Makan ketika Orang Lain Tidak Makan

Makan ketika Orang Lain Tidak Makan

Ilustrasi (Sylvia Tan via Pixabay)

Pada suatu waktu, tepatnya bulan puasa, saya mendapat pekerjaan yang mengharuskan keliling lokasi pembangunan gedung pada siang hari yang sedang panas-panasnya. Suhu udara mencapai tigapuluh derajat lebih.

Itu tentu jadi ujian berat saat puasa. Sungguh berdusta, jika tidak merasakan haus ketika keringat menetes-netes di antara tubuh yang letih.

Keadaan itu semakin diuji, ketika melewati direksi keet dan melihat para tukang-tukang bernaung sambil menikmati es sirup kelapa. Saya hanya bisa menelan ludah saat melihat gelas-gelas segar itu mengeluarkan embun saking dinginnya.

Bayangkan, di antara hawa panas, tenggorokan ini begitu merindukan aliran air dingin dan manis itu. Sebuah kesegaran dan kenikmatan yang haqiqi. Jadi, omong kosong, jika ada yang bilang bahwa melihat orang minum saat bulan puasa itu tak berarti apa-apa.

Sebelumnya, saya beranggapan bahwa aktivitas makan di ruang publik tidaklah mempengaruhi puasa seseorang. Maklum, waktu itu saya berpuasa di cuaca dingin Kota Malang. Di sana bisa bangun tidur sampai menjelang dzuhur dan masih disambut udara yang sejuk beserta angin sepai-sepoinya.

Aktivitas yang dilakukan juga hanya seputar kerjaan minim gerak dalam ruangan. Terlebih, sejak bekerja, dimana hampir seluruh pekerjaan berada di depan komputer di ruangan ber-AC.

Maksudnya, tahu apa sih soal lapar dan dahaga kala puasa dengan pola hidup seperti itu? Seorang teman kerja bahkan merasa lebih tergoda melihat orang yang merokok ketimbang orang makan dan minum.

Memang, pada akhirnya saya tidak menerima tawaran es sirup di gelas berembun itu. Namun, setelah diretrospeksi, saya sendiri tak berani menyebut bahwa iman dan taqwa saya lebih kuat dari segelas es segar.

Keberlanjutan puasa tersebut terjadi karena satu solusi sederhana: keinginan akan es sirup kelapa segar itu bisa dipenuhi nanti setelah buka puasa. Kamu pernah merasa seperti itu?

Sebuah keberuntungan bagi kita yang hanya perlu menunda haus dan lapar hingga waktu maghrib. Karena bagi sebagian orang, menahan lapar dan dahaga bukan hanya sampai waktu berbuka, melainkan sampai nanti setelah ada rejeki yang belum tahu kapan datangnya.

Lalu, bukankah sedari kecil kita diajarkan bahwa salah satu makna berpuasa adalah memahami rasa lapar dan haus yang dirasakan kaum miskin?

Saya beranggapan bahwa aktivitas makan di ruang publik bukan aktivitas personal yang bebas dilakukan tanpa akan mempengaruhi orang lain. Sekalipun hanya mencicipi puasa sambil membanting tulang selama setengah hari, saya tetap ingat bagaimana rasanya melihat es kelapa saat haus, namun tak bisa meminumnya.

Rasanya seperti orang yang sedang LDR, kangen tapi baru bisa ketemu nanti di masa depan. Namun, dibanding itu, lebih sakit lagi rasanya bertepuk sebelah tangan; sebenarnya ingin tapi sadar nggak akan pernah kesampaian.

Karena itu, dalam semangat Ramadan, apakah pantas perdebatan mengenai makan di ruang publik justru didominasi tentang mereka yang berpuasa saja? Apakah hanya pada momen bulan puasa saja tidak makan dan tidak minum perlu dihormati, lalu menjadi justifikasi tutupnya warung makan?

Bukankah lebih baik kita membicarakan bagaimana perilaku makan dan minum ketika banyak orang lain tidak bisa melakukannya? Perlukah mereka dihormati?

Jika kita melihat isu ini lebih luas ketimbang perlu tidaknya menghormati yang puasa, tentu penggrebekan warung makan kala Ramadan bukanlah jawaban. Sebaliknya, bukankah kita perlu menanamkan empati dan pentingnya kepedulian terhadap kondisi orang lain di sekitar kita?

Ketika kesadaran itu telah tertanam, interaksi antara orang yang berpuasa dan tidak berpuasa akan terbentuk harmonis dengan sendirinya.

Dengan begitu, wacana yang hadir seputar makanan tidak melulu seputar pertanyaan inferior semacam “perlu tidaknya warung makan tutup untuk menghormati yang berpuasa”, namun justru “apakah ketika kita mau makan tetangga kita bisa makan?”

Nyatanya, makanan dan minuman tidak hanya menggoda orang yang berpuasa saja. Godaan itu terus ada sepanjang tahun bagi mereka yang tak mampu membelinya. Misalnya, melalui foto-foto makanan, dinding kaca rumah makan, sampai harum aroma ikan bakar di dapur yang menerobos rumah sebelah.

Kamu tahu rasanya saat mengalami semua itu, lalu sadar bahwa “oh aku tidak akan bisa merasakan steik Wagyu seperti di foto itu” atau “wah, kali ini makannya mie instan sama bau ikan bakar tetangga”.

Pentingnya wacana relasi antar sesama manusia ini bisa dilihat dalam sebuah riwayat hadist H.R. Muslim. Pada sebuah pertemuan dengan para sahabat, Rasulullah bertanya kepada mereka, “Siapakah di antara kalian yang berpuasa?”

Waktu itu, hanya Abu Bakar yang menjawabnya.

Selanjutnya, Rasulullah terus bertanya sebanyak tiga kali, “Siapakah di antara kalian yang hari ini mengantar jenazah? Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin? Siapakah di antara kalian yang menjenguk orang sakit?”

Lagi-lagi, hanya Abu Bakar yang menjawab.

Rasulullah pun berkata, “Tidaklah semua itu terkumpul pada diri seseorang kecuali ia masuk surga.”

Dari empat hal yang ditanyakan Rasulullah tersebut, tiga di antaranya adalah hubungan antar sesama manusia.

Lalu, di antara kolak pisang dan sirup, sampai di hari hadirnya opor ayam dan lontong sayur, apakah kita akan menghormati mereka yang tidak bisa makan saat itu?

2 COMMENTS

  1. paling nyakitin hati dan miris kalo liat orang makan di acara pernikahan
    Makanan pada dibuang2. Belum habis udah di buang ke tong sampah.
    Coba kalo dia mikir berapa banyak orang nggak bisa makan dan dibandingkan sama dia yang beruntung bisa makan.
    Makan ambilah secukupnya…kalo kurang kan bisa tambah lagi

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.