Ilustrasi pasangan. (Photo by Tan Danh from Pexels)

Kalau ada problem universal selain kemiskinan, salah satunya pasti percintaan. Walaupun secara statistik tidak tercatat, kita kerap menjumpai persoalan ini melanda orang-orang sekitar. Ciri utamanya, mereka sering bersajak dan merana.

Mewakili perasaan mereka, produk-produk budaya semacam seni dan sastra pun selalu mengangkat isu percintaan sebagai tema utama. Ambil contoh lagu pop, topiknya hanya seputar jatuh cinta dan putus cinta. Isunya paling-paling melebar jadi cinta bertepuk sebelah tangan atau perselingkuhan.

Saking kehabisan kata-kata, sampai-sampai ada lagu yang liriknya dari awal sampai akhir cuma satu kalimat: I just wanna say I love you. Meski demikian, Sony BMG tak pernah merugi telah memproduksi lagu-lagu jenis begitu sejak era kepingan CD.

Saya tidak masalah dengan kenyataan ini. Harus saya akui, selain tidak punya Playstation, tidak punya pacar juga jadi masalah personal saat remaja. Itu pengalaman patah hati pertama dan bukan satu-satunya.

Baca juga: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Patah hati demi patah hati mengajarkan arti ketulusan. Sementara, jatuh hati demi jatuh hati mengajarkan bahwa kutipan seperti “If you have reasons to love someone, you don’t love them” tidak mencerminkan kebijaksanaan. Kutipan macam itu tak lebih dari penggalan dialog drama FTV, sebab cinta yang muncul tiba-tiba tanpa alasan itu fiktif jika bukan konspirasi belaka. Jatuh cinta selalu punya alasan, sesepele apapun itu.

Sewaktu remaja, saya tidak jatuh cinta begitu saja karena lagi mood. Sebagai seorang gadis remaja dengan gairah straight, saya jatuh cinta karena ketampanan. Mungkin karena dulu krisis wawasan dan pengetahuan, jadi tak punya alasan apapun selain perihal tampang. Jatuh cinta berikutnya karena selera musik dan berikutnya lagi karena kecerdasan yang mengagumkan. Tipe lelaki idaman berubah seiring waktu, sampai akhirnya menemukan alasan kenyamanan.

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Saya kira bukan hanya saya yang begitu. Orang-orang juga tidak mungkin mengatakan “I love you” hanya karena tiba-tiba ingin mengatakannya atau karena sebuah dorongan spirituil. “Ana uhibbuki fillah” terdengar relijius, tapi bukan berarti ungkapan itu menghilangkan subjektivitas diri dan mengabaikan akal serta gairah manusia.

Dan, masa sih alasan seseorang menikahi kekasih hatinya hanya karena ingin menunaikan anjuran agama demi meraih surga? Terdengar sufistik sekali memang, tapi tujuan dua insan menikah bisa lebih membumi dari itu, misalnya ingin melunasi cicilan rumah dan kendaraan bersama-sama.

Lagian, kita makhluk bernalar, bergairah, dan berperasaan. Wajar kalau perasaan cinta tumbuh karena sederet alasan. Kalau tidak, ngapain punya kriteria? Sekalipun kriteria itu tidak terdapat dalam diri pasangan kita yang sekarang, kita pun masih punya alasan, yakni karena tidak ada pilihan lain dan kita, eh saya, takut hidup sendirian.

Alasan yang masuk akal lainnya seperti faktor inteligensia, kesamaan ideologi, pertimbangan karakter, satu frekwensi, dan lain-lain. Tapi oh tapi… kadang-kadang bagi beberapa orang, alasan seperti itu bisa jadi dilematis saat berbenturan dengan jaminan hidup ataupun gengsi sosial.

Baca juga: Saat Perempuan Dituntut Cantik dan Laki-laki Dituntut Kaya

Lihat sekitar kita, pasti pernah dong menjumpai – setidaknya sekali – kasus pengkhianatan dalam relationship karena si perempuan memilih lelaki yang tampak punya karier lebih cemerlang. Atau sebaliknya, kasus pengkhianatan oleh laki-laki karena alasan tampang perempuan yang lebih glowing.

Memang sih, ada yang memilih pasangan untuk memanjat kelas sosial, ada yang untuk memenuhi hasrat seksual. Namun, ada juga yang untuk memenuhi hasrat intelektual. Ini bisa kita ilhami dari kisah asmara filsuf legendaris, saat Hannah Arendt terpikat dengan keelokan pikiran Martin Heidegger.

Dengan demikian, hai para lelaki… jangan dikira kalau semua perempuan mencari suami hanya karena ingin dinafkahi dan dibelikan skincare. Kami perempuan yang bernalar, bergairah, dan berperasaan mencari pasangan hidup karena menginginkan teman untuk saling berbagi, memberi dukungan, bercinta, bersenang-senang, dan bertukar pikiran dalam bangunan relationship yang seimbang. Meski begitu, kami pun sadar bahwa suka dan duka adalah siklus kehidupan. Sesekali pasti akan berselisih dan sama-sama belajar lebih dewasa.

Artikel populer: Benarkah ‘Fall in Love With People We Can’t Have’ Adalah Hal yang Sia-sia?

Nah, kalau kebetulan memperoleh pasangan yang mampu memenuhi segala sisi yang kamu butuhkan, sebutlah ia anugerah terindah. Namun, betapapun idealnya doi, tetaplah sadar bahwa sempurna itu fana. Tentu selalu ada yang kurang dari pasangan. Jenis pasangan yang paket komplet itu mustahil adanya, karena setiap orang punya keterbatasan. Barangkali, berjodoh adalah upaya untuk saling mengisi apa yang terbatas itu.

Meski akhirnya tetap Tuhan yang maha mengatur perjodohan, kita berhak menentukan pilihan sesuai kehendak nalar, perasaan, dan gairah seksual. Atau, mungkin juga sesuai kebutuhan karier dan finansial. Itu mah pilihan masing-masing.

Toh, cinta kita sama-sama beralasan, sekalipun alasannya pragmatis. Kalau ada perasaan cinta yang tanpa sebab, justru mencurigakan, jangan-jangan itu kena pelet.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini