin menghidupkan atau menyelamatkan empati masing-masing, penelitian psikologi menemukan sebuah langkah yang patut dicoba.

Psikolog sosial David Kidd dan Emanuele Castano merancang penelitian dengan membagi sejumlah partisipan dan memberi mereka tugas bacaan yang berbeda: bacaan populer, sastra, non-fiksi, dan tidak ada bacaan sama sekali.

Setelah mereka menyelesaikan bacaan itu, para partisipan melakukan tes untuk mengukur kemampuan mereka dalam memahami pemikiran dan perasaan orang lain. Hasilnya, tim peneliti menemukan bahwa perihal empati, terdapat perbedaan signifikan antara pembaca sastra dan yang bukan sastra.

Melalui sastra, pembaca mampu menghayati kondisi sejumlah karakter secara psikologis. Ada pula tokoh yang digambarkan secara samar-samar, tanpa penjelasan yang pasti. Itu memungkinkan pembaca untuk berpikir.

Kondisi inilah yang memberikan ruang pembaca untuk membawa kesadaran psikologis tokoh ke dalam dunia nyata, melawan kehidupan yang rumit dan batin yang sulit dipahami. Secara tidak langsung, hal itu mendukung seseorang untuk memahami perasan orang lain.

Maka, terkutuklah kita bila tak mampu memahami orang lain, atau mungkin inilah alasan Sartre merasa mual pada manusia atau dirinya sendiri.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.