Memilih Pasangan Hidup Menggunakan Asas Pemilu

Memilih Pasangan Hidup Menggunakan Asas Pemilu

Ilustrasi (Radu Florin via Unsplash)

Menjelang pemilu, hari-hari terasa begitu gaduh semarak. Tak di jagat maya, tak di jagat nyata, ajakan untuk memilih wakil rakyat dan capres ‘muncrat’ di mana-mana.

Dari baliho digital hingga baliho ala MMT lima belasan ribu per meter perseginya yang tertempel mesra di tiang listrik, atau tempat-tempat strategis seperti perempatan para ABG nongkrong.

Bahkan, banyak orang yang ditengarai menjadi juru kampanye dadakan. Berusaha meyakinkan bahwa pilihannya adalah pilihan yang paling pas untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Asyikk.

Kita pun bisa menikmati debat kandidat presiden bak menyaksikan pertandingan final Piala Dunia. Nobar digelar sebagai wujud dukungan nyata kepada capres pilihannya. Semarak luar biasa. Bahkan, penonton debat lebih ramai ketimbang para peserta debat itu sendiri.

Dan, ah sialnya, ketika pemilu yang saya ingat malah bukan visi misi atau program-program yang disampaikan para kandidat selama masa kampanye. Yang selalu saya ingat adalah hukum dasar atau asas pemilu.

Baca juga: Macam-macam Gaya Mencoblos Berdasarkan Film Favorit

LUBER JURDIL. Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Asas Luber sebetulnya ada sejak zaman Orde Baru, meski kita tahu nggak Luber-luber amat. Kemudian, pada era reformasi, berkembang asas Jurdil.

Namun, asas Luber Jurdil tampaknya berlaku hanya pas hari pencoblosan saja. Andaikan itu berlaku tak hanya pada hari H, alangkah sepinya negara ini. Hampir-hampir tidak ada juru kampanye dadakan. Karena, setelah para kandidat ditetapkan oleh KPU, rakyat merahasiakan pilihan mereka sampai hari pemilihan.

Itulah wujud kebebasan bagi rakyat. Bebas menentukan dan merahasiakan pilihan. Itu datang langsung dari lubuk hati yang terdalam. Antara hatimu dan hatiku, aihh..

Dan, tentu saja semua rakyat mendapatkan kesempatan yang sama untuk melakukannya sebagai wujud keadilan, sehingga pemilu benar-benar bisa dijalankan dengan mengemban amanah berakar kejujuran.

Tetapi sepertinya tidak mungkin. Kita justru suka merayakan dan meramaikan sesuatu. Makin berisik, makin asyik. Makin berbusa, makin disuka.

Baiqlaa… Agar tidak mubazir, kita gunakan saja asas pemilu yang Luber Jurdil itu untuk memilih pasangan hidup. Nggak semua asas nggak apa-apa. Mau coba?

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Langsung

Langsung datangi orang tuanya atau sanak saudaranya yang menjadi wali. Temui. Tembusi. Utarakan maksud hati. Bahwa saya mencintai anak Anda. Bolehkah saya menikahi anak Anda?

Jika jawabannya tidak boleh, tenang saja. Asas langsung masih bisa berlaku, kok. Langsung pulang putar haluan dan cari yang lain saja, maksudnya. Wqwq..

Ih, kok kesannya gampang banget ya? Kayak punya anti-biotik untuk mengobati rasa kecewa dan sakit hati saja. Tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba, kan? Semoga beruntung!

Umum

Siapapun warga negara Indonesia yang ingin melamar pujaan hatinya memiliki kesempatan yang sama. Lantas, kalau terjadi dua orang mencintai satu orang yang sama, gimana? Itu namanya cinta segitiga, kisanak. Terus, kalau ada empat orang mencintai satu orang yang sama? Itu cinta segilima, kok masih nanya?

Eh tapi, kalau kebalikannya gimana? Satu orang mencintai bahkan menikahi empat orang? Ah, itu namanya tidak memberikan kesempatan yang sama kepada orang lain. Tidak sesuai dengan asas ini. Paham?

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Bebas

Bebas memilih, bebas juga tak mau dipilih. Ini tak seperti para caleg yang maunya hanya dipilih. Sebab orang yang kamu taksir juga berhak untuk tidak mau dipilih.

Yah, meski kamu selalu jadi korban “maaf, kita temenan aja, kamu terlalu baik buat aku”. Mohon sabar, ini ujian. Jodoh nggak ke mana. Iya sih, tapi kalau kamu nggak ke mana-mana, entah ada di mana. Yhaa…

Rahasia

Ini yang agak sulit. Cinta tetap harus diwujudkan, meski tak sempat terkatakan. Meski awalnya dirahasiakan, tetapi pada akhirnya dia harus tahu rahasia hatimu. Supaya nggak keduluan orang.

Kalaupun hubungan harus dirahasiakan, macam seleb aja neh, tetapi pada saatnya tetap harus diresmikan. Dihalalkan, bahasa religiusnya. Halalin aku, Bang… Makan daging sapi pakai sayur kol. Maaf, hanya sekadar mengingatkan.

Artikel populer: Akibat Terlalu Sering Bilang “Maaf, Sekadar Mengingatkan”

Jujur

Katakan sejujurnya bahwa kamu mencintainya. Perkara ditolak, sudah biasa. Di planet Bumi ini, jumlah manusia yang pernah ditolak mungkin lebih besar daripada yang mulus-mulus saja saat menembak gebetan.

Jadi, tenang saja. Verifikasi tak disetujui, jangan kendor diri. Akutu gak sediii… Berbenah diri, jangan hanya menuruti kemauanmu sendiri. You’ll never walk alone. Sudah tahu siapa juaranya, dong?

Adil

Adil terhadap suara hatimu sendiri. Mencintai dengan kadar yang pas. Supaya tidak posesif, tapi juga nggak cuek-cuek amat. Waktumu tak hanya selalu untuknya. Pun, waktunya tak hanya selalu untukmu. Ada waktu-waktu untuk tak selalu bersama.

Mungkin, karena sama-sama sibuk. Mungkin sama-sama sedang berjuang untuk biaya sewa gedung dan biaya katering, atau cari-cari KPR supaya nanti nggak tinggal di rumah mertua. Selamat datang di kehidupan!

Nah, bagaimana kira-kira menggunakan asas pemilu untuk memilih pasangan hidup ini? Atau, kamu memilih golput? Eits, nggak usah diumumkan juga. Kan, rahasia.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.