Reply 1988 (tvN)

Pamor drakor Reply 1988 selama pandemi semakin moncer. Apalagi, setelah Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra kompak menonton serial 20 episode itu dan merekomendasikannya kepada sebanyak-banyaknya orang. Kalau drama Korea ini nggak sebagus itu, mungkin mereka memilih fokus mempromosikan film AADC saja.

Dian Sastro merasa terhubung dengan Reply 1988 karena latar waktu yang dipakai sama dengan saat dirinya menjalani masa kecil. Ditambah, karakter-karakternya mirip dengan teman dan kerabatnya di kehidupan nyata. Sementara, Nicholas Saputra tersentuh dengan keintiman para tetangga di drakor ini yang membudayakan saling kirim makanan, walaupun bukan momen menjelang Lebaran.

Pemeran Rangga dan Cinta di AADC nonton drakor yang sama, itu artinya penting untuk kita tonton juga. Di AADC, Rangga mungkin tidak dapat tetangga yang baik. Ketika Cinta berkunjung ke rumah Rangga, boro-boro tetangga datang kirim makanan, yang ada dikirim bom molotov oleh teroris lingkungan.

Selama di rumah saja dan nonton Reply 1988, penonton bisa menjadikan tokoh-tokoh di drakor ini sebagai tetangga imajiner. Melakukan pembatasan fisik dengan tetangga di kehidupan nyata, tetapi hatinya terkoneksi dengan para tetangga nun jauh di Korea Selatan sana dan berjarak tiga dekade lamanya.

Baca juga: Seumpama Indonesia Me-remake Drakor Reply 1988 Jadi Reply 1998

Setiap penonton Reply 1988 pastinya mendambakan punya tetangga baik seperti penghuni Gang Ssangmundong di Seoul, Korea Selatan. Namun, kenyataannya, kita tidak bisa mengatur siapa tetangga kita. Mungkin seseorang bisa pindah rumah karena tidak klop dengan tetangga. Mungkin juga dua orang yang telah akrab sebelumnya bisa menempati rumah bersebelahan. Selebihnya, bermukim dalam sebuah lingkungan sama seperti sekotak cokelat. Kamu tak pernah tahu tetangga seperti apa yang akan kamu peroleh.

Di sitkom Bajaj Bajuri, Bang Juri beruntung punya tetangga seperti Mpok Minah yang sering minta maaf. Jadi, setiap hari serasa Lebaran. Namun, terkadang juga kerepotan dengan kedatangan Ucup yang new-sahin nyusahin orang sekampung. Apalagi, ketika musim wabah flu burung, Ucup yang sakit tidak mau dikarantina, malah kabur.

Baca juga: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Sementara itu, sitkom Tetangga Masa Gitu? menggambarkan kehidupan bertetangga di lingkungan urban. Dwi Sasono sebagai Adi mewakili watak warga perkotaan yang kompetitif dan tidak mau kalah dengan tetangga. Bintang dan Bastian adalah gambaran pasangan muda yang baru menikah dengan suasana rumah tangga sedang hangat-hangatnya dan kemesraannya rentan bikin iri pasangan lama.

Di kehidupan nyata, bertetangga tidak selalu sehangat kehidupan pengantin baru. Ada kalanya seseorang harus merasakan hati panas karena dicela, semisal tentang status pernikahan. Seorang lelaki lajang yang beli sayur di tengah dominasi ibu-ibu, sering kali diledek oleh para tetangga. Disuruh cepat-cepat nikah, katanya biar ada yang masakin. Lah, itu rumah tangga atau rumah makan?

Lingkungan kita masih belum ramah dengan single dan single parent. Ketika agama menganjurkan penganutnya untuk menyantuni para janda yang berjuang sendirian menghidupi anak-anaknya, praktiknya single mother bisa jadi bahan pergunjingan di majelis subuh tukang sayur. Boro-boro ditanyain kebutuhan dan ditawari bantuan.

Berbeda dengan anak yatim di Reply 1988 yang disayang oleh orang sekompleks. Menjelang Natal, tokoh anak yatim ini ditanya oleh para orangtua di lingkungannya, ingin kado apa dari Sinterklas? Kemudian, para tetangga bekerjasama mewujudkan permintaannya. Walaupun sang yatim telah kehilangan sosok ayah, para tetangga kompak mengisi kekosongan itu.

Baca juga: Jika PSBB di Jakarta Jadi Latar Film Parasite

Belakangan, orang Indonesia terkesan begitu peduli dengan anak yatim. Terlihat ketika kartun Malaysia Upin & Ipin menayangkan adegan anak yatim dijadikan bahan candaan oleh Fizi. Netizen Indonesia-Malaysia bikin pecah internet dengan menuntut permintaan maaf dari karakter Fizi. Hingga akhirnya, Fizi yang notabene kartun meminta maaf dan bikin video klarifikasi ala influencer baru bikin blunder.

Di Reply 1988, penghuni Gang Ssangmundong beragam. Ada kepala rumah tangga yang bekerja di perusahaan, ada pula sosok suami yang berwirausaha. Ada janda dengan dua anak. Ada juga duda dengan anak semata wayang.

Kemudian, ada ibu rumah tangga yang mengisi waktu luang dengan bergosip di depan rumah. Ada pula seorang ibu yang merangkap agen asuransi supersibuk. Tokoh wanita karier ini jarang sekali berbaur dengan tetangganya. Sampai-sampai tokoh ini tidak ikut foto bersama tokoh lain untuk poster drakornya. Mungkin saat pengambilan foto, dia belum pulang kerja.

Artikel populer: Deket Doang, Jadian Nggak: Menyoal “Kita Ini Apa?” di NKCTHI

Reply 1988 bisa jadi bikin kita punya standar tinggi tentang tetangga idaman. Padahal, drakor itu hanya memotret potongan kecil dari kehidupan. Realita yang tidak ditayangkan tentunya lebih banyak.

Satu hal yang tak terlalu jadi sorotan adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Nyatanya, masih banyak perempuan yang menjadi korban. Selain itu, tak jarang kita temukan orangtua yang abusif kepada anaknya. Tak hanya kekerasan verbal, tapi juga disertai kekerasan fisik.

Namun, sering kali kita masih enggan melerai konflik relasi kuasa tersebut. Sebab kita lebih tertarik untuk mencampuri urusan asmara orang lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini