Mending Mana sih, Budak Cinta atau Budak Korporat?

Mending Mana sih, Budak Cinta atau Budak Korporat?

Ilustrasi (A. L. via Unsplash)

Meski masa perbudakan sudah berakhir berabad-abad lalu, kata budak nyatanya masih digunakan hingga masa kini. Di Indonesia, kata budak sering kali disandingkan dengan dua kata ini: cinta dan korporat.

Budak cinta acap kali disingkat ‘bucin’, sebuah istilah yang sesungguhnya multitafsir. Bisa budak cinta, bisa juga budak micin, atau malah dua-duanya.

Sementara itu, budak korporat tidak disingkat, tetapi sering dialihbahasakan menjadi corporate slave. Istilah tersebut juga tampaknya lebih banyak digunakan oleh para pekerja di ibu kota.

Kalau di daerah, gimana mau jadi corporate slave, korporasinya aja nggak banyak. Bahkan, ada daerah yang nggak ada korporasinya. Hehehe.

Istilah budak cinta biasanya dialamatkan seseorang kepada insan-insan cah cinta yang gemar mengunggah kemesraan di media sosial, baik dalam bentuk postingan Instastory, screenshot percakapan WhatsApp atau video call, hingga postingan foto pasangan maupun foto berdua dengan frekuensi yang cukup sering. Sehari lima kali, misalnya.

Berbeda dengan bucin, budak korporat biasanya merupakan istilah yang digunakan seseorang untuk menyebut dirinya sendiri. Ciri khas kontennya antara lain Instastory kerja di hari libur, kerja lembur, hingga perjalanan dinas ke luar kota.

Baca juga: Kelas Pekerja dalam Karya Satire Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Postingan tersebut dilengkapi dengan caption bernada sambatan, seperti “kalau gini terus kapan liburnya?”, “lembur lyfe”, “apa itu libur?”, “work work work” ditambah tagar #corporateslave. Namun, dalam keluhannya, tersirat juga rasa bangga. Entah kebanggaan atas apa.

Jadi, kalau bucin merupakan julukan dari orang lain, bukor lebih sering menjuluki diri sendiri.

Saya sebenarnya nggak termasuk kedua golongan tersebut. Meski punya kekasih, ehm, sangat jarang mengunggah Instastory apalagi postingan bersamanya.

Instastory dengan pasangan biasanya saya unggah ketika momen penting, misalnya ketika ia berulang tahun. Itu pun baru sekali. Namun, dengan intensitas yang rendah itu saja, beberapa netizen menjuluki saya bucin atau menye-menye.

Instastory puisi, bucin. Posting cerita romantis, bucin. Halaaah bucan bucin bucan bucin. Biasanya sih hanya membalas itu dengan emoji love atau bunga, biar semakin terverifikasi status bucinnya. Hehehe.

Soal menye-menye, kalau yang dimaksud adalah menyenangi sifat romantis, suka membaca cerita dan puisi cinta, serta mencoba untuk menulis keduanya sekali waktu, itu sih sudah sejak zaman masih jomblo. Tapi kamu suka kan? Lemesin aja.

Baca juga: Jatuh Cinta kok Hitung-hitungan, Itu Hati atau Kalkulator?

Dan, meski sering sambat soal pekerjaan, saya juga bukan tipe pekerja yang mau lembur, apalagi tidak dibayar. Kalau sudah KPI, ya pulang. Kalau bisa tenggo, ngapain lama-lama di kantor?

Jika melansir dari KBBI Kemdikbud, ada dua arti kata budak. Pertama, anak; kanak-kanak. Kedua, antek; hamba; jongos; atau orang gajian.

Tentu yang dimaksud dalam tulisan ini adalah arti yang kedua, dan lebih merujuk ke hamba atau jongos. Praktik-praktik perbudakan di seluruh dunia menunjukkan bahwa seorang budak bekerja tanpa dibayar, tanpa apresiasi apapun termasuk jaminan kesehatan dari BPJS, dan nggak bisa resign kecuali ingin dibunuh.

Jadi sebenarnya kalau kamu kerja masih dibayar, itu belum masuk kategori budak. Lembur nggak dibayar, itu masih setengah budak.

Dengan mendaku diri sebagai corporate slave, kamu menyepelekan perjuangan budak yang sesungguhnya, yakni mereka yang ingin merdeka dari kuasa majikan dengan nyawa sebagai taruhannya.

Balik lagi soal budak cinta. Mari kita mencoba membedah perilaku orang yang sedang jatuh cinta. Untuk usia remaja hingga dewasa awal, kisaran 15-21 tahun, memang banyak yang rela diperbudak oleh cinta, eh, orang yang dicintainya.

Baca juga: Plus Minus Mencintai Pasangan Ala Marx dan Sartre

Contoh paling gampang, cowok rela nganterin pembalut dari wilayah Unnes ke Tembalang pukul 02.00 dini hari demi gebetan, yang akhirnya nggak jadi pacar. Kisahnya viral di Instagram @nantikitasambattentanghariini, meski namanya masih disembunyikan. Semangat, mas!

Contoh lain, ketika cewek mau repot memasak karena gebetannya mengirim kode mengeluh nggak pernah bisa menemukan masakan yang bergizi enak di sekitar kos-kosan. Padahal, buat makan sendiri aja si cewek lebih sering beli, misalnya lho ya. Sudah begitu, masnya ternyata malah makan malam di restoran mewah dengan cewek lain yang kaya dan suka traktir.

Pertanyaannya, apakah benar dua contoh tersebut dapat melegitimasi status mereka sebagai budak cinta? Sepertinya tidak.

Soalnya, ketika mengerjakan sesuatu untuk orang lain, dalam hal ini majikan, budak berada dalam keadaan terpaksa/dipaksa/ditekan. Kalau nggak mengerjakan, ia bisa kena hukuman, keselamatan jiwanya terancam. Mau tidak mau ia harus melakukan perintah majikan, sekejam apapun itu.

Nah, kalau dua contoh tadi, kan sebenarnya mereka memang ‘mau-mau aja’ alias ikhlas menjalankan aksi membeli pembalut dan mengantarkannya sejauh 11 kilometer naik turun gunung, juga memasak agar orang yang dicintainya bisa makan bergizi dan enak. Itu sih namanya cinta bertepuk sebelah tangan.

Artikel populer: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Lantas, bagaimana dengan orang yang saling cinta dan usianya sudah lewat 21 tahun? Mereka yang sudah memasuki usia ini lebih sadar bahwa cinta itu bukan hanya soal perasaan deg-degan, grogi, atau gemetar setiap ketemu doi. Sebab mencintai adalah kata kerja, maka dibutuhkan komitmen untuk terus menjaga orang yang dicintai dengan cara-cara yang baik dan berkesinambungan.

Ketika melihat orang yang dicintai bahagia, kita juga bahagia. Kategori orang yang dicintai bukan hanya pasangan, tetapi juga keluarga dan sahabat, yang kita tahu juga mencintai kita sebagaimana kita mencintai mereka, meski terkadang caranya berbeda-beda.

To love and being loved, gitu kira-kira penggambarannya. Untuk orang-orang yang mencintai dan dicintai pada saat bersamaan, pengorbanan yang dilakukan sudah bukan berkorban lagi namanya, karena dilakukan secara sukarela dan membuatnya bahagia. Secara bersamaan juga merupakan tindakan self-love. Kalau sukarela, berarti bukan budak.

Hayo, jangan-jangan, orang-orang yang selama ini dijuluki bucin merasa baik-baik saja dan tidak membudakkan diri ke orang yang dicintai. Kalau sudah begini, mending mana, bucin atau bukor?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.