Menaklukkan Ratu Ilmu Hitam dengan Ilmu Sosial dan Teknik Sipil

Menaklukkan Ratu Ilmu Hitam dengan Ilmu Sosial dan Teknik Sipil

Poster film Ratu Ilmu Hitam (Rapi Films/Caravan Studio)

Kali pertama melihat poster promo film Ratu Ilmu Hitam yang naskahnya ditulis oleh Joko Anwar, saya langsung berdecak kagum. Wow. Film garapan Kimo Stamboel ini terbilang boros dalam anggaran pemain.

Proyek adaptasi dari salah satu koleksi film Suzzanna dengan judul yang sama ini bisa mengumpulkan para aktor dan aktris kelas “A” dalam satu panggung. Dikolaborasikan dengan para bintang muda berbakat. Sebut saja Zara JKT48 atau Adhisty Zara yang memerankan tokoh Dara di Dua Garis Biru. Ditambah Ari Irham yang dikenal sebagai Mas Kulin dari film adaptasi Webtoon Terlalu Tampan. Lantas, masih ada Muzakki Ramdhan si Sancaka kecil dalam film Gundala.

Bayangkan, Dara, Mas Kulin, dan Sancaka berada dalam satu keluarga. Mereka adalah anak-anak dari pasangan suami-istri yang diperankan Ario Bayu dan Hannah Al Rashid. Ario Bayu pernah jadi kepala negara dalam film biopik Soekarno. Di film Ratu Ilmu Hitam, ia menjadi kepala keluarga bernama Hanif.

Pada suatu kesempatan, Hanif mengajak istri dan ketiga anaknya untuk mengunjungi panti asuhan yang dulu menampungnya. Pak Bandi yang empunya panti asuhan sedang sakit keras. Sekaratnya Pak Bandi seperti sekaratnya ketua geng di film Bebas (adaptasi film Korea Selatan berjudul Sunny). Sekarat yang mengundang reuni.

Baca juga: Cek Seberapa Dononya Abimana di Film Gundala

Selain Hanif dan keluarga, hadir Anton dan Jefri beserta masing-masing istri. Dulu, ketiganya sama-sama anak panti yang dirawat Pak Bandi. Namun, reuni tersebut justru jadi awal malapetaka.

Mengikuti ruh film aslinya, Ratu Ilmu Hitam mengusung tema balas dendam pakai trik-trik klenik. Dengan kekuatan metafisika yang ditunjang teknologi CGI, Ratu Ilmu Hitam meneror setiap tokohnya. Namun, teknik computer-generated imagery-nya masih kurang halus. Mungkin karena anggaran editing ditekan dan dialihkan untuk bayar pemain.

Dibandingkan dengan film Ratu Ilmu Hitam versi Suzzanna yang tayang tahun 1981, film remake ini masih belum bisa membuat penonton benar-benar percaya bahwa kelabang dan segala binatang ilmu hitam yang digunakan sebagai properti adalah asli. Sehingga, teror Ratu Ilmu Hitam di sini masih bisa ditangkal dengan kesadaran bahwa semua itu editan dan pemainnya pura-pura kesakitan.

Lagipula, jika para anak-anak di film ini masih terbawa dengan karakter di film sebelumnya, Ratu Ilmu Hitam bisa ditaklukkan dengan kekuatan dan kelebihan dari masing-masing tokoh.

Baca juga: Cara Mengalahkan Annabelle Selain dengan Agama

Dimulai dari Ari Irham yang pernah jadi Mas Kulin si anak SMA yang terlalu tampan. Mas Kulin bisa membuat beberapa cewek mendadak mimisan demi melihat ketampanannya.

Dengan ketampanannya, Mas Kulin juga sempat menggegerkan sekolah khusus putri. Karena tak kuat melihat cowok yang terlalu tampan, para murid ceweknya terserang kesurupan massal. Bahkan, sampai ada yang kesurupan sambil kayang.

Logikanya, jika ketampanan seorang Ari Irham bisa membuat manusia kesetanan, tidak bisakah membuat efek kebalikannya? Setan di film horor yang melihat ketampanan Ari Irham tiba-tiba jadi kerasukan manusia alias kemanusiaan. Sehingga, kelakuannya jadi manusiawi. Kalau sudah humanis begitu, ya tidak bakal meneror orang.

Lalu, masih ada Muzakki Ramdhan sang pemeran Sancaka kecil. Di film Gundala, Sancaka kecil ini bisa menyetrum orang-orang dengan kekuatan petir terpendamnya. Kekuatan ini sangat berguna untuk melawan Ratu Ilmu Hitam. Khususnya, untuk membasmi binatang seperti kelabang yang jadi senjata andalan sang antagonis.

Baca juga: Seandainya Maya ‘Perempuan Tanah Jahanam’ Curhat tentang Rahasia Tergelap Keuangannya

Jika tidak bisa dilawan menggunakan ilmu petir, cobalah menggunakan ilmu putih. Tak lain dan tak bukan, pakai kapur ajaib anti-serangga yang terkenal bagus nan efektif mengusir serangga itu. Dilanjutkan dengan menutup celah-celah munculnya sang kelabang, misalnya sela-sela nat keramik yang berlubang. Tambal tuh bolong-bolongnya pakai semen putih. Barangkali bakalan ampuh. Ilmu hitam ditangkis pakai ilmu sipil.

Namun, ketika semua cara di atas sudah dilakukan, tapi belum berhasil juga, berarti waktunya untuk menyelesaikan masalah dengan diskusi. Antagonis di sini adalah seorang perempuan, terpampang jelas dari judulnya yang pakai embel-embel “Ratu”. Jangan lupakan peran Zara yang sukses memerankan sosok Dara si pelajar yang hamil di usia dini dalam film Dua Garis Biru. Ingat, dia adalah penyintas dari lingkungan yang misoginis.

Selama film, Zara sibuk tebar pesona kepada salah satu cowok penghuni panti sambil main biliar. Daripada nanti malah terulang kembali pengalaman bersama Bima (Angga Yunanda), mending langsung beralih ke karakter Dara. Lalu, bernegosiasi dan berdiplomasi dengan Ratu Ilmu Hitam.

Artikel populer: Seandainya Bima dan Dara Anak Twitter, lalu Bikin ‘Thread’ 18+

Dengan pengalamannya, Dara bisa mengajak sang ratu untuk bicara baik-baik secara empat mata, dari hati ke hati. Sebagai sesama perempuan yang sama-sama jadi korban kejamnya patriarki. Dengan bacot no jutsu ala Naruto, Dara melancarkan serangan verbal.

“Mak Ratu, kenapa sih harus balas dendam dengan cara seperti ini? Ilmu hitam bukan penyelesaian, Mak. Aku tahu Mak Ratu menyimpan luka lama dari masa lalu. Aku juga pernah mengalami nasib buruk seperti Mak Ratu. Kita sama-sama menghuni dunia yang tidak ramah dengan perempuan. Namun, yang kita butuhkan adalah gerakan sosial. Perempuan bersatu meruntuhkan diskriminasi gender. Menghukum pelaku dengan hukum yang berpihak kepada korban. Itulah yang dinamakan keadilan. Tidak perlu bantuan sihir, Mak Ratu. Bisa minta bantuan LBH (Lembaga Bantuan Hukum).”

Jika diplomasi Dara berhasil, Ratu Ilmu Hitam akan bertransformasi menjadi Ratu Ilmu Hukum Pidana. Ikutan menolak Revisi KUHP dan mendorong pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS).

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.