Ilustrasi (Photo by Warren Wong on Unsplash)

“Gue bakal menggauli kesepian!” ujar seorang sahabat. Sebut saja namanya, Dia. Entah karena terlalu banyak membaca buku-bukunya Haruki Murakami atau terlalu sering menonton ulang film Drive dan Taxi Driver hingga berani-beraninya berikrar seperti itu.

Tapi ajaibnya, ia berhasil melakukan itu selama beberapa tahun, bahkan tampak menikmatinya. Bayangkan, memutus hubungan dengan banyak orang yang sekiranya tak penting hingga enggan menjalin hubungan asmara. Kamu sanggup?

“Gue capek, bro. Gue capek menyerap kesedihan mereka. Gue capek dengerin cerita-cerita sedih dan penderitaan mereka. Makanya, gue memutus hubungan dari mereka semua. Tapi sekarang kesepian sudah muak gue gauli. Sekarang ia malah berbalik menggauli gue!” katanya.

Dia mulai kewalahan. Kesepian mulai nakal. Beringas. Kesepian mulai tak betah tidur di dalam kandangnya. Kesepian mulai memberontak dan habis-habisan menghajar balik. Dia mulai mencari cara untuk mengusir kesepian.

Baca juga: Lepas dari Kesepian dengan Cara yang Indah

Namun, itu terasa mulai terlambat karena banyak sahabat yang sudah lama ditinggalkan. Meski hatinya hancur, Dia terus mencari cara, terlebih setelah membaca salah satu artikel di Voxpop yang turut menyemangati hidupnya.

Kesepian memang bukan sesuatu yang bisa dijadikan mainan. Kesepian tidak selalu sepuitis dan seromantis film-filmnya Wong Kar Wai atau puisi-puisi John Keats. Kesepian adalah lagu-lagunya Didi Kempot. Kesepian adalah Summer Finn (saya tim Tom Hansen!). Kejam.

Kesepian adalah pembunuh berantai sadis yang mengendap-endap dari belakang untuk menghabisi korbannya. Kesepian adalah asam yang menggerogoti hidupmu, kalau kata Haruki Murakami. Sudah terlalu banyak korban jatuh karena kesepian.

Akhirnya, Dia mulai menjalin hubungan asmara. Namun, alih-alih menyemangati, pasangannya kerap kali menjelma menjadi monster lucu. Lucu sih gaes, tapi berbahaya. Dia kaget setengah mati.

Baca juga: Benarkah ‘Fall in Love With People We Can’t Have’ Adalah Hal yang Sia-sia?

Bertahun-tahun, ia mengasingkan diri termasuk untuk menghindari hal-hal seperti itu. Menyelamatkan diri dari penderitaan orang-orang yang telah menjadi pasir isap baginya. Tapi kini, harus berhadapan kembali dengan semua itu.

“Kenapa lo nggak ninggalin mereka lagi aja? Kenapa lo merasa bertanggung jawab dengan urusan mereka? Apa karena lo suka sama mereka? Toh, mereka juga nggak peduli-peduli amat sama lo, kan?” tanya saya.

“Mungkin benar begitu. Tapi gue cuma mau berbuat baik aja. Setidaknya, sekarang gue jadi manusia yang ada gunanya sedikit. Gue jadi nggak kesepian lagi. Iya, kan?” jawabnya. Bibirnya tersenyum, tapi matanya menyorot masygul.

Benarkah begitu?

Kita mungkin sering melihat beberapa teman yang kadang kita pikir terlalu baik.Tapi, nyatanya, mereka sebetulnya juga menderita. Apa semua orang baik dikutuk untuk menderita? Berbuat baik kadang tidak semenyenangkan itu. Ini bukan sinisme. Faktanya memang begitu.

Tak ada manusia yang bisa menang dari rasa kesepian, ujar Gaara pada Lee sehabis bertarung melawan Kimimaro. Itu benar. Pada akhirnya kita tetap butuh teman. Sebangsat-bangsatnya mereka sebagai teman, itu lebih baik daripada merasakan sepi berkepanjangan.

Baca juga: Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Jika kesepian datang, kita memang tidak bisa mengharapkan orang agar mengerti apa yang kita rasakan. Tidak semua orang peka. Kita lah yang harus datang kepada mereka untuk bercerita. Meski belum tentu ada solusi, setidaknya kita sudah sedikit meringankan beban.

Kita memang tidak bisa mengukur rasa sayang dan peduli orang-orang dari seberapa seringnya mereka mengontak atau bertemu dengan kita. Itu konyol.

Itulah yang selama ini dipikirkan Dia. Makanya, ia sering tersiksa sendiri. Kesepian panjang telah membuatnya bersikap kekanak-kanakan. Empati yang berlebihan terkadang tidak baik untuk mental.

Saya sering merasa bahwa lahir tanpa simpati dan empati itu lebih baik. Kita tidak perlu repot bersedih untuk orang banyak. Namun, kalau kita tidak mempunyai keduanya, apa pantas disebut manusia?

Seperti yang sering ditulis di dinding-dinding kedai kopi bahwa hidup adalah pilihan. Kita bebas memilih jalan hidup dengan segala risiko yang siap menebas sana-sini. Kalau kamu senang membantu orang, itu baik, tapi sewaktu-waktu bisa merasakan dilema yang sama dengan Dia.

Artikel populer: Teritori Patah Hati dan Lord Didi ‘The Godfather of Broken Heart’

Ketika dilema itu muncul, apa yang harus dilakukan? Sementara, kamu terus-terusan dititipi kesedihan mereka, dan mereka tidak berniat untuk mengambilnya. Apakah harus membaca buku Seni Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson atau The Art of Being Right karya Arthur Schopenhauer?

Mungkin, kita harus mulai menentukan mana yang berharga atau tidak untuk ke depannya. Mana bekal yang bisa bertahan lebih lama dan lebih berguna dibawa piknik ke masa depan. Dan, itu tidak mudah. Semua ada harganya.

Ais, kenapa jadi bersabda begini?

Pokoknya, kesepian bukanlah sesuatu yang baik untuk dirawat. Dalam hidup, kita memang butuh sesekali menyepi dari hingar-bingar, menjauh dari masalah dan hiruk-pikuk.Tapi jangan lama-lama. Kita tetap butuh orang lain. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, kan?

Menyepi lama-lama adalah sebuah penyangkalan. Pelarian. Pada akhirnya, kita tetap harus keluar dari gua. Turun gunung, dan kembali ke peradaban.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini