Ilustrasi. (Photo by taylor hernandez on Unsplash)

Kebahagiaan itu relatif dan variabelnya bukan hanya anak.

Mau hidup childfree atau jadi orangtua, keduanya lazim-lazim saja selama itu adalah pilihan rasional individu dalam merespons realitas hidupnya. Tidak ada yang derajat berpikirnya lebih open minded dengan menganggap yang satu lebih benar. Dikatakan open minded itu kalau cakrawala berpikirnya luas, lintas kelas sosial, budaya, agama, dan sebagainya. Lagi pula, jadi orangtua atau tidak, bisa sama mulianya jika tujuannya untuk kebaikan, bisa sama sia-sianya kalau sekadar ikut-ikutan.

Passion saya adalah jadi orangtua, kalau sekarang masih hidup childfree, itu perkara nasib saja. Pertimbangan ingin mengambil peran sebagai orangtua ini bukan karena omongan tetangga, omongan influencer, atau perihal kodrat manusia. Sama halnya dengan mereka yang memutuskan childfree, pertimbangannya bukan hasil survei tingkat kebahagiaan, testimoni, ataupun pengaruh influencer.

Keputusan jadi orangtua atau tidak itu sangat personal, kaitannya dengan pengalaman hidup, nasib, dan passion masing-masing. Ini urusannya dengan pasangan, kesepakatannya dengan pasangan, bukan dengan netijen. Ibarat keputusan pakai kondom atau polosan, itu sangat privat, yang rasain enak dan menanggung konsekuensi ya pasangan itu. Keputusan yang sifatnya personal begini nggak perlu ditelaah mana yang benar dan salah, cukup saling dimengerti.

Baca juga: Ngomongin Childfree? Nih, Biar Nggak Kaku Amat

Berhubung tentang kemuliaan jadi orangtua kita semua no debat. Agar lebih adil, mari pahami juga semangat positif pasangan childfree. Siapa tahu nasib dan keadaan membuat kita hidup childfree.

Childfree bukan mazhab pemikiran, melainkan pilihan personal yang faktornya banyak. Jadi rasanya tidak sopan kalau didebat. Definisi rumah tangga yang bahagia itu kan terserah dua insan yang menjalaninya. Keluarga yang ideal juga tidak ditentukan oleh jumlah nama yang tertera di lembar KK.

Selama mereka bukan pengedar narkotika, pengembang situs porno, pembuat konten prank, atau profesi lain yang potensial merusak struktur berpikir anak-anak yang susah payah dibesarkan orangtuanya, pasangan childfree tidak perlu dianggap sebagai ancaman di muka bumi.

Childfree adalah pilihan untuk tidak mengambil peran pengasuhan di ranah privat, baik lewat cara melahirkan anak biologis atau adopsi. Pasangan childfree menganggap tidak semua pasutri memiliki minat, bakat, dan keterampilan menjadi orangtua. Berkat kesadaran itu, mereka enggan mengambil peran sebagai orangtua dan memaksimalkan waktu hidupnya untuk peran-peran lain. Mereka paham kalau cara menyalurkan kasih sayang tidak hanya lewat peran pengasuhan.

Baca juga: Nggak Mau Punya Anak Dulu Bukan Pesimis, Justru Optimis

Pasangan yang memilih childfree tentu pasangan yang sadar bahwa tujuan pernikahan bukan hanya prokreasi dan pengasuhan. Ada banyak jenis peran dan tanggung jawab di dunia yang bisa dilakukan dengan berpasang-pasangan, menjadi orangtua hanya salah satunya. Filsuf kontemporer Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe membuktikan bahwa kontribusi pasutri tidak selalu berupa anak soleh yang mendoakan orangtua. Sepanjang hayatnya, pasangan itu mendedikasikan pikiran untuk proyek eksplorasi politik post-marxisme dan telah melahirkan karya-karya kolaborasi yang banyak menjadi referensi akademisi dan aktivis.

Jadi, memilih childfree tentu tak kalah bijak dari pilihan menjadi orangtua. Ketika pasutri memilih untuk tidak mengambil peran pengasuhan, mereka bisa mengalihkan energi dan pikiran untuk lebih maksimal di ranah kontribusi sosial.

Sekalipun motivasi childfree bisa terdengar egois, yaitu semata-mata kepingin happy, itu manusiawi. Yang punya anak kan juga kepingin happy. Bukankah orang memang harus menemukan kebahagiaan dalam hidup? Dengan kebahagiaan, orang bisa mengimbangi kesedihan, jadi waras. Efeknya bisa produktif berkarya, bermanfaat untuk sesama dan menemukan makna kehidupan.

Baca juga: Orang Berhak Punya Pasangan dan Anak, Sebagaimana Mereka yang Melajang dan Tak Ingin Punya Anak

Kalangan kelas menengah urban tampaknya lebih punya alternatif kebahagiaan yang beragam dengan akses pengetahuan, keterampilan, dan tentunya materi yang cukup, sehingga tidak menggantungkan kebahagiaan pada kepemilikan anak. Ini sangat jarang terjadi pada pasutri dari kalangan berpendidikan sedang, dengan taraf hidup yang sedang-sedang pula. Perkara pilihan childfree, punya basis kelas sosial juga rupanya. Berbeda dengan kalangan urban, tidak ada pasutri di desa yang tidak menginginkan kehadiran anak. Anak-anak membuat mereka punya alasan untuk terus berjuang karena ada harapan terpendam memperbaiki generasi. Mereka tidak mengenal terminologi childfree.

Sebagai orang yang punya passion jadi orangtua, saya paham rasanya ingin mengupayakan perbaikan generasi melalui pengasuhan. Tapi, bukan berarti tidak pernah dilanda kekhawatiran tentang ketidakmampuan menjamin kehidupan anak-anak yang saya lahirkan kelak. Pikiran itu tentu ada setiap membayangkan bayi-bayi yang lahir tanpa dimintai persetujuan, dipaksa menjalani kehidupan, lalu dimintai pertanggungjawaban. Keinginan sekaligus kecemasan semacam ini bikin saya jadi mengerti perasaan ingin jadi orangtua dan tidak ingin jadi orangtua. Keduanya sama-sama tidak mudah.

Artikel populer: Surat Kafka untuk Semua Ayah dari Anak yang Takut Bersuara

Memilih childfree atau membesarkan anak, sama-sama keputusan yang berani. Pasangan yang ingin jadi orangtua berani menanggung risiko kehamilan dan menerima bagaimanapun kondisi bayi pemberian Tuhan. Mereka siap menanggung beban psikis dan materi dalam proses membesarkannya jadi manusia, serta berani menerima risiko kegagalan dalam pengasuhan.

Mereka yang memilih childfree, berani menghadapi tekanan lingkungan sosial atas pilihannya, berani mendedikasikan pikiran lebih banyak di ranah publik, berani menghadapi keinginan punya anak biologis yang mungkin muncul di kala usia reproduktifnya telah habis. Siapa tahu.

Mau jadi orangtua atau childfree, keduanya bisa sama-sama happy dan punya potensi menunjang transformasi sosial. Selama negara tidak mengatur kebebasan beranak-pinak, tidak perlu dibikin wacana pro dan kontra.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini