Mari Buktikan Siapa Sebetulnya yang Menang, TV atau YouTube?

Mari Buktikan Siapa Sebetulnya yang Menang, TV atau YouTube?

Ilustrasi (Yanutama David via Unsplash)

Seorang pakar meramalkan televisi (TV) akan bernasib sama seperti radio: ditinggalkan. Penyebabnya, YouTube, YouTube lebih dari TV. Boom!

Benarkah? Mari kita telaah.

Selama ini, saya tumbuh bersama TV. Lalu, TV jugalah yang mempopulerkan sebuah aplikasi bernama YouTube. Sampai akhirnya, sekarang lebih sering buka YouTube daripada nonton TV. Saya tidak setakut dulu jika sampai ketinggalan acara TV favorit, sebab bisa lihat siaran ulangnya di YouTube.

Boleh dibilang YouTubers generasi pertama adalah Sinta & Jojo dan Briptu Norman. Mereka terkenal karena video lipsync dan joget-joget di YouTube. Namun, saat itu, YouTube hanya dianggap sebagai aplikasi berbagi video semata, no money no cry. Tak semenjanjikan sekarang, yang bisa bikin Jess No Limit punya penghasilan per bulan menyaingi gaji Jokowi sebagai presiden.

Sinta & Jojo dan Briptu Norman dapat sorotan berawal dari keisengan di YouTube. Kemudian, mereka dicari-cari oleh pihak TV, diorbitkan, dan diberi panggung. Sampai Sinta & Jojo merantau dari Bandung ke Jakarta untuk jadi bintang iklan sosis. Briptu Norman pun meninggalkan kepolisian untuk mengejar passion di dunia seni sebagai seorang Norman Kamaru.

Biarpun terkenal dari YouTube, tetaplah dunia pertelevisian yang memberikan rezeki nyata kepada para selebriti dadakan tersebut. TV lebih ada duitnya daripada YouTube saat itu.

Skor sementara: YouTube 0 – 1 TV

Baca juga: Menjadi ‘YouTubers’ yang Dihujat Netizen, tapi Dikagumi Presiden

Ketika artis YouTube cari duit di TV, pihak TV malah cari duit dari YouTube. Di salah satu stasiun TV, ada program yang hanya menampilkan video-video dari YouTube. Sepanjang durasi selalu ada credit title “Courtesy of YouTube”. Dengan modal dengkulnya kreator di YouTube, program berbiaya murah itu bisa dapat banyak pemasukan dari iklan.

Mungkin karena inilah seorang YouTuber berani klaim YouTube lebih dari TV. Tepatnya, Jovial da Lopez dalam lagu Ganteng-Ganteng Swag yang diunggah di channel Young Lex. Pernyataan Kak Jo tersebut ada benarnya juga. Sebab, TV mengambil apa yang bisa ditonton di YouTube.

Tanpa YouTube, sebuah program TV akan kehabisan konten. Sudah sepantasnya program tadi menjadi program pemutar video klip musisi Indonesia seperti semula.

Belakangan, Awkarin pun protes kepada salah satu program TV yang menayangkan vlog dari channel YouTube miliknya tanpa izin. Jangan macam-macam ya dengan New Awkarin. Dia tidak sama dengan Karin yang dulu.

Sama seperti acara barunya Tukul Arwana, tidak sama dengan acaranya yang dulu dihentikan KPI. Jika apa yang dihasilkan Awkarin dulu hanyalah konten tak mendidik yang bikin KPAI gusar, sekarang setiap konten yang dihasilkannya adalah karya. Termasuk vlog. Hargai dan puji!

Skor sementara: YouTube 1 – 1 TV

Baca juga: Panduan Lengkap nan Berfaedah saat Nonton FTV

Anehnya, Young Lex yang pernah featuring dengan Kak Jo justru muncul di layar kaca. Punya program sendiri pula di salah satu stasiun TV. Bersama Anya Geraldine, Young Lex jadi host.

Padahal, Young Lex pernah bilang TV hanya mementingkan rating dan ‘menuhankan’ uang. Ternyata memang benar. Demi rating dan uang, pihak TV sampai mau-maunya rekrut sang bad influencer. Sedangkan Young Lex membuktikan sendiri ucapannya dengan terlibat di dalam bisnis yang sempat ia diss. Rapper apa laper, Bang?

Sementara itu, Deddy Corbuzier sebagai host program TV sekaligus YouTuber, mengaku bahwa honornya dari TV lebih gede ketimbang penghasilan dari Adsense YouTube yang nggak seberapa. Nah, kita jadi bisa memaklumi langkah yang diambil Mas Alex ya.

Skor sementara: YouTube 1 – 2 TV

Di YouTube, kita bisa menonton apa yang mau kita tonton. Sedangkan untuk menikmati siaran TV, pilihan kita sebatas channel yang menayangkan program tertentu di waktu terjadwal. Belum lagi, stasiun TV suka latah. Channel satu melejit rating-nya gara-gara sinetron azab, yang lain ikutan kena azab, eh? Maksudnya tayangin sinetron azab juga.

Ditambah sekarang sinetron azab bisa-bisanya memasukkan iklan di dalam adegan. Misalnya, ketika tokoh protagonis sedang ngepel sampai pegal-pegal, mertuanya datang membawakan balsem seraya berucap, “Kamu pegal ya disiksa suami kamu disuruh beberes rumah, sementara dia cuma bisanya maki-maki kufur nikmat? Nih, pakai balsem sponsor biar pegel kamu ilang.”

Saking saktinya produk yang diiklankan, bisa saja nanti makin hard selling. Ketika ending, tokoh antagonis kena azab, misalnya gatal-gatal di sekujur badan. Lalu, pemuka agama datang bukan untuk mengajak taubat, tapi merekomendasikan pakai salep advertorial. Antiklimaks.

Sementara iklan di YouTube masih lebih ramah. Setidaknya masih bisa di-skip. Sebagai penonton, kita harus berterima kasih kepada Google Adsense yang menggaji para kreator konten.

Artikel populer: Seandainya Para Putri Disney Menanti Pangeran di Indonesia

Coba kalau nggak ada iklan, mungkin kita bakal balik lagi ke era 90’an, dimana TV nasional mendatangi rumah-rumah warga untuk minta iuran. Bedanya, sekarang yang datang ke rumah adalah YouTuber yang kita subscribe. Misalnya, Atta Halilintar.

Kebayang kan Atta Halilintar grebek rumah subscribers? Terus, dia bilang, “Ayo, kamu lagi ngapain? Coba lihat smartphone-nya! Buka YouTube ya? Nontonin channel terkece, terkeren, dan terhits se-Indonesia, kan? Ayo, bayar iuran bulan ini!”

Selepas Atta pergi bawa uang langganan, datang Ria Ricis mengucapkan salam dengan ceria, “Assalamualaikum!”

Pencet squishy.

Skor sementara: YouTube 2 – 2 TV

Stasiun TV punya KPI yang jadi wasit. Sementara YouTube? YouTube punya KPAI. KPAI bisa memanggil Anya Geraldine dan Awkarin untuk take down video mereka yang dianggap tak senonoh.

Kenapa Komisi Perlindungan Anak Indonesia sampai ikut campur konten YouTube? Ya karena memang banyak anak-anak yang nonton YouTube. Belum lagi orang dewasa yang kekanak-kanakan.

Jagat internet sempat dihebohkan dengan aksi penggrebekan rumah Angel Lelga oleh Vicky Prasetyo. Sebagai sang gladiator, Vicky berhasil menunggangi Pegasus untuk menjadi Saint Saiya. Maksudnya, Vicky menunggangi TV untuk menjadi bahan perbincangan kembali. Setelah menghantam pintu kamar Angel Lelga pakai chidori, Vicky breaks the internet.

Video penggrebekan yang semula ditayangkan di TV tersebut diunggah kembali oleh reuploader di YouTube. Sampai jadi trending nomor wahid di YouTube. Hal ini sungguh menyakiti hati para YouTubers. Mereka capek-capek bikin konten, kalah dengan drama yang pantas masuk Top 10 Sad Anime itu. YouTube, YouTube isinya dari TV! Boom!

Ketika sensasi Vicky Prasetyo sudah mereda tertimpa isu perceraian Gading-Gisel, barulah KPI memberikan sanksi administratif kepada stasiun TV yang menayangkan penggrebekan tersebut. Hmmm… Nggak sekalian kasih sanksi untuk reuploader di YouTube juga?

Skor akhir: Vicky Prasetyo pemenangnya. Di hadapan Vicky Prasetyo, TV dan YouTube hanyalah pijakan untuk mencapai popularitas dan buah bibir masyarakat.

Kesimpulan: Mau TV atau YouTube, kalau penontonnya sama aja sih tayangannya bakalan begitu-begitu aja.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.