Membayangkan Isi Percakapan Grup WhatsApp Charlie’s Angels

Membayangkan Isi Percakapan Grup WhatsApp Charlie’s Angels

Charlie's Angels (Merie Weismiller Wallace/Sony Pictures)

Charlie’s Angels adalah film aksi komedi keluaran tahun 2000. Waralaba ini dimeriahkan oleh Cameron Diaz, Drew Barrymore, dan Lucy Liu. Hampir dua dekade kemudian, film berjudul sama kembali dirilis. Namun, film versi 2019 ini dimainkan oleh aktris-aktris baru.

Ceritanya pun dibuat kekinian, tapi masih mempertahankan ciri khasnya: lucu, menegangkan, penuh intrik, dan latar ceritanya di berbagai negara.

Saya membayangkan Elizabeth Banks sebagai produser (merangkap pemain, penulis naskah, dan sutradara) memberikan keterangan sewaktu jumpa pers yang narasinya mirip Indro Warkop ketika promo film Warkop DKI Reborn, “Charlie’s Angels yang baru ini tidak bermaksud menggantikan trio yang lama. Justru bertujuan melestarikan Charlie’s Angels itu sendiri.”

Film Charlie’s Angels versi anyar jadi semacam proyek idealis Elizabeth Banks yang rangkap jabatan. Sebagai bos di dalam maupun di luar film, Elizabeth haruslah membuat grup WhatsApp (WA) untuk koordinasi dengan jajaran aktris yang memerankan angels. Seandainya grup WA itu dibikin, satu per satu angel akan di-invite. Bayangan saya seperti ini:

Baca juga: Bagaimana Film ‘Aladdin’ yang Baru Melawan Stereotip

Pertama, Kristen Stewart yang diundang.

Elizabeth: “Kris, gue pilih lo karena selama ini lo lekat dengan imej cewek kesepian yang pacaran sama vampir di Twilight. Di film ini, gue bakal bikin lo jadi perempuan independen yang bisa hidup mandiri tanpa lindungan Edward Cullen.”

Kristen: “Mbak El, selain di film, di dunia nyata juga kan gue emang sempet pacaran sama pemeran Edward Cullen. Udah lama putus, buktinya sampai sekarang gue bisa hidup mandiri tanpa dia. Mau dia jadi Batman juga gue udah nggak peduli.”

Elizabeth: “Oh iya juga ya, Kris.”

Selanjutnya, Ella Balinska masuk grup.

Ella: “Makasih udah di-invite, Bu.”

Elizabeth: “Ella, nanti gue pasangin lo sama Pangeran Netflix ya.”

Ella: “Siapa tuh, Bu?”

Kristen: “Ah, masa lo nggak tau sih? Itu loh Noah Centineo yang sering main di film original Netflix kayak To All the Boys I’ve Loved Before.”

Baca juga: Apa Iya, Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti?

Elizabeth: “Betul. Seratus buat Kristen. Tapi di film ini, karakternya dibikin kayak kutu buku yang nggak punya kemampuan berkelahi. Nanti Noah dijadikan sandera untuk ditolong sama kalian, Angels. Kalau di film-film lain, biasanya cewek yang ditolong sama cowok, di film kita sebaliknya.”

Ella: “Sebaliknya, maksudnya? Cowok yang nolongin cewek?”

Kristen: “Aduh, Ellaaaaa! Bukan kalimatnya yang dibalik, tapi maknanya. Cewek yang nolongin cowok.”

Ella: “Kenapa nggak saling tolong menolong aja? Bukankah itu lebih baik?

Kristen: “Ya kenapa nggak lo bikin film sendiri aja?”

Tak menggubris Kristen dan Ella yang ribut, Elizabeth mengundang angel lagi.

Angel: “Halo, salam kenal. Makasih udah diundang. Saya Angel.”

Ella: “Gue juga Angel.”

Kristen: ”Gue Angel paling senior di sini.”

Angel: “Punten, ini grup apa ya? Kok semua anggotanya ngaku-ngaku Angel? Paguyuban Angel Sejabodetabek, kah? Ada Angel Karamoy, nggak?”

Elizabeth: “Kamu siapa?”

Angel: “Angel Lelga.”

Elizabeth buru-buru remove Angel tersebut. Lagian, ngapain sineas Hollywood nyimpen nomor penyanyi dangdut Indonesia? Mungkin Elizabeth dapat rekomendasi dari Livi Zheng.

Baca juga: Apakah Tidak Ada Cara yang Elegan ketika Mengkritisi Livi Zheng?

Akhirnya, Elizabeth mengundang Naomi Scott untuk jadi angel ketiga.

Elizabeth: “Naomi, lo lebih dulu dikenal sebagai Putri Jasmine di film Aladdin. Setelah lo berhasil meruntuhkan sistem patriarki di Kerajaan Agrabah, di film ini lo harus berusaha menyelamatkan dunia dengan kekuatan kelompok perempuan. Kali ini tanpa bantuan jin.”

Naomi: “Maksudnya, Jin personil BTS?”

Elizabeth: “Jin Aladdin lah. Lagian lo tahu aja sama Jin BTS. Kpopers ya?”

Kemudian, Elizabeth mengundang seorang pria ke dalam grup yang akan menjadi Bosley.

Elizabeth: “Bosley di sini semacam mentor atau letnan untuk trio angels. Nanti di awal cerita, Bosley gugur di pertempuran melawan penjahat.”

Begitu selesai menerangkan, Elizabeth langsung kick Bosley. Lalu, Elizabeth menambahkan nomor baru ke grup.

Elizabeth: “Bosley yang gugur, harus digantikan dengan Bosley perempuan. Biar film ini afdhol sebagai film dari cewek, tentang cewek, untuk cewek. Pemeran Bosley perempuan tak lain dan tak bukan adalah gue sendiri. Btw, yang barusan gue tambahkan itu nomor gue yang lain. Save ya, girls.”

Ella: “Kasihan banget itu yang barusan di-add, belum sempet ngechat, udah di-remove lagi.”

Artikel populer: Begini Jadinya jika Joker Mencari Nafkah sebagai Pelawak di Negeri Ini

Elizabeth: “Narasi film ini memprotes diskriminasi perempuan. Selama ini perempuan dilihat dari kecantikan fisik saja. Padahal, perempuan juga punya bakat dan kemampuan, seperti beladiri dan ilmu pasti. Contohnya ya anggota Charlie’s Angels.”

Kristen: “Yang nulis naskahnya siapa sih? Kok kayaknya SJW banget?”

Elizabeth: “Kebetulan gue yang nulis. Uhuk.”

Ella: “Tuman.”

Kristen: “Ya tapi bagus juga sih idenya.”

Naomi: “Monmaap nih. Bukankah tetap saja kita masih berada dalam sistem patriarki? Soalnya kita kerja dikendalikan dari jauh oleh seorang pria misterius bernama Charlie.”

Elizabeth: “Tunggu dulu, selama ini Charlie nggak pernah menunjukkan batang hidungnya secara eksplisit. Ia hanya tampil lewat suara. Belum tentu Charlie itu cowok.”

Ella: “Kan selama di telepon, yang ngomong ngaku Charlie, suaranya cowok banget.”

Kristen: “Yaelah, pakai aplikasi di Android juga bisa kali ubah suara.”

Elizabeth: “Ya udah, mending gue invite langsung aja nih Charlie, bos kita semua.”

Lalu, Charlie masuk grup.

Elizabeth: “Charlie sends love.”

Satu jam kemudian, Charlie kirim voice note di grup.

Charlie: “Satu jam saja, kutelah bisa cintai kamu, kamu, kamu di hatiku.”

Elizabeth: “Lah, malah dia nyanyi.”

Ternyata yang masuk adalah Charlie ST12.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.