Makna Lain di Balik Seleksi CPNS, Jutaan Orang bahkan Tidak Menyadari

Makna Lain di Balik Seleksi CPNS, Jutaan Orang bahkan Tidak Menyadari

Ilustrasi (Image by ijmaki from Pixabay)

Ketika hidup sesantai duduk-duduk di warkop sambil mengulang pelajaran Lenin tentang perjuangan, saat itulah saya gemar mengolok-olok para pelamar calon pegawai negeri sipil (CPNS). Mereka tak lebih dari manusia lugu yang meyakini negara begitu adil dan aparatur sipil negara (ASN) adalah sebaik-baiknya peran dalam kehidupan.

Astaghfirullah… saya belagu amat di masa lalu. Padahal, bapak saya bukan siapa-siapa, tidak bisa mewariskan tahta maupun harta. Tingkat intelegensia saya pun tak seberapa, ikut seleksi CPNS belum tentu lulus passing grade juga.

Ketika jiwa muda masih terkesima dengan imajinasi Marx tentang surga kehidupan komunal, saya merasa tertekan setiap disuruh orangtua untuk repot-repot meramaikan seleksi CPNS. Bahkan, secara kurang ajar menertawakan mereka yang sudah bayar kuliah pascasarjana mahal-mahal tapi malah meninggalkan bangku kuliah setelah dinyatakan lolos seleksi CPNS.

Lambat laun, seiring kemiskinan yang menjerat, saya jadi paham mengapa jutaan orang tak pernah bosan ikut seleksi CPNS berkali-kali. Mungkin iya, bahwa sebagian pelamar berasaskan omongan tetangga, permintaan orangtua, dan calon mertua sebagai motif utama.

Baca juga: Selamat Datang! Barisan Pelamar Kerja yang Tak Punya Akses dan Peluang

Namun, kenyataannya, sebagian besar yang ikut seleksi CPNS berharap bisa hidup mapan di masa depan. Tak peduli milenial atau Gen Z, kita adalah anak-anak muda dengan lapis-lapis insekyuriti. Menghadapi pekerjaan yang tak pasti, tanpa kenaikan upah dan tunjangan hidup saat tua bangka nanti.

Kendati di banyak formasi, gaji PNS sama cidro-nya dengan mantan kekasih, setidaknya menjadi PNS memberi harapan untuk bisa lepas dari belenggu hidup yang tak pasti. Jadi PNS juga menjamin kita selamat dari pengangguran kalau kapitalisme mendadak mengulang fase krisisnya. Sebangkrut-bangkrutnya negara, ASN tidak kena PHK.

Jutaan orang tidak menyadari… bahwa jumlah pelamar seleksi CPNS adalah potret angkatan kerja Indonesia yang kekurangan peluang dalam memperoleh kehidupan layak. Jutaan pelamar CPNS adalah potret timpangnya jumlah angkatan kerja dan ketersediaan lapangan kerja di negeri ini.

Baca juga: Kenali Tiga Akar Feodalisme di Tempat Kerjamu

Tak perlu panjang lebar bicara soal idealisme yang luntur setiap musim seleksi CPNS tiba. Apalagi, tentang ketulusan mengabdi untuk negara, menyejahterakan kehidupan bangsa. Bacot. Menyejahterakan diri sendiri saja sesulit ini.

Pembukaan seleksi CPNS itu tak lebih dari iklan lowongan kerja. PNS adalah jenis mata pencaharian. Itu saja.

Pak Jokowi jangan GR, kami tidak secinta itu pada negara. Bukan hanya seleksi CPNS yang tinggi pelamar, instansi di sektor swasta pun tinggi pelamar. Kami yang hanya bisa mengandalkan ijazah dan portofolio seadanya, tak benar-benar peduli apakah itu formasi tenaga ahli di kementerian, juru pemasaran startup, bahkan buzzer politik sekalipun, selama itu menjanjikan cuan dan kemapanan. Demi instastory yang bahagia.

Menjadi aktivis kampus telah membuat saya salah mengidentifikasi diri. Dulu, saya pikir saya pejuang revolusioner. Lulus kuliah baru sadar kalau saya tak lebih dari seonggok daging yang perlu asupan kalori, gizi, dan kekasih hati.

Baca juga: Selain Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kerja Bertepuk Sebelah ‘Passion’ adalah Kesengsaraan

Aktivis atau bukan, akhirnya kita sama-sama bertarung dalam persaingan ketat pasar tenaga kerja, semisal seleksi CPNS. Sebab, sebagian besar dari kita bukan anak-anak yang tumbuh dengan privilese keluarga. Kalau umur 27 tahun udah jadi rektor, karena bapaknya yang punya universitas. Kalau umur 30-an udah jadi wamen, karena bapaknya yang punya partai. Njir, betul juga kata orang bijak, bahwa apa yang kita lakukan hari ini semata-mata untuk anak cucu kita di masa depan.

Maka, untuk barisan anti-CPNS karena alasan komitmen ideologis, hanya ada satu kata, lawas!

Lagipula, kerjaan apa sih yang senantiasa segaris dengan passion dan cita-cita luhur aktivisme? Mau jadi pengusaha warung kopi biar bisa menyejahterakan petani? Yakin mampu beli biji kopi dari petani dengan harga tinggi? Buat sewa ruko aja masih kredit di bank.

Artikel populer: Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini, Bos-bos Harus Tahu

Jadi jurnalis di perusahaan media agar bisa mewartakan ketertindasan? Kita justru dituntut menulis selusin berita ‘yang penting viral’. Kerja di NGO internasional yang katanya non-profit agar bisa mengentaskan kemiskinan? Yang ada dikejar-kejar laporan donor dan saling sikut antar karyawan demi jabatan.

Lantas, kerja jadi dosen swasta lewat jalur non-CPNS? Tetap saja aturannya dari Kemendikti. Dikejar-kejar borang akreditasi yang imbasnya tuntutan administrasi; perluasan kerja sama demi internasionalisasi, pengelolaan jurnal di bawah rezim indeksasi bereputasi. Agenda-agenda di institusi pendidikan itu kan tidak lagi digerakkan oleh ilmu dan kepedulian sosial, melainkan aturan Kemendikti yang sekarang gabung lagi sama Kemendikbud itu.

Tentunya ada banyak cerita menyedihkan di masing-masing bidang pekerjaan lainnya. Kita tidak saling tahu, karena setiap orang lebih suka pamer kebahagiaan ketimbang pamer penderitaan. Apa yang jadi keresahan di masing-masing bidang kerja, seringkali kita tutup-tutupi, saking takutnya dianggap kurang bersyukur dan dilabeli tukang sambat.

Kalau ada satu-satunya hal yang sesuai passion dan idealisme adalah menjadi pengangguran.

2 COMMENTS

  1. Woww, saya salut dengan tulisan ini. Pengetahuan penulis artikelnya bisa dikatakan cukup luas, bravo for you sis !!

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.