Mau ‘Ena-ena’ kok Maksa? Istrimu Bukan Boneka Seks, Mas

Mau ‘Ena-ena’ kok Maksa? Istrimu Bukan Boneka Seks, Mas

Ilustrasi boneka (Photo by DAVIDCOHEN on Unsplash)

RKUHP memang rancu di beberapa pasal, tetapi sungguh disayangkan karena banyak orang justru mengalihkan perhatian pada bagian pemerkosaan dalam ikatan perkawinan atau marital rape. Seolah-olah pemerkosaan oleh suami terhadap istri itu nggak ada; hal yang mustahil, tabu, nggak mungkin, dan bentuk-bentuk penyangkalan lainnya.

Lupa dengan kejadian baru-baru ini? Seorang perempuan muda dipaksa suaminya untuk berhubungan seksual dengan dua orang laki-laki lain. Adegan itu kemudian direkam dan videonya tersebar – viral.

Belakangan juga dikabarkan bahwa ternyata suaminya mengidap HIV yang telah menularkan virus itu kepada istrinya. Perempuan muda tersebut menjadi korban ganda karena mendapatkan kekerasan seksual dari suaminya sekaligus dicibir seantero ‘polisi moral’ dengan pertanyaan, “Kok mau?”

Itu baru satu contoh bentuk pemerkosaan terhadap istri. Masih perlu ditambahkan?

Suami yang memaksa hubungan badan saat istri sedang haid atau masa nifas. Masa nifas adalah fase pemulihan pasca melahirkan. Setelah organ kelamin perempuan melewati proses persalinan yang mengakibatkan robekan area vulva (bibir kemaluan), pergeseran tulang panggul, kondisi mulut rahim yang masih lebar, rahim yang masih berkontraksi untuk pengeluaran sisa-sisa darah, kulit dinding vagina yang masih luka, apakah mungkin siap untuk penetrasi?

Baca juga: Suami Perkosa Istri Diketawain, Apakah Kita Hidup di Negara ‘Rape Public’?

Sementara, masa haid adalah proses pengeluaran darah yang juga berasal dari rahim karena siklus perubahan hormon. Akibat kerja hormon tersebut, selain menimbulkan rasa kram di bagian perut, juga mengakibatkan mood perempuan tidak stabil. Jadi wahai para suami, tolong pahami kondisi istri saat mereka dalam perjuangan untuk beradaptasi dengan tubuhnya sendiri. Berhubungan seks saat haid juga dicurigai sebagai faktor risiko terjadinya endometriosis atau peradangan pada dinding rahim.

Belum lagi, jika suami memaksa kehendak seksualnya saat istri dalam kondisi kelelahan. Dengan membawa-bawa dalil agama yang ditafsir oleh otak patriarki mereka, tampak semacam ego maskulin dimana birahi suami harus terpenuhi dan objek seksual yang dinyatakan halal harus mampu menuntaskannya, tak peduli istri dalam kondisi apa. Kalau menolak, siap-siap dibilang tidak akan mencium bau surga.

Ah, masa sih? Sepengetahuan saya, agama tidak memperlakukan perempuan seenak dengkul. Tidak menyepelekan kondisi perempuan hanya untuk urusan birahi laki-laki semata.

Baca juga: Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Jika mengulik lebih jauh lagi dalam kitab-kitab ulama, istri boleh menolak berhubungan intim dengan suami dalam kondisi tertentu, termasuk jika istri sedang kelelahan. Tidak semua perintah suami wajib dipenuhi, bahkan menjadi haram jika menyalahi aturan agama.

Dan, agama tidak membenarkan kekerasan. Saling menghargai dan menghormati kehendak pasangan adalah inti dari ijab kabul. Ijab kabul bukan pertanda kepemilikan atas tubuh orang lain. Ikatan rumah tangga adalah bentuk berpasangan, tidak ada tuan dan budak di dalamnya.

Hubungan seks adalah hubungan intim yang seharusnya berlandaskan suka sama suka, rela, dan ikhlas. Dengan begitu, kepuasan seksual yang hqq pun tercapai. Maka, nikmatilah surga dunia yang sesungguhnya.

Tapi masih saja ada yang ngotot menyangkal marital rape. Bahkan, sampai ada pernyataan, “Kan sama-sama enak, ngapain ditolak?” Lha, siapa bilang seks itu selamanya enak? Pada saat tidak bergairah, dinding vagina tidak mengeluarkan cairan lubrikasi yang berfungsi sebagai pelicin. Jika suami memaksa penetrasi, tentu saja terjadi gesekan yang menyakiti kelamin perempuan. Apa enaknya, coba?

Baca juga: Bercinta dengan Tubuh Sendiri, Kenapa Tidak?

Kalau tetap ingin menjungkir balikkan istri layaknya benda, mending suami seperti itu beli boneka seks saja. Boneka seks adalah benda yang memang diciptakan untuk objek seksual, bukan pasangan yang hidup dan merasakan kondisi tubuhnya sendiri.

“Tapi mbak, aku sudah nikah sekian tahun, aku tidak pernah diperkosa sama suamiku.” Hey, itu hidup kamu, bukan orang lain. Sangat egois jika yang menjadi patokan adalah rumah tangga yang baik-baik saja. Yang namanya manusia, tidak semua jalan kehidupannya persis sama dengan yang lain. Jika rumah tanggamu serasa berada di surga, bisa jadi ada di antara kita yang sedang terbakar bara neraka.

Anehnya, penolakan seperti itu tidak hanya berasal dari kaum laki-laki yang biasanya suka menuntut. Mereka yang merasa baik-baik saja sebagai istri karena beruntung dimuliakan suaminya malah tidak memiliki rasa empati sama sekali.

Saya tidak bisa bayangkan jika korban kekerasan seksual tidak mendapat dukungan dari para perempuan yang seharusnya lebih peka terhadap penderitaan sesamanya. Lalu, dengan siapa lagi mereka berjuang?

Artikel populer: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Pemerkosaan berarti memaksakan kehendak kepada orang lain dengan kekerasan atau ancaman. Makanya, aneh saja bahwa ada sekelompok orang yang bilang, “Aku rela diperkosa suamiku sendiri.” Hellooo, kalau rela bukan pemerkosaan, keleus.

Atau, jangan-jangan mbaknya masokhis, dimana kenikmatan atau kepuasan seksual diperoleh ketika mendapat perlakuan kejam atau rasa sakit dari pasangan. Tapi, selama ada sexual concent, itu pilihan. Asal jangan bilang bahwa semua pasangan seksual rela disakiti.

2 COMMENTS

  1. Oh berarti nunggu istri sangek aja gitu ya jadi biar sama2 enak..? gak perlu d paksa..
    atau beli boneka sex klo nanti istri lagi gak sangek bisa pake boneka sex nya..

  2. Semua sudah diatur dalam Islam, dalam berhubungan intim suami istri ada adabnya, mencumbu fore play terlebih dahulu. di dalam ikatan perkawinan Islam berhubungan intim adalah sedekah dan berpahala besar. Surga istri tergantung ridho suami. ISlam diturunkan sebagai tuntunan bagi semua umat. jika ingin tenteram ikutlah Islam, sesuai yang dincontohkan NAbi SAW. Pasti beres n simple.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.