Ilustrasi (Amateur Hub/Pexels)

Ada yang bilang tatanan dunia menjadi kacau sejak petinggi Sunda Empire ditangkap. Apa iya, Indonesia kemasukan Covid-19 karena belum daftar ulang ke Rangga Sasana? Jangan-jangan virus Corona adalah tentaranya Sunda Empire.

Nggak deh.

Sunda Empire saja tidak bisa menghentikan penyebaran virus Corona. Apalagi, petingginya sudah ‘diisolasi’ sebelum pandemi ini melanda dunia. Pun, Ningsih Tinampi yang katanya sakti tidak bisa mengusir virus ini dari bumi.

Ningsih Tinampi yang sempat bilang “apek-apek sesek” saat ‘mencicipi’ virus Corona di tubuhnya malah membatasi praktik pengobatan alternatifnya. Tanda virus ini di luar kuasanya. Namun, setidaknya dia manut imbauan pemerintah untuk menerapkan social distancing atau physical distancing.

Di tengah pandemi ini, berkumpul seakan perbuatan maksiat, sekalipun tidak berbuat kriminal atau mesum. Ria Ricis telah membuktikannya. Saat syuting konten YouTube bersama krunya, ia diprotes tetangga lantaran membuat keramaian. Alhasil, Ricis menunda proses syutingnya. Menurut pengakuannya, dampak pandemi membuat penghasilannya dari YouTube berkurang drastis. Membuat Queen of YouTube ini berhemat dengan mulai mematikan AC di rumahnya.

Baca juga: Pembatasan Sosial, Buruh dengan Upah Harian Bisa Apa?

Ria Ricis sang YouTuber kondang hanyalah satu dari sekian banyak profesi yang terdampak dari lesunya ekonomi pasca virus Corona menyerang. Selain syuting konten YouTube yang melibatkan banyak kru, syuting sinetron pun disetop oleh rumah produksi. Akibatnya, ibu-ibu penikmat sinetron bisa bosan dan bete di rumah karena penayangan episode terbaru terancam di-cancel.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk #DiRumahAja, tapi asupan hiburan justru berkurang. Mungkin anak muda masih bisa betah di rumah karena ada internet, walaupun sedikit lelet. Di media sosial, influencer dan kreator konten berlomba bikin konten yang menghibur pemirsa di rumah. Walaupun sedang dilanda ujian hidup, mereka mengajak kita untuk tak lupa tersenyum.

Lantas, bagaimana dengan generasi yang hiburannya sebatas kotak ajaib bernama televisi? Bermigrasi ke konten digital seperti Netflix? Tidak semua orang mampu, apalagi pengguna Telkomsel.

Baca juga: Di Rumah Aja Tanpa Harus Merasa Heroik

Solusinya, mungkin sinetron bisa tetap jalan, tapi kontennya seperti podcast Deddy Corbuzier. Ceritanya, para tokoh ngobrol berjarak satu meter. Tidak ada adegan bersentuhan, hanya mengumbar dialog yang menyentuh hati. Monoton sih, tapi aman dan mengedukasi masyarakat.

Apalagi, kalau sampai ada sinetron Azab edisi spesial bertema wabah Corona. Ceritanya, ada tokoh utama antagonis yang meremehkan virus Corona. Istrinya menangis ketika memperingatkan sang antagonis untuk tidak keluar rumah. Namun, suami durjana ini ngeyel karena memaksa ingin nonton dangdutan, lalu sesumbar, “Gue nggak takut sama Corona. Walaupun iman gue lemah, imun gue kuat!”

Alhasil, ia mendapatkan akibatnya: jadi PDP alias pasien dalam pengawasan. Setelah itu, barulah dia peduli dengan wabah Corona, termasuk hoaks pun ia telan: menangkal virus Corona dengan makan telor rebus sebelum jam 12 malam, sesuai anjuran bayi yang baru lahir tapi sudah bisa bicara di kota antah-berantah.

Ketika sudah jadi korban kabar bohong, barulah ia insyaf dan mulai menyaring informasi dari sumber yang resmi saja. Adegan pertobatan itu diiringi nyanyian religi Opick dari kejauhan.

Baca juga: Mencegah Indonesia Jadi ‘Italia-nya ASEAN’ karena Covid-19

Lain sinetron, lain FTV. Selama ini, FTV piawai mengomentari isu sosial dan budaya populer sejak dalam pemilihan judul. Contohnya, Putus Cinta Feeling Gud Lakasud atau Dede Gemes Men-Tik Tok Hatiku.

Penulis skenario FTV bisa juga mengangkat kisah percintaan dengan latar belakang pandemi Corona. Judulnya, Cintaku Terhalang Pandemi Covid-19. Ide ceritanya tentang seorang pria yang tidak bisa bertemu dengan calon istrinya karena kotanya lockdown. Akhirnya, mereka melangsungkan pernikahan luar biasa dengan ijab kabul jarak jauh. Malam pertamanya via video call.

Sementara itu, selama masa swakarantina, channel YouTube milik sebuah rumah produksi bisa menayangkan secara gratis koleksi film Indonesia yang dimiliki hak siarnya. Supaya penonton betah di rumah. Nah, bakalan lebih menjiwai kalau ada remake film Indonesia berlatar pandemi.

Misalnya, cerita film Ada Apa dengan Cinta? (AADC) terjadi ketika wabah melanda dan menjadikan Jakarta sebagai zona merah. Rangga dan Cinta belajar dari rumah. Namun, namanya jodoh, mereka tetap bertemu, tapi ketemunya di Instagram. Rangga upload sajak, lalu Cinta komentar.

Artikel populer: Kangen Pacar Mau Kencan, tapi ‘Physical Distancing’, Gimana?

Singkat cerita, mereka mulai menjalin hubungan percintaan. Pakai fitur live Instagram, Cinta mengadakan konser dari rumah, menyanyikan gubahan puisi buatan Rangga.

Kemudian, Rangga diajak ayahnya pergi ke Amerika Serikat karena kecewa dengan penanganan wabah di Tanah Air. Di bandara, mereka dicegat Cinta. Cinta berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kamu memasukinya. Namun, jika wabah terjadi di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”

“Hadits riwayat Bukhari,” pungkas Rangga.

“Jangan pergi, Rangga,” pinta Cinta dari jarak satu meter. “Bahaya.”

“Maaf, Ta. Saya harus pergi. Tiket pesawat sudah dibeli,” ucap Rangga. “Nggak bisa refund.”

Namun, karena masih masa physical distancing, pas bagian akhirnya mereka tidak berciuman, hanya salam namaste.

Rangga pamit ke Cinta dan berjanji, “Saya akan kembali setelah pandemi berakhir.”

Cinta tak percaya, “Haaaash, gombal mukiyo.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini