Belum Makan Kalau Belum Kena Nasi, Belum Kenyang Kalau Belum Impor Beras

Belum Makan Kalau Belum Kena Nasi, Belum Kenyang Kalau Belum Impor Beras

Ilustrasi (Photo by Avel Chuklanov on Unsplash)

Pada Lebaran beberapa tahun lalu, saya masih punya kesempatan jalan-jalan dengan beberapa teman semasa SMA. Kami berjalan dari satu rumah ke rumah lainnya. Tentunya menikmati hidangan selain bersenda gurau.

Tapi ada yang aneh dari seorang teman saat itu. Setiap rumah yang kami datangi, ia selalu meminta nasi. Awalnya masih wajar, ia makan nasi dengan opor ayam. Masih masuk lah ya. Lalu, di rumah kedua, ia makan nasi pakai tekwan.

Nah, di rumah terakhir, kami sempat menggodanya dengan menyodorkan toples kue nastar, lalu berkata, “Ini makan kue pakai nasi lah.” Dan, secara mengejutkan, ia justru melakukannya. Kami pun tertawa tak henti-hentinya, yang bercampur perasaan setengah heran.

Seumur hidup, baru kali itu menemukan orang dengan kebiasaan tak lumrah: makan kue pakai nasi. Tapi itu justru menguatkan sebuah anggapan bahwa negeri ini adalah negeri pecandu nasi. Banyak orang merasa belum makan, kalau belum kena nasi. Gitu kan?

Saya pun sempat mengalami itu saat masa kecil. Ketika makan mie instan, orang tua selalu memberikan nasi di dekat mangkuk mie. Saya sempat tanya mengapa? Biar sehat, kata beliau.

Karena omongan orang tua itu, saya akhirnya memperlakukan mie instan selayaknya lauk selama bertahum-tahun. Bahkan, ketika mengetahui bahwa mie itu juga karbohidrat, tetap saja sulit lepas dari kebiasaan tersebut.

Makan nasi itu memberikan perasaan kebahagiaan semu. Dan, makanan karbo lainnya, seperti mie, singkong, roti, hingga sagu, takkan bisa naik kasta menjadi hidangan utama berkarbo selayaknya nasi. Anggapan bahwa ‘belum makan kalau belum makan nasi’ telah terpatri dalam pikiran banyak orang.

Tentu saja, ini bikin problema yang buruk bagi kita. Tapi, dari sisi makanan, orang-orang Indonesia banyak yang salah kaprah. Kalau makan, kita punya kebiasaan begini; nasi harus menguasai 2/3 piring, sedangkan lauk 1/3-nya. Di Warung Padang, tradisinya begitu. Di Warung Tegal, tak jauh beda. Di rumah?

Kalau makan di rumah jadi brutal, lauk sampai tenggelam saking banyaknya nasi. Padahal, yang benar, kebalikannya. Sebab hidup tak melulu soal karbo, ada pula protein, vitamin, dan lain-lainnya.

Semua orang pasti sudah tahu, jika kita banyak makan nasi, berarti harus banyak bergerak agar karbo bisa diolah menjadi energi. Jika tidak, akan menjadi racun di dalam tubuh.

Tapi siapa sih yang memutuskan untuk bergerak mengolah karbo setelah satu-dua jam makan nasi? Bergerak mulutmu menguap menahan rasa kantuk, iya.

Itu efeknya ke perut, lho. Karbo yang tidak diolah akhirnya menumpuk di tubuh. Ujung-ujungnya, perut menjadi tambun. Atau lebih buruk: makan nasi yang banyak, lalu terkena diabetes setelahnya.

Beberapa penelitian bahkan mengungkap fakta yang menyedihkan: nasi menjadi penyebab nomor satu mengapa orang Indonesia terkena diabetes. Dan, angka penderita diabetes di Indonesia paling tinggi di Asia.

Dengan kondisi seperti itu, mengapa pecandu nasi tak mendapatkan penanganan serius selayaknya pecandu narkoba? Padahal, dampaknya sudah jelas, bisa berbahaya. Ya karena pusat rehab bakal kewalahan menampungnya. Kalau hatimu sih, aku rela menampungnya. 🙂

Saya bukanlah member anti-nasi anti-nasi club yang coba menghasut pernasian supaya orang berhenti makan nasi. Ya porsinya seimbanglah. Lagian, kalau isinya nasi semua, itu perut apa magic jar?

***

Kebiasaan orang Indonesia makan nasi tentu tidak terlepas dari faktor geografis, yang mana banyak areal persawahan menghampar bebas. Tapi itu dulu… Sekarang terus menyusut setiap tahunnya, karena pengembangan kawasan perkebunan, industri, dan properti.

Misalnya di Bali, lahan sawah di Pulau Dewata itu menyusut rata-rata sekitar 1.000 hektare per tahun. Sementara Sukabumi menyusut rata-rata sekitar 13,5 hektare per tahun. Begitu juga dengan beberapa lahan produktif di Cianjur, Karawang, Sleman, Malang, Tangerang Selatan, dan lain-lain.

Lantas, apakah kita kekurangan beras?

Katanya tidak, bahkan sejumlah daerah mengaku mengalami surplus produksi beras pada awal 2018. Tapi, mengapa pemerintah tiba-tiba mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam?

Masalah impor ini kerap terjadi di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Alasannya untuk meredam kenaikan harga beras yang ekstrem. Angka produksi padi yang tinggi dari para petani juga tidak selalu berkorelasi dengan angka keterserapan gabah nasional oleh Bulog, aih… abis gugling. Terus, tata niaganya sudah dibenahi? Sudah. Tapi kok tetap impor?

Itulah pertanyaan-pertanyaan klasik yang tak pernah modern, meski Bu Mega sudah salam-salaman dengan Pak SBY. Faktanya, hari ini, Indonesia terus mengimpor beras.

Ya mungkin, pemerintah paham bahwa orang Indonesia gemar makan nasi, seperti teman saya tadi. Rasanya belum makan, kalau belum kena nasi. Nah, supaya kenyang, makanya pemerintah terus-terusan impor beras, meski sejumlah daerah surplus.

Lha, memang siapa yang kenyang?

Pikirmu siapa?

Petani?!

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN