Memahami Anti Feminis-feminis Club

Memahami Anti Feminis-feminis Club

Ilustrasi perempuan (Monica ly via Pixabay)

Gerakan anti hak-hak perempuan dan anti kesetaraan jelas bukan barang baru. Kelompok anti feminis pada abad 19 menolak hak pilih perempuan dalam Pemilu, sementara anti feminis pada abad 20 menolak kesetaraan hak. Loh, mau diberi keadilan kok menolak?

Salah satu pendukung anti feminis menyatakan bahwa dia menyadari perempuan tidak memiliki kesetaraan dalam hal penggajian. Namun, menurutnya, negara tidak perlu hadir karena perempuan harus mencari solusi sendiri. Jika perempuan tersebut cakap, dia pasti mendapatkan apa yang sesuai dengan kemampuan.

Padahal, kenyataannya tidak demikian. Dalam berbagai riset tiga tahun terakhir di seluruh dunia, perempuan masih mendapatkan gaji 15%-45% lebih sedikit dari laki-laki dengan posisi dan kecakapan yang sama.

Lalu, mengapa masih banyak yang menolak kesetaraan?

Kemungkinan pertama adalah karena mereka termasuk dalam golongan privilese tinggi, baik laki-laki maupun perempuan. Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang telah memiliki banyak privilese sejak lahir, sehingga tidak perlu bersinggungan dengan hal-hal yang tidak ideal, misalnya kekerasan dan ketidakadilan.

Baca juga: Anggapan Keliru terkait Feminis yang Harus Diluruskan Agar Pikiranmu Tidak Cupet

Trump adalah contohnya. Keluarga Trump ini nggak paham bahwa ada perempuan yang kerja dari subuh sampai subuh lagi tapi bayarannya cuma bisa buat beli nasi bungkus, nyampe rumah masih harus kerja domestik, lalu dipalakin pula sama suaminya. Sebab itu, meski mereka tidak terang-terangan anti feminis, dia adalah anti feminis yang sebenar-benarnya ketika menolak konsep upah minimum untuk meningkatkan kesejahteraan buruh.

Kelompok kedua adalah tipe pekerja yang gigih menabrak segala aral melintang, termasuk hambatan-hambatan terkait gender. Mereka lupa bahwa privilese perempuan untuk bekerja, berkelompok dan berserikat, termasuk untuk bisa menentukan jalan hidup, adalah kerja keras feminisme. Lalu, mereka beranggapan bahwa pekerja memang harus kuat, tidak boleh seperti feminis yang cengeng minta kesetaraan hak.

Golongan ini sering kali menegasikan pengalaman orang lain. Pokoknya semua yang tidak bisa seperti mereka adalah lemah dan tidak cakap. Mereka tidak peduli bahwa latar belakang, kemampuan, dan lingkungan setiap orang beda-beda. Mereka lupa bahwa kalau tidak ada hambatan gender, perempuan tidak perlu bekerja tiga kali lipat lebih sulit hanya untuk mendapatkan bayaran lebih rendah dari laki-laki.

Baca juga: Banyak yang Sinis sama Perempuan Kritis, Bahkan dari Sesama Perempuan dan Teman Sendiri!

Di negara-negara barat, kedua kelompok ini didukung oleh organisasi sayap kanan yang rasis, seksis, lagi misoginis. Perempuan dan laki-laki kelas atas dan pekerja direkrut menjadi serdadu gerakan hak laki-laki dan gerakan anti feminis dengan adagium bahwa ekualitas sudah tercapai, dengan demikian feminisme menjadi tidak relevan. Adagium ini biasanya muncul lantaran kesalahpahaman mengenai konsep feminisme, misalnya bahwa feminisme ingin mendominasi laki-laki dan hanya menguntungkan perempuan.

Faktor selanjutnya insecure housewives scenario. Skenario ini menemukan bahwa banyak perempuan anti feminis sudah berumah tangga, memiliki edukasi yang tidak terlalu tinggi, dengan pendapatan yang rendah atau tidak memiliki pendapatan sama sekali, sehingga bergantung pada laki-laki untuk kebutuhan fiskal.

Sebab itu, mereka merasa insecure terhadap perempuan yang mandiri secara sosial dan fiskal. Mereka merasa tidak aman melihat perempuan mandiri yang dapat menjadi pemimpin dalam hidupnya sendiri. Perasaan tidak aman ini kemudian mendorong insecure housewives untuk memproyeksikan diri ke masyarakat sebagai pilihan hidup yang lebih benar dibandingkan lainnya.

Baca juga: Pengalaman Berteman dengan Ukhti-ukhti Anti Feminisme

Nah, ketiga kecenderungan ini kemudian semakin diperkuat oleh status quo dan cara beragama yang tidak kritis. Menurut Himmelstein, tiga faktor tersebut tidak selalu berkorelasi positif dengan kepercayaan anti feminis tanpa didukung oleh nilai budaya dan agama yang patriarkis. Hanya nilai-nilai fundamental agama yang selalu berkorelasi positif dengan anti feminis. Apapun agamanya. Banyak gerakan anti kesetaraan di Amerika dan Eropa lahir dari kelompok ultra kanan Kristen.

Tentu nilai-nilai agama tidak melulu demikian. Misalnya, Susan Carland dalam Fighting Hislam, menceritakan bagaimana perempuan muslim mendobrak kultur patriarki. Atau, Kalis Mardiasih yang jago dan rajin betul menjelaskan 1001 soal perempuan dalam Islam.

Mendobrak status quo tentu sulit dan jauh lebih nyaman jika menerima saja. Menerima saja kalau perempuan diperkosa adalah salah perempuan itu sendiri, menerima saja kalau perempuan tidak boleh terlalu berprestasi supaya tidak membuat laki-laki takut, menerima saja bahwa tubuhnya bukan miliknya sehingga suami bisa seenaknya.

Artikel populer: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Sementara, gerakan anti feminis di Indonesia berargumen bahwa feminisme merupakan budaya barat. Namun kenyataannya, gerakan anti feminis yang mereka usung justru sangat sejalan dengan tren di negara barat, sebut saja di Amerika Serikat, Denmark, Hongaria, Jerman, Yunani, Italia, dan Belanda.

Peningkatan gelombang anti feminis juga berbanding lurus dengan naiknya Donald Trump menjadi presiden AS. Trump ini ibarat influencer yang membuat gerakan-gerakan sayap kanan seperti anti feminis menjadi laris manis.

Padahal, di Timur Tengah dan Afrika Utara yang terkenal fundamental, trennya justru sedang perbaikan hak-hak perempuan. Banyak negara telah menghapuskan kebijakan menikahkan korban pemerkosaan dengan pelaku, memberi perlindungan hukum bagi ibu dan perempuan, bahkan mulai mengizinkan perempuan untuk lebih berpartisipasi lagi dalam ruang-ruang publik dan politik – misalnya untuk bersekolah dan bekerja.

Lalu, kalau budaya Indonesia seperti apa? Budaya Indonesia adalah budaya perempuan pekerja keras yang tidak tunduk begitu saja atas ketidakadilan. Roro Jonggrang yang enggan menerima Bandung Bandawasa begitu saja tanpa berstrategi, tokoh ibu dalam Ting Gegenting yang bekerja keras di ladang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan perempuan tua dari Gunung Bumberi, Fak-Fak, yang membesarkan anak sendirian di hutan.

Maka jelas, anti feminis lebih dekat dengan anti berpikir kritis, alih-alih anti budaya barat.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.