Jumanji: The Next Level (Sony Pictures)

Dulunya Jumanji adalah papan permainan yang bisa mendatangkan sekawanan satwa liar masuk ke dunia manusia. Para penghuni hutan belantara antah-berantah itu membuat kerusuhan di lingkungan masyarakat perkotaan. Hewan primata menjarah toko-toko dan mengambil barang yang diinginkan. Padahal tidak sedang ada flash sale Harbolnas 12.12.

Sampai akhirnya, papan permainan itu mengikuti perkembangan zaman dan berubah menjadi konsol video game. Dengan memainkan konsol tersebut, para pemain akan terhisap masuk ke dunia Jumanji. Di sana, pemain bisa merasakan sensasi punya akun alter di Twitter.

Contohnya, di film Jumanji: Welcome to the Jungle, tokoh utama bernama Spencer bisa menjadi Dwayne Johnson alias The Rock. Di sini, The Rock memerankan avatar Dr. Bravestone sang karakter utama yang superior. Ia punya banyak kekuatan, seperti tak kenal takut, supercepat, ahli memanjat, jago melempar bumerang, dan yang paling penting, punya tatapan membara.

Uniknya, avatar Bravestone tidak memiliki kelemahan. Wow. Apakah ini termasuk toxic masculinity? Padahal, avatar lainnya punya kelemahan, dari yang paling umum seperti racun sampai yang paling sepele seperti kue. Memang terdengar konyol, kue bisa membunuh? Ya tentu bisa. Kue manis bisa jadi penyebab diabetes.

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Namun, di sekuel berjudul Jumanji: The Next Level, karakter Bravestone akhirnya direvisi menjadi punya satu kelemahan: ia bisa dikalahkan oleh karakter bernama Switchblade.

Saking overpower-nya Bravestone, Spencer yang pernah memainkan karakter tersebut menjadi merasa insecure. Ketika menjalani kehidupan pribadinya yang monoton, Spencer merindukan privilese yang dimilikinya sebagai Bravestone. Di dunia Jumanji, dirinya adalah sang pemimpin regu yang berhasil menuntaskan misi dan mengalahkan raja terakhir. Tanah hijau Jumanji pun dapat terselamatkan berkat keberaniannya.

Sementara di dunia nyata, Spencer hanya remaja biasa yang dilingkupi insecurity atau perasaan tidak aman karena tidak populer dan tak sekuat karakter di gim. Jangankan memanjat tebing dan melempar bumerang, menaruh pasta gigi di minimarket tempat kerjanya saja ia sampai bikin bosnya ngomel.

Ia tak secepat Bravestone ketika membalas ajakan temu kangen di grup WhatsApp ‘Alumni Jumanji’. Ia takut bertemu dengan mantan kekasihnya. Alih-alih tatapan membara, yang ia punya hanyalah tatapan nanar.

Baca juga: Bagaimana Menghadapi Orang yang Bilang Kamu “Gendutan” atau “Kurusan”

Di tengah rasa tak aman, Spencer memutuskan kembali ke dunia Jumanji seorang diri. Masalahnya, dari dulu Jumanji selalu mengedepankan pesan moral tentang kerja sama tim. Seorang pemain tidak bisa menyelesaikan tantangannya sendirian. Apalagi, saat merasa insecure, seseorang paling butuh ditemani.

Untungnya, teman-temannya mau menyusul Spencer untuk sekali lagi masuk ke dunia Jumanji yang penuh ketidakpastian. Dengan motivasi yang sama seperti tim astronaut di film The Martian menjemput Mark yang tertinggal di Planet Mars: “Aku harus menolongnya karena ia pun akan melakukan hal yang sama untukku.”

Selanjutnya, permainan Jumanji menjadi ajang rekonsiliasi untuk Spencer yang merasa insecure terhadap dirinya sendiri. Ia tidak percaya diri bahwa dirinya yang apa-adanya layak dicintai oleh sang mantan pacar. Sampai-sampai ia harus memaksakan diri dengan mempertaruhkan nyawa untuk kembali ke dunia Jumanji demi menjadi Bravestone.

Dengan usaha itu, Spencer berharap bisa mendapatkan kembali kepercayaan diri yang hilang selepas petualangan di film sebelumnya. Namun, yang tak disadari oleh Spencer, seseorang juga dicintai karena pesona jiwanya, bukan semata-mata kebagusan rupa dan hal ragawi lainnya.

Baca juga: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Contohnya, karakter Bravestone yang prima ternyata bisa kurang optimal ketika dimainkan oleh kakeknya Spencer yang gegabah. Sebab membutuhkan jiwa yang baik untuk mampu menggerakkan tubuh dengan benar.

Ketika bertemu Martha sang mantan kekasih di dunia Jumanji, Spencer akhirnya tahu bahwa ia disukai karena jati dirinya, bukan karena menjadi karakter di gim. Sebab di luar dunia gim pun, Spencer masih disukai oleh Martha. Jadi, yang perlu dilakukan Spencer hanyalah menerima dirinya sendiri (self-love), dan berhenti berambisi menjadi orang lain hanya untuk dicintai.

Masalah insecurity Spencer pun diselesaikan dengan bantuan akun alter. Yah, memiliki akun alter memang enak. Tanyakan saja kepada mereka yang punya akun alter di media sosial, khususnya Twitter. Sejenak bisa melupakan masalah di dunia nyata dan beraksi sebagai pribadi yang lain dengan lebih percaya diri. Memiliki hak istimewa yang tak dimiliki di kehidupan sehari-hari, yaitu berbuat semaunya tanpa menanggung konsekuensi karena identitas aslinya tetap aman.

Artikel populer: ‘Maleficent: Mistress of Evil’, Ya Begitulah Seharusnya Cinta

Dengan akun alter, seseorang di dunia maya juga bisa melakukan cross gender seperti halnya pemain di Jumanji. Namun, tukar raga bukan jaminan setiap gender menjadi paham kebutuhan lawan jenis. Yang ada, perilaku objektivitas seksual justru yang pertama kali dilakukan oleh Fridge ketika baru saja bertukar peran menjadi avatar perempuan gesit, Ruby Roundhouse.

Yang jelas, senikmat-nikmatnya akun alter, setiap orang akan tetap kembali ke dunia nyata. Setiap orang harus berani menghadapi masalahnya di kehidupan sehari-hari. Bertemu langsung dan tatap muka dengan manusia asli untuk menyampaikan ekspresi dan mengutarakan isi hati.

Sebenarnya, Indonesia juga punya Dunia Jumanji dengan kearifan lokal. Para pemain yang masuk ke dunia tersebut akan diingatkan oleh seorang ayah botak tentang pesan bijak, “Jangan lupa senyum hari ini.” Lalu, diajak duet cover lagu “Dia” untuk diunggah ke Youtube. Eh, itu sih Dunia Manji.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini