Ilustrasi (Image by Khusen Rustamov from Pixabay)

20 Mei lalu menandai 101 tahun kebangkitan nasional, sedangkan 21 Mei merupakan perayaan 21 tahun reformasi. Namun, nyatanya, kita belum benar-benar bangkit dan berubah. Terbukti dari perilaku kita yang masih takut atau enggan bersuara.

Sebagai salah satu penggerak kesetaraan melalui media sosial, saya tak jarang menemukan orang seperti itu. Alasan mengapa tidak berani bersuara karena takut di-bully oleh teman, rekan kerja, atau keluarga. Akhirnya menjadi ketergantungan dengan admin media sosial pergerakan.

Padahal, saat akun tersebut muncul bahkan hingga saat ini, selalu dirisak oleh berbagai pihak. Meski demikian tetap hidup dan bertahan. Jadi teringat kata-kata Soe Hok Gie, “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.”

Mungkin ini semacam peninggalan Orde Baru. Seperti kita tahu, pada zaman itu bahkan lebih brutal. Kalau ada yang berani bersuara, terlebih mengkritik penguasa, hidupnya bakal terancam. Kalau sekarang, orang takut di-bully karena khawatir berujung persekusi.

Baca juga: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Bullying atau perisakan memang dapat berdampak pada kesehatan jiwa. Itulah mengapa sering dipakai sebagai taktik untuk menekan atau membuat takut seseorang. Terlebih, di era digital dimana media sosial menjadi medan laga.

Meski begitu, tak ada alasan takut bersuara jika memang benar. Ini bukan berarti mengabaikan kesehatan jiwa. Justru, kalau tidak bersuara, jiwa kita malah lebih tertekan. Lagipula, kalau terus takut dan membebankannya kepada orang lain, apa iya bisa bangkit dan berubah?

Tentunya, perubahan berada di tangan kita. Tak bisa lagi berharap perubahan, kalau kita sendiri tidak berubah. Ini bisa dimulai dari keberanian untuk bersuara. Sebab, kita pun tak bisa selamanya menaruh harapan kepada orang lain. Sama halnya kalau menikah dengan orang yang abusive dengan harapan dia bisa berubah. Nyatanya itu sulit sekali.

Lagipula, bukankah sudah tertera dalam kitab suci bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri? Jadi, berani bersuara demi perubahan juga bagian dari menjalani perintah-Nya.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Tak hanya itu, berani bersuara juga merupakan bagian dari kesalehan sosial. Sebab, tindakan tersebut akan mengundang orang lain untuk ikut bersuara. Kalau mau jadi anak saleh jangan tanggung-tanggung lah, masa cuma saleh sendiri aja?

Tapi, bagaimana kalau kita menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar? Coba tanyakan ke diri sendiri, apakah bisa hidup tanpa mereka? Jika ya, kamu berhak untuk terus bersuara. Jika tidak, berarti lingkunganmu tidak pantas untukmu.

Lantas, bagaimana kalau orang tersebut adalah anggota keluarga? Kalau orangtua, kamu bisa batasi frekuensi pertemuan dengan mereka. Takut dianggap durhaka? Ya kalau itu sebuah kebenaran yang tulus, jalankan saja. Tentunya, setiap orangtua ingin yang terbaik bagi anaknya.

Tuhan pun menciptakan manusia dengan akal dan pikiran, maka gunakanlah dengan bijak. Ingat, kita menuhankan Tuhan, bukan orangtua.

Terus, bagaimana kalau tekanan itu dilakukan oleh teman dekat atau rekan kerja yang hampir setiap hari ketemu – karena beda pendapat atau pilihan politik? Ya itu bisa menjadi konfirmasi bahwa mereka sebetulnya tidak pantas menjadi teman dekat atau rekan kerja.

Baca juga: Kuatnya Budaya “Victim Blaming” Hambat Gerakan #MeToo di Indonesia

Sesungguhnya, kamu pantas berada di lingkungan yang lebih baik. Lingkungan yang menginginkan perubahan, bukan dikelilingi oleh orang-orang berpikiran kolot. Apalagi, bawa-bawa agama dengan pemahaman yang sepotong-potong.

Lagipula, bukankah kita hidup dengan perbedaan sudut pandang? Bukankah kita semua memiliki hak untuk merasa aman dan nyaman dalam kebebasan berekspresi?

Jika kita membenarkan perisakan dan persekusi yang terjadi hanya karena takut, kita berarti membenarkan victim blaming atau menyalahkan korban. Dan, kalau membiarkan orang takut bersuara, tandanya kita membiarkan narasi kebencian untuk menang.

Secara tidak langsung, kita juga mengizinkan orang lain untuk mengambil, memanfaatkan, dan menghilangkan hak kita dalam bersuara. Ini berbahaya, karena sama saja membiarkan anak-cucu dan generasi penerus menjadi terlantar nantinya.

Adapun cara paling ampuh dan sederhana untuk menghindari orang yang merisak adalah, dengan mengabaikannya. Sebagai salah satu korban bullying yang fotonya pernah tersebar di internet, saya cenderung mengabaikan perkataan jahat orang-orang.

Artikel populer: Negarawan, Pak, Bukan Gegarawan (Surat Terbuka untuk Prabowo)

Karena kamu tidak berutang hidup pada siapapun, maka kamu berhak bersuara jika merasa perlu ada perubahan. Mengirim pesan ke admin media sosial pergerakan dengan kata-kata “min, coba lihat deh min” agar bisa di-repost, tidak akan membuat perubahan.

Apalagi, kalau kamu mengirimkan pesan ke admin media sosial cuma buat menanyakan pendapat si mimin hanya karena kamu butuh validasi dari orang lain untuk membenarkan pendapatmu. Nah, daripada sibuk mencari validasi dari orang lain, bukankah lebih baik belajar dari kesalahan sendiri dan mencari validasi dari dalam diri?

Dengan mencari validasi dari dalam diri dan menguatkan pendirian, kamu sudah selangkah lebih maju. Hak yang kita perjuangkan hari ini adalah sesuatu yang sangat istimewa, meski itu sebetulnya standar yang berlaku universal.

Sebagai contoh, HAM adalah standar kehidupan yang mendasar, bukan sebuah keistimewaan. Karena itu, kita memperjuangkan standar hidup yang layak, bukan keistimewaan. Maka, aku di sini mengajakmu, maukah kamu berani bersuara denganku?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini