Karena Penasaran, Ku Wawancarai Marno Blewah dan Aku Kagum!

Karena Penasaran, Ku Wawancarai Marno Blewah dan Aku Kagum!

Ilustrasi (Daniel McCullough/unsplash.com)

Hidup ini memang sudah didesain oleh Tuhan dengan sedemikian rupa. Ada hitam, ada putih. Ada baik, ada jahat. Lalu, ada yang tampan dan ada pula Marno Blewah.

Hmm… Apakah Anda merasa saya sedang menghina Marno Blewah atau @MarnoMbois bahwa dia tidak tampan? Oh tidak… Lagipula, meski tidak tampan, Tuhan tetap sayang Marno Blewah. Ia diberi kelebihan untuk bisa melucu.

Dengan kelebihan itu, ia bisa berseliweran di jagat maya dan disayang oleh puluhan ribu warganet, yang mungkin belum pernah bertemu dengannya. Hidup memang adil, bukan?

Gokil… Kenapa malah kayak motivator begini? Padahal, kali ini yang dibahas akun komedi di Twitter.

Ya sudah, daripada terus memuji Marno Blewah yang hanya akan membuat kamu semakin menderita penasaran, mending langsung simak hasil wawancara saya selaku perwakilan Voxpop Indonesia dengan Marno Blewah.

Semoga tidak menyesal membacanya…

Mas, kapan sih akun Marno Blewah dibikin?

Akun ini dibikin oleh keadaan. Satu waktu tercipta keadaan dan suasana yang membuat adanya si Marno ini, maka terjadilah.

Terus, kenapa harus buat akun seperti itu?

Internet, khususnya Twitter, yang menciptakan saya. Itulah kenapa saya nongol di internet, karena kalau nongol di pagupon (kandang burung) itu namanya burung dara.

Itu foto avatar betulan muka masnya?

Bukan.

Oh ya, kalau tidak salah dulu username dan display name-nya sama-sama MarnoMbois. Terus, dalam perjalannya, display name berubah menjadi Marno Blewah. Lantas, apa yang melandasi perubahan nama itu, sih?

Sebenarnya display name saya dulu itu Zayn Marno, biar semua orang tahu kalau saya sama Zayn Malik itu kembar, cuma beda bapak dan ibu saja. Kemudian, pada satu hari, saya ganti menjadi Marno Blewah. Tahu kenapa alasannya? Biar gak papa. Kenapa harus blewah? Biar gak papa.

Tapi, apa sudah syukuran bubur merah putih untuk pergantian nama ini?

Justru bubur merah putih yang syukuran untuk saya, karena akhirnya saya pakai nama Indonesia. Tapi nggak pakai upacara kok, karena mereka nggak bisa baris.

Sebenarnya, susah atau gampang bikin akun komedi sekaligus mengelolanya? Sebab akun Marno Blewah aktif banget di internet.

Kalau bicara dalam koridor komedi, pasti susah. Nggak ada yang gampang untuk urusan konten. Kalau ditanya kenapa aktif banget (di Twitter), saya cuma spontan ngetwit yang lewat di kepala aja, atau berdasar momen-momen tertentu.

Kalau inspirasi untuk bikin twit-twit yang lucu datangnya dari mana?

Datang dari situasi sekitar yang semakin ruwet, mungkin menjurus ke lucu. Setidaknya, dari situ saya berusaha untuk tidak menambah ruwet di media sosial lewat cuitan… paling cuma dikit.

Selama akun ini hidup, sering banget saya baca twit “piye perasaanmu nek dadi kates?” Kalau dialihbahasakan jadinya “gimana rasanya kalau kamu jadi pepaya?” Memangnya apa filosofi dari kalimat tersebut?

Tidak semua hal harus punya filosofi, termasuk kalimat di atas itu. Ya saya cuma tanya aja, gimana perasaan kalian kalau jadi kates (pepaya), masa nggak boleh? Toh, kalau saya ganti jadi “Piye perasaanmu nek dadi kopling?” kan ya gak papa juga to? Itu sudah.

Lantas, kenapa kates alias pepaya? Kenapa tidak durian, tomat, atau buah lainnya?

Ya gak papa, biar kates aja.

Kan di internet banyak banget orang yang membanggakan ketampanannya, sementara Marno Blewah malah melakukan sebaliknya? Saya kagum loh.

Nah, itu sudah dijawab sendiri. Saya juga bangga atas ketidaktampanan ini, jangan salah. Yang penting saya bahagia, kalian nggak usah nggak papa.

Akun Marno Blewah ini sering banget dibalas warganet. Apakah itu yang namanya kharisma?

Saya nggak tau untuk urusan ini Kharisma atau mungkin Supra, karena saya bukan Honda. Yang paling penting bagi kita semua adalah berinteraksi dan berteman. Friendzone.

Butuh berapa lama untuk membangun interaksi seperti itu?

Saya nggak pernah mengamati secara detail. Dari awal, intinya saya ngetwit. Ada yang asyik ngajak ngobrol, ya udah asyik-asyik aja. Mungkin sekarang lebih rame aja dari dulu karena jumlah followers yang lebih banyak. Padahal, saya gak pernah nyuruh mereka follow.

Ada pengalaman menarik saat berinteraksi dengan warganet?

Pasti banyak, bahkan terlalu banyak. Kalau dari saya, yang paling penting dan menarik pasti bertambahnya teman. Mulai dari yang ganteng sampai ganteng banget, dari yang cantik sampai cantik banget, tapi ada juga yang jelek. Untuk yang terakhir itu khusus buat saya. Pokoknya asal kita bisa ketawa bareng aja.

Kalau yang tidak enaknya?

Kadang merasa miris aja, ternyata masih banyak dari kita yang kadang kelewat batas dalam mengomentari fisik, jatuhnya jadi mencela. Nggak pantes aja sih kadang bacanya. Intinya, don’t judge a book by it’s cover. Jangan baca buku yang judulnya judge. Udah.

Lalu, apakah ada twit yang paling Anda sukai?

Pertanyaan ini harusnya untuk teman-teman. Saya ada di sini dari teman-teman, semua twit saya punya teman-teman.

Oh ya, karena sudah sampai di sini, apakah ada pesan-pesan untuk warganet yang sudah buang kuota membaca hasil wawancara kita?

Marno adalah keniscayaan, tidak perlu kau cari.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.