Ilustrasi bertanya. (Robin Higgins/Pixabay)

Saat menjadi guru ekstrakurikuler Bahasa Inggris untuk anak usia 6-8 tahun di SDIT, saya rutin memberi PR kepada murid untuk mencatat 20 kata dalam Bahasa Inggris beserta artinya dengan topik tertentu. Misalnya dapur, ruang kelas, profesi, dan tentu saja anatomi. Mengajar di tiga kelas, saat tema anatomi, tak ada satu pun murid yang menulis kata “penis” dan “vagina”.

Bertahun-tahun sebelumnya, ketika mengajar untuk anak-anak putus sekolah yang bersiap kembali ke sekolah dan/atau ikut ujian kejar paket usia SD-SMP, ada murid usia 9 tahun curhat. Dia galau ingin menikah supaya pacarnya (yang anak SMP) nggak selingkuh setelah kembali ke sekolah. Kondisi ekonomi yang buruk membuat ruang hidup mereka menjadi sangat sempit. Pacaran, sentuhan fisik dari lawan jenis, kata-kata seperti “nikah”, bahkan aktivitas seksual orang dewasa di sekitarnya tidak asing bagi mereka. Namun, selalu risih tiap kali saya sebut kata “penis” dan “vagina”.

Risih, jijik, ekspresi-ekspresi ketidaknyamanan sering kali diungkapkan secara verbal oleh anak-anak itu. Mereka bilang, “Nggak sopan.” Orangtua dan orang-orang dewasa di sekitar mereka mengajarkan demikian.

Baca juga: Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi

Alih-alih menjelaskan kenapa anak perempuan perlu menjaga kebersihan vagina saat menstruasi, orang dewasa malah membahas tentang rasa malu dan mengatakan bahwa menstruasi harus ‘ditutup-tutupi’.

Bukannya menerangkan bahwa penis ereksi di pagi hari adalah situasi yang normal (dikenal dengan istilah nocturnal penile tumescence atau NPT), anak malah dipukuli atau dimaki karena dianggap pernah nonton video porno, sehingga terangsang dan terbawa mimpi.

Penis dan vagina dimaknai sebagai alat untuk bersetubuh dan jorok. Padahal, penis dan vagina adalah organ reproduksi yang perlu dibahas karena berkaitan dengan kesehatan tubuh seseorang. Jangan malah diberi label “tak elok”.

Dari orangtua yang ribet tanpa alasan masuk akal dan pengetahuan yang benar itulah, anak-anak belajar untuk merasa malu tentang organ reproduksi yang mereka miliki. Boro-boro mendapat pendidikan seksual dan pengetahuan tentang organ reproduksi, menyebut organ tubuh sendiri saja sudah disuruh diam.

Seorang teman pernah membagikan tulisan di Facebook, dimana seseorang menulis bahwa teman sepermainan anaknya melakukan onani beramai-ramai. Saat ditanya, mereka tahu aktivitas tersebut dari video di Youtube, dengan mengetik kata “penis” di kolom pencarian. Anaknya tidak ikut menonton video, bahkan ia tidak tahu apa itu penis karena selama ini punya sebutan yang lucu, yaitu “wiwi”. Karena tidak tahu penis, anak tersebut tidak curiga ketika teman-temannya menonton video konten dewasa.

Baca juga: Kenapa Harus Malu ketika Sedang Menstruasi?

Kisah serupa juga dialami oleh teman saya, seorang ibu dengan anak tunggal berusia 7 tahun. Anak-anak tetangga saling memainkan penis temannya saat bermain di rumah. Para ibu yang anaknya memainkan penis diajak berkumpul untuk membicarakan hal itu, tiga dari empat ibu tersinggung.

Alih-alih melakukan evaluasi dan berdiskusi tentang cara yang tepat untuk mengatasi hal tersebut, mereka malah menyalahkan pihak lain karena mengenalkan kata-kata seperti “penis” dan “vagina”, yang membuat anak-anak mereka bisa menemukan video konten dewasa. Persoalan itu berlalu begitu saja tanpa penyelesaian. Teman saya hanya bisa membatasi waktu bermain anaknya dengan para anak tetangga.

Khas orangtua di Indonesia banget sih ini, mencari-cari alasan dan menyalahkan pihak lain. Anak terjatuh, menyalahkan lantai dan barang lain di sekitarnya. Anak nonton konten dewasa, menyalahkan kata “penis” dan “vagina”.

Natasha Burgert, seorang pediatrik, menjelaskan bahwa ada empat alasan penting dalam tulisannya yang berjudul “I Say Penis and Vagina: 4 Reasons You Should, Too”. Pertama, agar anak mampu mengenal dan bertanggung jawab atas tubuhnya sendiri. Kedua, menyebut bagian tubuh yang privat dengan nama yang sebenarnya bisa menarik batas hitam dan putih dengan lebih jelas, sehingga lebih aman untuk si anak.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Lalu ketiga, jika terjadi sesuatu pada tubuhnya, anak lebih terbuka meminta tolong dan menjelaskan apa yang ia rasakan karena penis dan vagina sama saja seperti organ tubuh yang lain. Keempat, orang dewasa yang menolak menyebut kata yang sebenarnya dan mengganti dengan istilah lucu hanya akan membuat anak merasa bagian tubuhnya tersebut memalukan dan tak pantas disebut dan dibicarakan.

Jika permasalahannya adalah khawatir anak terpapar konten dewasa karena kata-kata tertentu, dari beragam pengalaman teman dan diri sendiri, setidaknya ada tiga tahapan yang bisa dilakukan, yaitu keterbukaan, batasan, dan kesepakatan. Tiga tahapan itu terbukti bisa membuat anak mengerti bagian tubuhnya sendiri, memahami apa yang boleh dan terlarang, bahkan menghormati tubuh orang lain.

Keterbukaan adalah langkah awal, bisa juga dilakukan seiring dengan pendidikan seksual, termasuk mengenal penis dan vagina. Batasan adalah ketika kita menarik garis yang jelas tentang do & don’t. Misalnya dengan berkata, “Orang lain, meski keluarga, tidak boleh menyentuh penis/vagina milikmu, ya, Nak.”

Selanjutnya, kesepakatan dilakukan ketika anak sudah mengenal dan menjadi pemakai gadget yang aktif, sedangkan orangtua sulit mengawasinya. Mengenalkan “penis” dan “vagina” sebagai kata yang tidak boleh diketik di kolom pencarian adalah bagian dari literasi digital.

Artikel populer: Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Tidak perlu membebani anak-anak dengan stigma dan prasangka-prasangka orang dewasa pada kata “penis” dan “vagina”. Dua kata tersebut selayaknya memiliki muatan tentang kebenaran dan kesehatan, bukan dosa serta asusila.

Mungkin terlalu berat dan ekstrem bagi sebagian orang. Saat ramai dibahas Permendikbud No 30 Tahun 2021 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual (PPKS) di lingkungan perguruan tinggi saja bertebaran respons yang ‘lucu’ dari netizen. Salah satunya, kata “seksual” dan “seks” disensor pakai tanda bintang. Memangnya kalau kata-kata sudah disensor, perbuatan asusila dan kekerasan seksual bisa dicegah dan berkurang? Auto-relijius dan bermoral? Entah hasil akhir apa yang diinginkan dengan menjebak diri dalam kesantunan dan kenyamanan palsu semacam itu. Pola pikir kuno tentang cara berkata-kata perlu diubah. Kesantunan teks membutuhkan konteks.

Mengajarkan kata “penis” dan “vagina” kepada anak-anak perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan mereka. “You are not teaching sex, you are teaching anatomy,” kata Natasha Burgert.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini