AlRawabi School for Girls. (Netflix)

Ada yang bilang miniseri asal Yordania berjudul AlRawabi School for Girls sebagai Elite versi halal. Elite sendiri adalah telenovela Spanyol yang kontroversial, dimana ada tokoh muslimah berjilbab yang harus menanggalkan jilbab karena peraturan sekolah.

Namun, yang perlu digarisbawahi, AlRawabi dan Elite tidak mewakili agama tertentu. Justru, keduanya memberikan pandangan tentang budaya berbahaya.

Serial AlRawabi School for Girls menggambarkan bahwa remaja putri diproteksi berlebihan oleh orangtua dan kakak laki-lakinya. Setiap ada skandal, perempuan kerap menjadi pihak yang disalahkan. Sedangkan laki-laki bisa main hakim sendiri, seperti melakukan kekerasan terhadap perempuan.

Sementara itu, Elite menunjukkan praktik islamofobia di Las Encinas, sebuah sekolah di serial tersebut yang melarang muridnya memakai jilbab, tapi membiarkan murid kaya memamerkan jam tangan mahal dan aksesori mewah yang menjadi penanda kelas sosial.

Jadi, AlRawabi adalah AlRawabi, bukan Elite versi halal. Sebab AlRawabi menceritakan tentang tokoh utama yang membalas dendam kepada geng cewek populer yang melakukan perundungan (bullying). Sementara, balas dendam tidak ada unsur halalnya sama sekali, karena dilarang di agama manapun.

Baca juga: Seandainya Nanno “Girl from Nowhere” Pindah ke Indonesia

Belakangan, skenario balas dendam menjadi seksi ketika diangkat menjadi tontonan. Sebelum Mariam di AlRawabi School for Girls, ada Sarah Fier dalam trilogi Fear Street yang melancarkan pembalasan kepada pihak yang memfitnahnya sejak tahun 1666. Kutukannya melekat di setiap sudut kota.

Dilanjutkan episode spesial drakor Kingdom: Ashin of the North. Berkisah tentang Ashin yang menjadi korban politik kerajaan, sehingga keluarga dan tetangga satu desanya dibantai habis. Lantas, Ashin membalaskan dendam kesumatnya dengan menyebarkan wabah zombi untuk menghancurkan kerajaan yang zalim pada desanya.

Sementara itu, di sekolah khusus putri AlRawabi, Mariam menjadi korban fitnah oleh teman sekelas. Mariam dituduh melakukan pelecehan seksual oleh Layan, teman sekelasnya yang manipulatif. Sebelumnya, Mariam juga dirundung secara verbal dan fisik oleh geng Layan.

Namun, pihak sekolah yang seharusnya membela yang benar, justru membela yang bayar. Pihak sekolah tidak berani menghukum para perundung karena berasal dari keluarga yang berpengaruh. Bahkan ayahnya Layan bisa menutup sekolah. Bukan karena beliau penjaga sekolah, melainkan semacam penguasa.

Baca juga: Jika Belajar dari Rumah Jadi Latar Serial Bad Genius

Kecewa, Mariam pilih memperjuangkan keadilan versi dirinya sendiri secara swadaya. Baik Sarah Fier, Ashin, maupun Mariam terpaksa melancarkan aksi balas dendam. Sebab mereka tidak mendapatkan keadilan dalam proses hukum yang berlaku.

Balas dendam tentu tidak dianjurkan. Namun, itu adalah konsekuensi ketika perangkat hukum tidak bisa mengakomodasi semua pihak dengan menjunjung tinggi nilai keadilan. Main hakim sendiri ala vigilante akhirnya menjadi jalan yang terpaksa ditempuh oleh korban.

Sebab hukum yang lemah membiarkan pelaku kejahatan berkeliaran dan membuat korban makin trauma. Korban yang tak tinggal diam seperti Mariam akhirnya melawan secara diam-diam. Aksi Mariam ini berpotensi menghancurkan satu sekolahan.

Mariam berusaha menjatuhkan geng yang merundungnya satu per satu. Dimulai dari Ruqayya. Sebelumnya, Ruqayya pernah mencoret-coret celana seorang siswi bernama Dina pakai pewarna bibir, lalu memotretnya dan menyebarkan foto itu ke internet dengan narasi menyesatkan. Orang-orang mengira Dina sedang datang bulan. Dina pun jadi bulan-bulanan.

Baca juga: Selain Sekolah Hukum, Drama Law School adalah Sekolah Pendidikan Seksual

Kalau dibiarkan, sifat jahil Ruqayya ini akan terbawa sampai dunia kerja. Bisa saja dia bersikap seperti para perundung di sebuah lembaga yang dikabarkan mencoret-coret alat vital salah satu karyawan pakai spidol.

Dibantu Dina, Mariam menjebak Ruqayya. Mariam berpura-pura menjadi laki-laki di Facebook dan meminta foto Ruqayya tanpa jilbab. Kemudian, Mariam menyebarkan foto itu di internet.

Di Timur Tengah, seseorang yang memutuskan berjilbab, saat tampak tak berjilbab, bisa menjadi sebuah skandal. Langsung saja hal itu memancing jempol netizen untuk merundung Ruqayya secara daring. Membuat Ruqayya akhirnya berhenti sekolah dan dikurung di rumah.

Mariam jahat? Namun, trauma Mariam juga nyata. Ini adalah efek domino. Seandainya kepala sekolah serius menangani KPI (Kasus Perundungan Internal) ini, dengan menjatuhkan hukuman setimpal kepada Layan cs, Mariam tentu tidak akan berbuat sejauh itu.

Untungnya, Mariam tidak tinggal di Indonesia, jadi aksinya tidak terancam UU ITE ketika menyebarkan foto pelaku perundungan. Malahan netizen di sana sibuk menghujat objek foto skandal, sampai pelaku penyebaran akhirnya terlupakan.

Artikel populer: Ya, Inilah “Money Heist” ala Indonesia

Mariam menjadi femme fatale ketika melancarkan serangan balasan kepada Layan yang merupakan musuh bebuyutannya di sekolah. Saat itu, Layan sedang kencan berdua dengan pacarnya di sebuah vila. Entah sempat bikin stories IG pakai fitur close friend atau gimana.

Mengetahui informasi tersebut, Mariam langsung mengadukannya kepada kakak lelaki Layan yang abusif. Alhasil, kakak lelaki Layan langsung melabrak dan menodongkan pistol kepada Layan. Seolah Layan adalah aib keluarga yang harus segera dilenyapkan.

Mariam tahu betul isu sosial di lingkungannya, seperti lepas jilbab dan pacaran yang dilarang keras. Lantas, memanfaatkannya sebagai senjata untuk menjatuhkan lawan-lawannya.

Semua kekacauan itu terjadi karena ada pembiaran terhadap budaya toksik dan perundungan. Ah, andai saja pihak berwenang becus dalam mengurus kasus dengan menghukum pelaku dan melindungi korban, tentu tak akan ada korban perundungan yang malah dilaporkan balik oleh pelaku. Eh, ini ngomongin serial drama, yaa…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini