Kalau Sekarang Bicara Papua, Apakah Kau Masih Mau Mendengar?

Kalau Sekarang Bicara Papua, Apakah Kau Masih Mau Mendengar?

Ilustrasi (Istimewa/beritasatu.com)

Papua…

Lagi-lagi, nama itu kembali tenggelam dalam keriuhan di tanah Jawa, terutama Jakarta. Padahal, baru kemarin nama Papua dibawa-bawa untuk mengkritik pemerintah terkait kasus gizi buruk di Asmat. Masihkah kau ingat Papua?

Jika memang tidak, tak mengapa. Mungkin nanti saat pilpres atau ribut-ribut soal saham Freeport, kamu akan ingat kembali nama Papua. Nah, kalau kamu sedang mendadak ingat Papua, cobalah bicara pendidikan. Itupun kalau berminat.

Tapi katanya kau terpelajar, yang bersetia pada kata hati, kalau kata mbah Pram. Bukan setia pada afiliasi atau kepentingan politik praktis tertentu.

Masalah pendidikan di Papua itu berat. Ini bukan gombalan, karena kenyataannya memang demikian. Pendidikan formal, terutama di daerah-daerah yang sulit diakses atau yang masuk wilayah pemekaran kabupaten, bisa dibilang masih jauh panggang dari api. Siapa yang manggang, siapa yang menikmati.

Di beberapa daerah, terutama yang terpencil, bangunan sekolah memang berdiri melindungi anak-anak dari panas dan hujan saat proses belajar mengajar. Namun, bagaimana dengan tenaga pengajar? Ini yang masih menjadi masalah.

Kalau Jakarta sibuk mengurus bagaimana mengelola anggaran negara agar tidak defisit, Papua masih berkutat dengan masalah defisit tenaga pengajar. Padahal, kata orang, tanah Papua itu kaya, emas berlimpah, tapi kok defisit? Apa perlu Papua mengimpor tenaga pengajar dari Finlandia? Eh tapi, emasnya mana?

Sekadar informasi saja – mengingat orang yang katanya mau datang ke Papua tapi nyatanya tak juga kunjung datang – ada guru yang terpaksa mengajar untuk beberapa kelas. Bahkan kepala sekolah pun sering ikut mengajar.

Sebetulnya tak cuma tenaga pengajar, Papua juga tidak memiliki perlengkapan untuk menunjang aktivitas di sekolah, seperti perlengkapan olahraga dan kesenian. Apakah karena anak-anak Papua sudah sehat-sehat karena setiap hari harus jalan berkilo-kilo menuju sekolah? Yah, nggak gitu juga kali…

Beberapa sekolah juga tidak seramai di kota besar, karena memang lokasinya jauh. Tapi, apa iya, juga jauh dari listrik yang menyala selama 24 jam? Apa iya, listrik juga enggan menyapa? Jika pelita bagi kalian adalah nyanyian hati, maka bagi kami adalah makanan sehari-hari.

Itulah mengapa saya atau mungkin warga Papua, bangga dengan bapak dan ibu guru yang mau datang dan mengajar di daerah-daerah terpencil. Yang mau hidup jauh dari hingar-bingar kehidupan kota. Yang kadang susah sinyal ketika ingin menyampaikan kabar. Yang tetap mengajar, walaupun hanya segelintir anak yang masuk kelas.

Bapak dan ibu guru adalah panutan sepanutan-panutannya karena mau bertahan sampai melihat adanya kemajuan pada anak didiknya. Mau melewati perjalanan panjang melintasi medan yang sulit, demi menyapa dan mengajar anak-anak Papua, calon generasi muda yang kelak bisa diandalkan oleh negara ini. Ya betul, negara bernama Indonesia.

Bisa dibayangkan, terutama saat musim hujan, setidaknya bisa menghabiskan waktu setengah hari perjalanan untuk mencapai pelosok. Itu karena jalan yang menjadi lumpur dan sulit untuk dilewati dibandingkan pada musim panas yang dapat ditempuh selama tiga-empat jam dari kabupaten.

Kalau ke tempat kami, lain cerita. Butuh waktu tujuh jam menggunakan kapal laut. Sedangkan kendaraan beroda empat bisa menempuh perjalanan selama enam-tujuh jam. Itupun harus melewati jalan yang berliku mirip kisah cintamu yang tak pernah selesai.

Jadi bagaimana kaka, mau datang ke Papua, nggak?

Oh ya, ini ada salam untuk kaka…

“Hai kaka, tidak mau berbagi ilmu dengan kitong kah?”

“Tidak mau lihat kitong yang dari daerah terpencil ini pintar kah?”

“Masa iya, kaka dorang mau berbagi ilmu dengan kitong punya teman-teman di kota sana, baru kaka dorang tidak mau berbagi ilmu dengan kitong yang di daerah pelosok ini?”

“Kitong juga mau pintar kaka, kitong juga ingin punya ilmu yang baik.”

“Kaka, sa bangun pagi-pagi sa harus bantu sa punya mama di dapur trus nanti sa pergi sekolah. Pulang sekolah baru sa bantu sa punya bapa di kebun.”

“Biar kata sa harus bekerja bantu sa punya orang tua sebelum sa berangkat ke sekolah ataupun pulang sekolah, tapi sa pu semangat untuk belajar sangatlah besar, kaka.”

Betul, semangat belajar dari anak-anak yang tinggal di daerah terpencil begitu tinggi. Kenapa tidak mendorong semangat itu agar semangat itu tetap membara? Bukankah itu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanah UUD 1945, undang-undang yang katanya bikin nasionalisme mendidih?

Kalian pasti tak ingin kami menjadi generasi yang tertinggal, kan? Katanya kami juga bangsa Indonesia, setidaknya itu yang kami dengar ketika semua orang ribut membicarakan Papua, terutama kalau menjelang pilpres, pilkada, atau Freeport!

1 COMMENT

  1. Tulisan yang menarik mba, sebenanya bangsa Melanesia rakyat Papua ini hanya bisa membangun dirinya sendiri. Sampai saat ini orang Papua sendiri memiliki dua nasionalisme dan ini sangat susah untuk perkembangan kemanusiaan dan pembangunan, apa lagi anak mudah sekarang gencar membicarakann aspirasi untuk merdeka, ini karena sejarah Papua dianeksasi ke dalam NKRI adalah persoalan yang harus diselesaikan secara terbuka, jika tidak sampai kapanpun Papua akan begini-begini saja, faktanya bisa dilihat sampai sejak aneksasi Papua tetap miskin, bodoh, dan tra maju2 daerahnya ini terjadi karena persoalan politik kepentingan di Papua.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.