Hellbound. (Netflix)

Jika Indonesia punya sinetron azab, Korea Selatan punya drakor Hellbound. Berbeda dengan outbound yang digunakan untuk mengedukasi pesertanya tentang nilai kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka, Hellbound adalah demonstrasi siksa neraka yang dilakukan ‘malaikat pencabut nyawa’ di ruang terbuka.

Sebenarnya, plot cerita Hellbound adalah pengandaian, apa jadinya jika kejadian supranatural tertangkap kamera dan disebarkan di media sosial? Tentu saja semua orang bisa panik. Lalu, orang yang lebih dulu tahu tentang fenomena tersebut bisa memanfaatkan keadaan. Misalnya, menyebarkan hoaks bahwa dirinya adalah utusan Tuhan yang bisa membimbing umat, seperti yang dilakukan oleh Jung Jinsu sang pemimpin sekte Kebenaran Baru di drama Korea ini.

Awalnya, drakor Hellbound seperti kritik terhadap sistem hukum yang dirasa tak adil. Diceritakan bahwa ada seorang pembunuh hanya dihukum singkat, karena terdeteksi sebagai pengguna narkoba. Sementara, keluarga korban menanggung siksaan batin selamanya karena kehilangan orang terkasih.

Baca juga: Apa Jadinya kalau Pejabat Ikut Squid Game?

Latar belakang itulah yang disebut-sebut memicu kemunculan makhluk gaib untuk mengintervensi dunia manusia demi tegaknya keadilan. Tanpa ba-bi-bu, sosok misterius bisa menampakkan wajah dari ketiadaan dan memberikan pengumuman kepada manusia tentang tanggal kematiannya. Saat tanggal yang dijanjikan tiba, muncul tiga sekawan berwujud seperti monster yang bertugas menyiksa korban sampai mengembuskan nafas terakhir.

Walaupun tidak ilmiah, sebenarnya fenomena tersebut mirip bencana alam yang menimpa korban secara acak. Namun, para pengikut sekte Kebenaran Baru menafsirkannya sebagai hukuman untuk para pendosa. Sama seperti pembaca majalah mistis yang dapat mempercayai bahwa kuburan amblas sebagai pertanda azab, padahal mungkin hanya penurunan permukaan tanah akibat turun hujan.

Supaya bisa dimaklumi, seharusnya cerita berbau metafisika di Hellbound ini berlatar di metaverse saja.

Ketika metaverse sudah tersedia di Indonesia, warganet bakalan berbondong-bondong untuk memasukinya. Namun, sebelum masuk metaverse, ada saja warganet yang melepas sandalnya. Lalu, ada temannya yang mengingatkan untuk pakai sandal supaya tidak kesetrum.

Baca juga: Stranger Things ala Sinetron Indonesia: Fan Fiction

Secara konsep, metaverse seperti dunia di film Ready Player One atau platform permainan daring Roblox yang memungkinkan pemain dari belahan dunia manapun bertemu dalam satu ruang siber yang sama. Di metaverse, setiap warganet berhak memilih bentuk fisiknya masing-masing yang disebut avatar.

Konon, kita dapat melakukan kegiatan apapun di metaverse seperti halnya di kehidupan nyata. Termasuk, memiliki hunian maya di atas sepetak tanah virtual yang dibeli pakai mata uang digital. Mengingat di kehidupan nyata generasi milenial kesulitan memiliki rumah karena harga properti yang melambung tinggi, semoga saja bisa punya rumah di metaverse.

Menariknya, dalam sebuah iklan, Mark Zuckerberg mengatakan bahwa kita bisa berteleportasi ke mana saja untuk menemui orang-orang di metaverse. Namun, untuk bisa teleportasi di metaverse sepertinya tidak akan cuma-cuma. Sebelum melompat ke ruangan lain, warganet harus nonton iklan dulu. Seperti ketika kita menonton video di Youtube atau dengar lagu di Spotify. Bisa juga tanpa iklan, tapi pakai sistem seperti Tinder: untuk bisa swipe kanan sampai mentok harus beli paket premium dulu.

Baca juga: Ya, Inilah “Money Heist” ala Indonesia

Sebelum ada metaverse, warganet yang aktif menggunakan media sosial biasanya latah mengikuti sebuah tren. Yang terakhir viral adalah tantangan untuk mengungkapkan data pribadi di ruang publik, yang katanya bisa membahayakan. Sebab data-data tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang tak bertanggung jawab untuk tindak kejahatan, seperti penipuan dan pembobolan akun.

Jika masih mempertahankan kebiasaan yang sama, di metaverse sekalipun, privasi warganet bisa juga tidak aman seperti itu. Misalnya, ada tantangan untuk memamerkan tanda tangan dan berfoto dengan KTP, langsung ikutan karena FOMO (fear of missing out). Lalu, datanya disalahgunakan oleh pihak lain.

Selang beberapa jam, masuk transferan dana ke dompet kripto. Ternyata, dijebak jadi nasabah fintech yang meminjamkan uang kripto di metaverse. Dalam waktu tertentu, ia harus mengembalikan dananya. Tidak hanya ditambah bunga, tapi juga selisih harga akibat fluktuasi nilai aset kripto.

Artikel populer: Seandainya Eternals Punya Grup WhatsApp

Jika tidak bisa bayar tepat waktu, ia bakalan dikenakan denda, bunga berbunga, dan diteror debt collector. Untuk menagih utang, debt collector juga tak segan-segan memasang iklan di papan reklame di metaverse untuk mempermalukan si nasabah di ruang publik. Nantinya muka nasabah berada di papan reklame bersama para artis dan model-model brand terkemuka.

Ketika debt collector tak mempan juga, fintech akhirnya mengutus tiga monster dari Hellbound. Di mana saja calon korbannya berada di metaverse, tahu-tahu muncul hologram wajah penagih utang yang mengancam akan datang untuk menyita avatar.

Ketika waktu yang dijanjikan tiba, muncul tiga monster yang mengejar korban. Korban bisa melawan dengan menggunakan jurus-jurus ala hero Mobile Legends. Namun, tiga monster tadi lebih sakti dengan jurus ultimate. Avatar korban akan dipersekusi di depan umum untuk jadi tontonan warganet sebelum akhirnya disita.

Dengan memiliki avatar korban, fintech pun bisa menguasai seluruh aset digitalnya di metaverse. Sedangkan korban terusir dari metaverse dan tidak bisa login lagi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini