Maleficent: Mistress of Evil (Disney)

Masih ingat kisah Aurora? Yang dikutuk oleh penyihir jahat. Jika tangannya tertusuk jarum, ia akan tidur selamanya seperti orang mati. Kecuali, ia mendapatkan ciuman sejati. Indah sekali cerita yang tidak masuk akal ini.

Sayangnya, cinta sejati selalu dilekatkan dengan laki-laki, sementara anak perempuan di seluruh dunia terus menerus mengonsumsi cerita itu, berulang-ulang setiap generasi.

Alhasil, anak perempuan terkondisikan untuk percaya bahwa laki-laki lah muara cinta sejati, penolong perempuan di ambang kematian, dan sebagainya. Perempuan tumbuh menjadi individu yang merasa ketika bermasalah hanya dapat ditolong oleh kepahlawanan dan maskulinitas laki-laki.

Walt Disney yang telah mengkapitalisasi hiburan serta edukasi bagi anak-anak dan remaja tentu punya andil besar atas kondisi tersebut. Sejak 1923, Walt Disney sudah memproduksi banyak sekali cerita kearifan lokal di berbagai belahan dunia, yang tak sedikit kisahnya cenderung patriarkis nan misoginis.

Coba deh lihat kembali kisah-kisah asli Disney pada periode awal. Kisahnya dipenuhi oleh dongeng perempuan penuh masalah, yang kemudian diselamatkan oleh laki-laki, lalu menikah dan hidup bahagia selamanya.

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Hingga akhirnya, dalam lima tahun terakhir, kita mulai melihat perubahan besar dari kisah-kisah yang dihadirkan oleh Disney. Perlahan, mereka mulai mendekonstruksi narasinya dengan tak lagi menjadikan perempuan sekadar pendamping pahlawan. Kini, perempuan juga dijadikan pahlawan, mulai dari karakter utama di Zootopia hingga Captain Marvel.

Disney juga mulai memberikan narasi bahaya maskulinitas yang rapuh dan toxic relationship di film Ralph Breaks the Internet. Sedangkan citra para putri Disney yang semula terkesan rentan mulai berubah menjadi alpha female yang tangguh.

Sementara itu, di film Maleficent, Disney mulai mengubah bahwa cinta sejati harus hadir dari relasi seksual perempuan dan laki-laki. Di film yang diperankan oleh Angelina Jolie dan Elle Fanning pada 2014 itu, narasi heteronormatif dipatahkan dengan penyajian kisah Maleficent, seorang peri yang dikhianati kekasihnya atas nama kekuasaan.

Elle Fanning sebagai Aurora yang terkutuk oleh kemarahan perempuan yang dipatahkan hatinya ternyata tak tertolong oleh ciuman sensual seorang laki-laki. Aurora ternyata hanya dapat tertolong oleh ciuman di pipi oleh Maleficent, ibu angkatnya yang juga memberi kutukan kepada Aurora.

Baca juga: Seandainya Para Putri Disney Menanti Pangeran di Indonesia

Dari situ, Disney mulai belajar untuk memberikan alternatif kasih sayang pada para perempuan muda dan anak-anak di seluruh dunia. Cinta sejati bukan hanya berbentuk laki-laki. Jadi, kamu tak perlu minder jika sampai ujung usia remaja tidak ada lelaki yang mendekatimu, atau memintamu menjadi kekasihnya, yha.. yha.. yha…

Namun, upaya dekonstruksi di film Maleficent yang pertama sebetulnya kurang kuat. Sebab, belum bisa mengambarkan kasih sayang secara utuh. Film tersebut hanya memberikan alternatif jenis relasi kasih sayang lainnya. Tetapi, belum mampu membedah apa itu bentuk kasih sayang dan cinta sejati.

Beberapa teman saya yang mengalami toxic mother-daughter relationships, dimana hubungan ibu dan anak perempuan dipenuhi oleh konflik-konflik internal dan kering kasih sayang, merasa film Maleficent hanya mengalihkan satu fantasi ke fantasi lainnya. “Ibu yang baik hanyalah ibu peri, bukan ibu manusia,” kata dia.

Tentu saja, film Maleficent pertama tidak relevan bagi mereka yang tumbuh dalam keluarga rumit dan diharuskan terus menerus berkonflik dengan orangtua yang memiliki kepribadian yang sulit.

Baca juga: Ketika Final Fantasy VIII Menyoal ‘Toxic Masculinity’ dan ‘Anxiety’

Namun, dalam film Maleficent: Mistress of Evil tahun ini, seolah melengkapi narasi di film pertama. Sebesar apapun cinta anak dan orangtua, tetap ada ruang dimana anak bisa mengungkapkan kekecewaannya kepada orangtua. Begitu juga orang tua, sebesar apapun pengorbanannya pada anak, selalu ada momen dimana mereka lelah dan berkata, “Your not my daughter.”

Selain itu, Maleficent: Mistress of Evil menampilkan konflik rumah tangga yang sangat klasik, seperti perseteruan antar besan, bagaimana kecurigaan mertua pada menantu, dan beragam konflik kehidupan dewasa lainnya yang selama ini tabu disampaikan kepada anak-anak dan remaja.

Disney mulai mendaur ulang seluruh kisah mereka dan menawarkan cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan, dan tentu saja penting bagi kesehatan mental. Mereka mengemasnya dalam fantasi yang sederhana dan mampu dicerna dengan bantuan orang dewasa.

Selain itu, Disney membuang kenaifan heteronormatif perihal cinta dan seksualitas di Maleficent pertama. Lalu, dalam Maleficent: Mistress of Evil, Disney memberikan gambaran bahwa masih ada jenis cinta dengan dorongan hasrat seksual yang ideal dan tidak naif.

Artikel populer: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Tentunya, itu semua butuh effort. Ketika kamu memilih pasangan hidup, maka kamu harus berhadapan dengan orangtuamu yang penuh konflik, mertua yang mencurigaimu, dan bagaimana menyatukan dua keluarga yang bukan tidak mungkin penuh dengan kepentingan.

Namun, terlepas dari itu, narasi besar Maleficent adalah bagaimana kamu, dengan gender apapun, memiliki tanggung jawab internal yang besar. Bagaimana kamu tak boleh dengan mudah menafikkan pengorbanan orang lain. Pun, bagaimana agar kamu tidak mudah melupakan cinta dan kasih sayang yang lama, semisal dari orangtua, ketika menemukan kasih sayang yang baru dari pasangan.

Setidaknya Maleficent: Mistress of Evil mencoba memberitahumu bahwa tak ada cinta sejati yang datang tiba-tiba dan membawamu hidup bahagia selamanya. Semua jenis cinta dan hubungan, dengan siapa pun dan kapan pun, selalu membutuhkan usaha dan kerja sama.

Transaksional? Ya begitulah seharusnya cinta, take and give. Bukan give it all atau malah take it all.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini