Membaca Simbol-simbol dalam Pertemuan Jokowi dengan CEO Bukalapak Achmad Zaky

Membaca Simbol-simbol dalam Pertemuan Jokowi dengan CEO Bukalapak Achmad Zaky

Foto: Setkab

Keriuhan linimasa di media sosial mendekati Pilpres 2019 semakin membuat netizen runyam. Kadang senang, kadang sedih dan kecewa. Tapi dasar netizen kekinian, terutama di Twitter, lebih menyukai keributan daripada kedamaian. Yang baru saja terjadi adalah tagar uninstall Bukalapak.

Tagar tersebut menggema dan sempat menjadi trending topic di Twitter gara-gara cuitan CEO Bukalapak, Achmad Zaky. Dia berkicau tentang anggaran Research and Development (R&D) dalam Revolusi Industri 4.0, yang mana Indonesia di bawah negara-negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.

Ayolah, cukup timnas sepak bola Indonesia yang peringkatnya di bawah negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Untuk urusan e-commerce, mana mungkin kita kalah dari mereka? Betul, nggak?

Dengan populasi yang besar, kita ini negara yang potensial lho. Masa hanya mau dijadikan pasar? Bukan begitu, Pak Jokowi? Yah, meskipun unggahan Achmad Zaky ada kesalahan data. Seharusnya data itu tahun 2013, tapi ditulis 2016. Ambil semangatnya, kata Zaky.

Ada benarnya sih. Tapi mas Zaky, di satu sisi, itu semakin menguatkan anggapan orang-orang tua bahwa anak muda cuma menang semangat, kadang khilaf lalu minta maaf.

Baca juga: Di Balik Saling Contek Antar Portal Belanja Indonesia

Seharusnya nggak gitu-gitu juga, apalagi sudah jadi bos. Jarang lho anak muda jadi bos di negara berflower. Biasanya mereka kalau bukan anak konglomerat, ya anak pejabat.

Bagaimanapun, nasi sudah jadi bubur, diaduk lagi. Reaksi netizen yang menawan dan budiman terlanjur mengerikan. Maka, cuitan tentang uninstall Bukalapak sempat marak.

Zaky dianggap seperti kacang lupa pada kulitnya. Sebab, Bukalapak adalah satu dari empat unicorn asli milik Indonesia. Alhasil, netizen pun merevisi nama unicorn tersebut menjadi Lupabapak.

Duarrr…

Saling silang pendapat pun tak terelakkan. Ada yang bilang Zaky ingin menjatuhkan reputasi Jokowi sekaligus mendukung oposisi, karena mencuitkan ‘presiden baru’. Apakah netizen percaya? Ya percaya.

Terlebih, kalau cuitan tersebut diunggah oleh SJW dan dirituit hingga ribuan. Lihat, kan? Tak perlu menggunakan kalimat “Twitter, please do your magic” pun kalau SJW yang ngerituit, ya mesti viral.

Lalu, Achmad Zaky mengunggah lagi maksud dari pernyataan ‘yang telah dihapusnya’. Tak lupa, dia mengucapkan permintaan maaf, apabila pernyataannya itu menyinggung pemerintah dan para pendukungnya. Apakah persoalan selesai? Tunggu dulu. Hadehh…

Baca juga: Eksperimen Sederhana tentang Politik di Kalangan Milenial, Apa Reaksi Mereka?

Namun, demi meredakan kericuhan, Jokowi mengundang Achmad Zaky ke Istana. Dan, di sinilah yang menarik.

Tampak dalam foto yang beredar, Achmad Zaky duduk berhadapan dengan Jokowi yang diapit oleh Sekretaris Kabinet, Pramono Anung dan Koordinator Staf Khusus Presiden, Teten Masduki. Mereka berempat mengambil posisi di tengah. Ini seakan menandakan pertemuan tersebut bersifat netral.

Kemudian, pakaian yang dikenakan oleh Achmad Zaky adalah batik berwarna cerah – yang sepengetahuan saya – lebih condong ke daerah Yogyakarta. Pilihan yang unik. Sebab, Achmad Zaky adalah pria asal Sragen dan sempat sekolah di Solo. Sedangkan yang di hadapannya adalah Jokowi, pria asli Solo.

Pertanyaannya adalah, mengapa Achmad Zaky tak memakai batik Solo saja yang dominasi warnanya adalah cokelat? Lagipula, lebih enak dan intim kan kalau sesama orang Jateng menggunakan batik Solo?

Begini, dalam khasanah batik Yogyakarta, warna putih dikaitkan dengan unsur udara yang mana warna putih adalah warna suci, bersih, dan murni. Selain itu, warna putih adalah semacam simbol untuk sesuatu yang bersifat positif dan mengarah kepada kebaikan.

Baca juga: Batik Bukan Cuma buat Kondangan atau ke Kantor Saja

Artinya, Achmad Zaky datang menghadap Jokowi bisa jadi dengan perasaan tulus dan tanpa tekanan apa pun. Dan, kalau dilihat lagi, posisi tangkupan kedua tangan Zaky: kanan di atas kiri, begitu pula jempolnya.

Dia tampaknya berusaha untuk tunduk dan siap mendengarkan lawan bicara, lalu baru mengambil kesimpulan yang mendalam. Saya pikir, Zaky paham dengan siapa dia berbicara.

Yang menarik pula adalah gunungan yang tepat berada di tengah. Apa maksudnya? Kita senantiasa diharuskan menjaga apa pun yang ada dalam hati. Lurus dan runcing ke atas yang artinya manusia hidup menuju yang di atas, Tuhan Yang Maha Esa.

Tak ketinggalan pula jumlah bendera Indonesia. Lima di kanan dan lima di kiri. Pancasilais banget, ya kan pemerintahan Jokowi. Kalau cuma di kiri, nanti urusannya bisa repot. Hehehe.

Harmonisasi seperti itulah yang menggambarkan bagaimana Jokowi menghargai tamunya dan Achmad Zaky menghormati tuan rumahnya. Mungkin itu juga sudah menjadi standar protokoler untuk tamu-tamu yang lain.

Terus, kamu mungkin akan bertanya, “Mengapa Jokowi menggunakan semacam jas, bukan batik?” Begini, saya mau tanya balik, “Mengapa pertemuannya bahkan terkesan formal banget untuk tamu seorang CEO dari generasi milenial? Tak seperti tamu milenial yang lain. Hari Sabtu pula.”

Artikel populer: Muda Belum Tentu Kaya, Tua Habis Harta: Milenial

Lihatlah, selain pakaian resmi – batik dan semacam setelan jas – beserta meja panjang seolah-olah mau berunding, gestur di antara mereka juga tampak canggung. Ya kalau dilihat dari rangkaian fotonya sih, hee.

Kenapa juga ketemuannya nggak di teras Istana saja yang lebih selo, dengan gestur tubuh yang lebih rileks seperti Jokowi bertemu dengan anak-anak muda generasi milenial lainnya? Bisa jadi, setidaknya saat itu, hubungan mereka sebatas pemerintah-pengusaha saja, bukan ‘ayah-anak’. Eh? Komporrr…

Itu kalau dilihat dari simbol-simbol, gestur, dan histori yang ada. Bisa jadi salah, maafkan. Sebab saya bukan bos, dan yang tahu bagaimana sebenarnya hanya mereka dan Tuhan. Ya kali netizen.

Jokowi pun mengimbau masyarakat untuk berhenti melakukan gerakan uninstall Bukalapak. Sebab, anak-anak muda yang memiliki inovasi dan kreativitas harus didorong untuk maju.

Mau ngomong install Bukalapak, nanti dikira SJW buzzer dari Bukalapak, ya pak? Jokowi sudah benar, Achmad Zaky juga benar, begitu juga netizen.

Saya sih lebih setuju yang harus di-uninstall itu adalah sumbu-sumbu pendek kita, pikiran dangkal yang hanya mengedepankan emosi daripada akal sehat. Btw, kamu install aplikasi sumbu pendek dan pikiran dangkal nggak sih?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.