Maudy Ayunda Galau soal Harvard-Stanford, Kita Galau soal Apa?

Maudy Ayunda Galau soal Harvard-Stanford, Kita Galau soal Apa?

Maudy Ayunda (Instagram)

“Maudy Ayunda keterima di dua kampus Ivy League-Favorit di Amerika, Harvard dan Stanford. Cuma pengen tau aja berapa duit buat modal belajar GMAT, TOEFL IBT dll-nya. Berprestasi pun butuh modal banyak, gaes. Makanya jangan miskin eaa…”

Begitu kutipan Instastory seorang kakak tingkat yang konon menempuh perjuangan lahir batin-jiwa raga(t) demi berebut beasiswa dari kementerian. Hmmm, cukup waras dan mashook akal.

Itu kenapa saya salut banget sama kamu-kamu yang dengan segala keterbatasan, tapi mampu mengukir prestasi-prestasi gemilang. Mari prok prok prok dulu buat kamu semuanya.

Saya pun jadi paham kenapa iklan rokok sering bilang bahwa bakat itu omong kosong. Karena selain bakat, prestasi pun butuh ragat. Tiada ragat, ya modal nekat.

Selain Maudy, selebriti lain yang sama kinclongnya di ranah akademik adalah Cinta Laura, Gita Gutawa, dan Tasya Kamila. Dua nama terakhir adalah awardee LPDP. Karena mereka dibiayai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), beberapa teman yang gagal lolos seleksi LPDP sering menjadikan mereka sasaran sambat.

Misalnya, “Kurang tajir apa sih Erwin Gutawa buat nalangin biaya pendidikan anaknya?” Atau, kelakar lainnya, “Tasya Kamila pulang-pulang ke Indonesia hobi ngendorse wedding organizer. Lah, kalau kontribusi sosialnya begitu mah nggak perlu ke Columbia, mending BSI aja.”

Baca juga: Hal-hal Kecil tapi Penting saat Mendaftar Beasiswa

Tentu saja yang demikian hanya patut dilontarkan pada rumpi-rumpi sesama teman sendiri, bukan di Instastory, apalagi di kolom kementar doi. Bisa-bisa mengundang kontroversi. Awas, bahaya laten fanbase.

Namun, bagi mereka yang hatinya teduh dan caption-nya selalu berisi positive vibes, tentunya bakal menganggap fenomena selebriti berprestasi sebagai hal yang berfaedah. Sebagai figur publik, mereka bisa mempengaruhi berjuta umat followers-nya untuk lebih giat belajar dan… semakin gigih bersaing beasiswa akademik.

Sementara, bagi mereka yang gagal lolos, seringkali mengomentari proses seleksi. Misalnya, siapapun berkompetisi dengan aturan sama, terserah latar belakang hidupnya gimana. Mau anak buruh pabrik yang kebutuhan proteinnya didapat dari asupan keong hingga anak pemilik pabrik yang asupan proteinnya dari ikan salmon, syarat IELTS-nya sama.

“Tapi kan ada juga LPDP Afirmasi, persyaratannya pun lebih mudah,” kata teman-teman haluan positive vibes.

“Ah… Berapa sih porsi yang afirmasi? Apa disesuaikan dengan jumlah penduduk miskin se-Indonesia?” timpal kawan-kawan haluan kecewa.

Begitulah debatnya.

Baca juga: Pengakuan Lelaki Semenjana tentang Perempuan Cerdas

Sebenarnya, fenomena selebriti berprestasi akademik ini agak membanggakan, dimana rata-rata perempuan. Seperti sederet nama yang disebut tadi. Soal itu, mungkin bisa dibahas lebih lanjut oleh jama’ah Voxpop lainnya, hehe.

Tulisan ini cuma mau menyinggung realitas sosialnya. Sebab, sewajarnya akademisi, semestinya bisa ditemukan dengan mudah, paling tidak satu research paper karyanya. Entah itu di akun Academia, ResearchGate, atau bahkan di portal jurnal internasional.

Atau, yang ringan-ringan saja lah. Misalnya, artikel di Jakarta Post atau The Conversation. Saya kira kolom Kompas pun bakal dengan senang hati memuat ulasan para selebriti terkait salah satu persoalan bangsa, apalagi soal isu-isu perempuan. Cucok dan mantul.

Sayangnya, ulasan-ulasan yang memuat cara pandang analisis mereka ini nyaris sulit muncul di permukaan linimasa, lain hal dengan potogeniknya.

Dari sini, saya mencoba memahami perasaan teman-teman yang lafal sambat-nya sedemikian nyinyir tadi. Sebab, saya begitu tahu bagaimana kamar kos mereka dipenuhi buku-buku yang diperoleh dari hasil mengorbankan uang makan.

Alaaah… tapi apa gunanya, dasar mereka yang kurang gigih dan kalah CV!

Baca juga: Suami-suami Takut Istri Berpendidikan Lebih Tinggi

Ketika yang lain dengan yakin mengejar beasiswa, beberapa teman ada yang mengalami kegalauan dalam langkah pendidikannya. Kegalauan yang tak kalah berat dari apa yang dialami Maudy Ayunda.

Seorang teman, perempuan lajang usia 23 tahun, terpaksa menjadi buruh bergaji UMR selepas S1. Bukan karena idealismenya luntur, keinginan untuk belajar lebih tinggi terkubur.

Ayahnya yang menderita stroke dan ibunya yang hanya bekerja serabutan, serta adiknya yang membutuhkan biaya sekolah, membuat ia galau bersaing di ranah beasiswa yang untuk melengkapi persyaratannya saja butuh modal.

Akhirnya, ia memilih bersaing di pasar tenaga kerja. Sesuatu yang jelas bisa menafkahi keluarganya, betapapun kecil nominalnya.

Teman yang lain, dengan kemampuan analisis yang dalam dan kritis, galau hendak mengubah LoA conditional-nya menjadi unconditional dengan beasiswa yang belum pasti atau memilih merawat orangtua yang tengah sakit sembari mengembangkan usaha tani di desanya.

Akhirnya, ia putuskan untuk menganggurkan LoA-nya. Hasrat akademik ia lampiaskan dengan membaca berbagai buku dan hasil riset. Ide-idenya dituang dalam ms word yang mungkin saja suatu hari menjadi sebuah naskah buku.

Artikel populer: Cerita-cerita Mahasiswa Papua yang Kuliah di Pulau Jawa

Galau soal pendidikan memang bukan perkara mudah. Lain pihak, lain pula galaunya. Lain teman saya, lain Maudy Ayunda. Pengagum teori Materialisme Dialektika Historis (MDH) Karl Marx itu mengaku sedang dilema berat: pilih Harvard atau Stanford!

Hmmm… Mungkin, seandainya mbak Maudy menerima LoA yang ketiga dari porgram MBA HBS – bukan Hoogere Burgerschool sekolah jaman kolonialisme Hindia Belanda – melainkan Harvard Business School, nggak ada lagi dilema di benaknya. Mahasiswa mana yang tak luluh dengan MBA di Harvard yang begitu bergengsi?

Lha, sekarang doi keterimanya Master of Education di Harvard dan MBA di Stanford, jelas galau.

Begitulah. Setiap milenial yang menempuh jenjang pendidikan tinggi pasti memiliki kegalauannya masing-masing. Entah dilema memilih jurusan, memilih kampus, memilih karier, hingga dilema karena benturan-benturan lain. Wajar.

Yang kurang wajar itu kalau menempuh pendidikan tinggi-tinggi, tapi galaunya karena nggak kunjung dikawini usai wisuda.

Baiqla, mari kita akhiri dengan mengutip kata-kata mutiara ini. “Saya amat familiar dengan Karl Marx. Saya suka pemikirannya tentang konsep materialisme, materialisme dialektika.” – Maudy Ayunda (2016)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.