Masukan untuk Jokowi soal Penitipan Anak, dari Ayah ‘Day Care’

Masukan untuk Jokowi soal Penitipan Anak, dari Ayah ‘Day Care’

Ilustrasi (Porapak Apichodilok via Pexels)

Dalam pidatonya yang lumayan panjang di Sentul, Presiden yang juga Calon Presiden, Joko Widodo alias Jokowi mengucapkan satu kalimat yang cukup bikin orangtua milenial bungah.

“Pemerintah juga akan bangun program-program penitipan anak secara masif. Untuk menjaga buah hati di saat orang tuanya bekerja.” Demikian sesuai potongan video yang tentu saja diedarkan oleh pendukungnya. Sementara, pendukung calon yang lain kemungkinan segera membuat puisinya.

Pasca drama seorang gadis Asisten Rumah Tangga (ART) yang minta pulang karena kangen emak – dan sampai sekarang pun tetap jadi pengangguran – serta penggantinya yang janda juga minta pulang karena mau nikah lagi, saya dan istri memang berketetapan hati untuk menitipkan anak semata wayang kami di tempat penitipan anak alias day care.

Mau berbagi peran dengan istri bahwa ia harus berhenti kerja, lalu mengurus anak di rumah? Boleh saja idenya, tapi saya butuh solusi bagaimana ceritanya gaji Rp 3,3 juta sebulan bisa digunakan untuk menghidupi 1 suami, 1 istri, dan 1 anak yang makan dan susunya lahap. Ha wong yang bayar day care ini saja istri saya, kok. Heuheu.

Menurut saya, day care yang ada saat ini tidak akan bisa dijangkau bagi para pekerja dengan gaji UMR. Di sekitar Bintaro, misalnya, harga Rp 2 juta sebulan itu sudah sangat murah untuk tempat penitipan anak selama 5 hari kerja dari pukul 6 pagi sampai 6 sore. Sebab, kisaran harganya kini mencapai Rp 3,5 juta.

Jangan tanyakan harga day care di pusat kota Jakarta, lebih tinggi lagi. Ada yang bisa sampai Rp 5 juta. Sangat tidak masuk akal bagi pekerja dengan gaji Rp 4 juta untuk menitipkan anaknya di day care. Sebab, gaji habis untuk makan, susu, popok, ongkos ojek dan taksi online, serta beli pulsa guna mengeluh di Instastory.

Padahal, begitu meniqa, tetangga julid hingga pakde-budhe yang jauh sekali akan rajin bertanya, “Kapan punya anak?”

Baca juga: 3 Nasihat yang Tidak Perlu Didengar oleh Orangtua Milenial

Nah, mengingat janji membangun program penitipan anak secara masif sudah terlontar dari capres petahana, sudah tentu harus diseriusi. Soalnya, kalau terpilih, maka tidak hanya pendukungnya yang akan menagih janji. Pendukung capres oposisi pun akan senantiasa menyebarkan list janji-janji blio yang kalau tidak terwujud bakal dibilang bohong.

Untuk menyeriusi ide tersebut, saya selaku ayah yang memanfaatkan day care hendak memberi masukan yang substantif, masif, dan terstruktur melalui Voxpop.

Kalau perlu, saya bisa kok diangkat sebagai Tim Presiden Untuk Percepatan Pembangunan Tempat Penitipan Anak (TP3TPA) maupun staf khusus Presiden bidang pengelolaan day care. Lumayan, biar begini sudah pernah mengantar anak ke day care dalam posisi bayi belum bisa apa-apa sampai sekarang sudah bisa buka pintu dan pencet tombol lift sendiri.

Lokasi

Bagaimanapun, lokasi adalah faktor paling utama dari day care. Kalau ada bapak-ibu punya rumah di Sewon, Bantul dan bekerja di Jalan Sudirman, Kota Yogyakarta, tidak akan pilih day care di Jalan Magelang kilometer 9. Itu muter, namanya.

Untuk itu, sejumlah tempat penitipan anak atau TPA-TPA yang masif tersebut harus didirikan di simpul-simpul tempat tinggal. Atau, kalau di Jabodetabek, dekat dengan stasiun atau pintu tol – yang biasa jadi tempat menunggu bis.

TPA di dekat tempat kerja orangtua mungkin baik untuk kontrol, namun tidak baik dalam konteks berangkat kerja. Bayangkan saja ada bayi harus diangkut dari Bogor ke Tebet naik KRL yang kayak bikin adonan donat itu setiap pagi, harus berbau dengan keringat hingga virus yang beredar di dalam gerbong pula.

Belum lagi, harus berangkat pagi-pagi benar dan pertanyaan lanjutannya adalah, “Kapan bikin MPASI-nya?!”

Sungguh, sangat tidak sehat untuk bayi apalagi orangtuanya. Itulah sebabnya day care di tengah kota Jakarta harganya tinggi, ya karena memang yang gajinya cocok adalah suami istri bergaji belasan juta dan punya mobil.

Baca juga: Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Keamanan

Isu terbesar soal day care adalah penculikan anak. Apalagi, pada zaman yang sedikit-sedikit viral seperti sekarang. Itulah sebabnya ketika pendaftaran bayi ke day care, orang-orang yang boleh mengantar dan menjemput itu harus ditandai. Kalau misalnya nenek atau kakek mau menjemput juga harus izin pengelola dan atas arahan orangtua.

Day care juga harus punya lokasi yang sangat aman dari sisi manapun. Kudu ada jaminan bagi anak dari masuk sampai keluar lagi, benar-benar tak ada celah.

Sebagaimana sekarang banyak day care yang bahkan membatasi akses pengantar dan penjemput hanya sampai loket penerimaan saja. Kalau perlu lagi, dibuatkan standar ruangannya persis kayak denah pabrik obat diatur dalam pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

Harga

Seperti disinggung tadi, harga day care sekarang sudah sangat nggak karu-karuan. Selain uang bulanan, ada day care yang sudah seperti sekolahan, karena menerapkan uang gedung dan apalah-apalah lainnya.

Untungnya, day care anak saya hanya uang bulanan dan tahunan saja. Mungkin tahu konsumennya sobat missqueen metropolitan. Hehehe.

Sementara itu, di Solo, adik saya bisa dapat day care dengan harga Rp 600 ribu. Atau, malah di kantor saya yang lokasinya di Jakarta Pusat bisa kasih harga Rp 800 ribu. Namun, tidak bisa saya jangkau karena ogah bayi naik KRL itu tadi. Ini belum lagi di kota-kota lainnya.

Ketika TPA muncul sebagai inisiatif pemerintah, itu berarti negara masuk ke pasar yang sudah terbentuk mekanismenya. Sebagaimana sebagian sekolah swasta gelagapan ketika pemerintah masuk dengan pendidikan gratisnya.

Jika tidak dikelola dengan baik, kejadian itu bisa muncul juga dalam konteks TPA. Atau, kalau memang hendak kasih harga subsidi, ya tetap harus diperhatikan juga pekerjaan dan gaji orangtuanya.

Baca juga: Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Jam Buka

Ada teman di Cibinong yang tiap 3 bulan ganti ART tapi tidak punya solusi menitipkan anak, karena tempat yang tersedia di sekitar situ baru buka pukul 7.00 pagi. Sementara, bis jemputan adanya pukul 5.30 pagi untuk bisa sampai kantor pukul 7.00 pagi dan tidak terlambat.

Semakin jauh dari simpul-simpul perumahan penduduk, maka TPA atau day care yang akan didirikan pemerintah harus buka semakin pagi. Kalau di Bogor, ya harus ada TPA yang buka pukul 4.30 atau 5.00 pagi.

Kalau tidak, ya faedahnya berkurang. Solusi untuk hal ini cuma satu: hapuskan ketentuan potong gaji berdasarkan absensi kehadiran – sesuatu yang saat ini berlaku umum bahkan hingga ke kantor-kantor pemerintahan.

Kebersihan

Salah satu masalah yang pasti terjadi di day care adalah penyebaran penyakit. Ya bayangkan saja ada 40 bayi dalam 1 tempat, hampir pasti tidak ada hari ketika ke-40 bayi itu sehat dalam waktu yang sama.

Pasti, ada yang sakit dan itu seperti siklus saling menulari, sementara cuti orangtua terbatas dan kadang-kadang terpaksa menitipkan anak dengan suhu tubuh 37,5 derajat celcius dan hidung tersumbat ke day care karena tidak bisa libur lagi.

Untuk itu, TPA besutan pemerintah nanti harus bekerja sama dengan fasilitas kesehatan, terutama yang memiliki alat untuk sterilisasi sebagaimana yang digunakan di rumah sakit untuk membersihkan kamar inap pasien.

Oh ya, jangan lupakan variabel anti-vaksin dalam hal ini. Menempatkan anak yang tidak divaksin di lingkungan yang sangat rentan penularan penyakit semacam ini, maaf saja, bagi saya itu membunuh anak secara terencana.

Kalau saya dan istri sih lebih memandang day care sebagai metode meningkatkan imunitas anak dengan menempatkan anak pada paparan teman-temannya yang ingusan, tentunya pasca membekalinya dengan imunisasi yang lengkap terlebih dahulu.

Ya, walaupun dalam 12 bulan pertama, hampir tiap bulan kami ke dokter untuk penyakit mulai dari flu biasa sampai flu Singapura. Untunglah sekarang si bayi sudah jauh lebih tangguh.

Artikel populer: Cek Fakta: Apakah Benar Setiap Anak Indonesia Tanggung Utang Negara Rp 13 Juta?

Para Penjaga

Kita jaga 1 anak di rumah saja – itupun anak sendiri – kadang sudah naik darah. Sekarang bayangkan 1 orang harus menjaga beberapa anak dengan kelakuan yang macam-macam dan bukan anak sendiri?

Pekerjaan sebagai penjaga anak di day care adalah pekerjaan yang sangat tidak mudah. Sebab itu, mencari orang yang bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik juga tidak gampang.

TPA besutan pemerintah tidak boleh hanya memberikan gaji honorer kepada petugasnya. Kalau perlu diangkat PNS dengan tunjangan kinerja yang grade-nya setara grade bapak dan ibu yang menitipkan anaknya di tempat itu.

Sanksi

“Eh, tahu nggak, kalau di situ anak kita cuma dianggurin, lho. Terus, saya nggak yakin kalau makanan yang kita bawa beneran dikasih ke anak, wong anaknya kalau sama saya makannya susah.”

Pernyataan semacam itu seringkali muncul dalam diskusi tidak sehat di kalangan ibu-ibu yang menitipkan anaknya di sebuah day care. Opini dikembangkan hanya tidak puas, padahal bagaimanapun day care punya keterbatasan.

Masalahnya adalah, ketika masalah pribadi diupayakan jadi masalah orang lain juga. Padahal, kalau saya misalnya, ketika anak pulang dengan bibir jontor selagi ada penjelasan yang logis, ya tidak masalah. Penerimaan orangtua kan beda-beda.

Tanpa bermaksud bias gender, namun selama setahun lebih jadi ayah day care tidak pernah terlintas di benak saya dan bapak-bapak lain yang rajin antar jemput untuk bikin grup WhatsApp bareng membahas tumbuh kembang anak. Dialog-dialog provokatif itu justru saya temukan dari ponsel teman-teman yang kebetulan ibu-ibu, dari day care anaknya masing-masing.

Untuk itulah, jika nanti ada TPA dari pemerintah, orangtua yang semacam itu perlu diberi sanksi karena dapat menimbulkan keresahan dari sesama orangtua yang lagi mumet cari uang demi menghidupi keluarga.

Menjadi ayah day care adalah salah satu pengalaman terbaik dalam hidup saya, dan jika TPA buatan pemerintah nantinya muncul, pastinya banyak orangtua day care lain yang akan merasakan keseruannya.

Semoga, secuil kalimat dari pidato nan panjang tadi tak sekadar janji belaka, yha…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.