Cerita-cerita Mahasiswa Papua yang Kuliah di Pulau Jawa

Cerita-cerita Mahasiswa Papua yang Kuliah di Pulau Jawa

Ilustrasi (Ag Ku via Pixabay)

Suatu waktu, anak-anak Wamena datang ke rumah. Seperti biasa, mereka meminjam beberapa peralatan untuk memasak. Mereka mau bikin masakan khas Papua untuk dijual ke mahasiswa-mahasiswa asal Papua lainnya yang ada di Semarang, juga dijual untuk umum.

Pada hari itu, mereka memasak daging babi, juga ada menu ikan bakar. Menu yang biasa terhidang di meja makan mereka, jika pulang ke kampung halaman.

Sementara di sini, di lingkungan kos, menu tersebut boleh dibilang jarang dijual di warung-warung makan di seputaran Semarang Atas, terutama untuk menu babi.

Beruntung, Semarang punya komplek Pecinan, sehingga untuk mencari kebutuhan daging babi mentah masih agak mudah di daerah Pasar Gang Baru, Pecinan, Semarang Bawah.

Kami sempat mengobrol dan bercanda sambil menunggu yang lain datang, untuk kemudian pergi bersama ke salah satu asrama mahasiswa Papua di Semarang untuk memasak makanan yang akan mereka jual.

Obrolan yang disertai guyon ngalor ngidul itu berlangsung cukup lama. Mulai dari alasan mereka berjualan demi mengumpulkan dana untuk acara penyambutan para mahasiswa baru asal Papua, hingga ketakutan terhadap kompor gas.

Mereka juga bercerita tentang pembubaran diskusi di Surabaya, gelapnya Papua, upaya mendapatkan pendidikan yang bagus, para mahasiswa yang terpaksa berhenti kuliah, hingga perlakuan diskriminatif secara verbal maupun non-verbal.

Mereka bicara dengan kilatan luka di mata. Luka yang tak sekali saya temui.

Misalnya di Semarang, ada banyak rumah kos yang menolak para mahasiswa asal Papua secara halus maupun terang-terangan. Mereka pun sempat curhat.

”Tante bah, tante tau to, tong paling susah dapa kontrakan. Orang dong tra mau kasih rumah par kita kontrak. Dong tra mau kasih karna tong orang Papua, dong bilang kita paling bisa bikin berisik jadi.”

Ya, untuk saat ini, di seputaran Unika Soegijapranata Semarang, cukup jarang ditemui rumah kos yang terisi banyak anak Papua. Mereka akhirnya memilih hidup di asrama. Biasanya, asrama tersebut kalau bukan milik salah satu pemda di Papua, berarti rumah pejabat atau pengusaha Semarang yang berasal dari Papua.

Masyarakat kerap memarginalkan mereka, bahkan ketika mencari tempat untuk tinggal sementara waktu. Bukan cuma masalah uang, masalahnya adalah masyarakat kita yang kurang menyukai mereka dengan berbagai macam alasan.

Salah satu alasan masyarakat kita adalah anak-anak Papua ini dianggap sering membuat gaduh. Mungkin karena terlalu sering berkumpul, bercanda, dan tertawa hingga larut malam.

Padahal, itupun hanya sewaktu-waktu, tak setiap hari, pun tak semuanya seperti itu. Lagipula, anak muda mana sih yang tak mengenal gaduh saat berkumpul?

Jika ada suatu perayaan, mereka lebih senang berkumpul di salah satu asrama ketimbang di rumah kos salah satu mahasiswa. Tapi, stereotip yang kadung dilabelkan pada mereka akhirnya menyebar kemana-mana, sehingga mereka ditolak di mana-mana.

Sama halnya peristiwa pembubaran diskusi dan pemutaran film sejarah Papua di Surabaya, yang kabarnya langsung menyebar ke seluruh mahasiswa Papua di Jawa.

Seolah ada semacam peringatan agar mereka ’tiarap’ sementara waktu. Peristiwa ini bukan yang pertama, ada banyak peristiwa lain, yang seringkali membuat mereka harus ‘tiarap’.

‘Tiarap’ ini bukan seperti latihan ala militer loh ya. Tapi kadang ‘tiarap’ yang dimaksud ya benar-benar sembunyi, bahkan menghilang untuk beberapa waktu atau selamanya dari suatu tempat.

Mengapa?

Banyak hal yang menjadi alasan mereka melakukan itu. Salah satu peristiwa yang berdampak besar adalah pasca penyerbuan Lapas Cebongan di Yogyakarta oleh oknum tentara, beberapa tahun lalu.

Meski korban pembunuhan dan peristiwanya melibatkan anak-anak NTT dan tentara, tapi hampir seluruh mahasiswa asal Indonesia Timur terkena getahnya.

Tak sedikit cerita bahwa mereka terang-terangan ditolak di beberapa tempat, bahkan ada pula yang menjadi korban penganiayaan oleh orang tak dikenal, semata hanya karena ia anak Indonesia Timur.

Atau, ketika ada anak Papua yang terlibat tabrakan di Boyolali. Tabrakan tersebut menyebabkan korban meninggal dunia. Meski belum jelas siapa yang bersalah, tetap saja ada sekelompok orang yang mengejar anak Papua hingga ke Semarang.

Di Semarang, juga banyak cerita. Salah satunya tentang seorang mahasiswa asal Papua yang dianiaya sekelompok orang hanya karena dia berpacaran dengan putri salah satu warga.

Konon, alasan penganiayaan karena si mahasiswa dianggap tak pantas berpacaran dengan anak gadis tersebut. Padahal, si anak gadis suka. Belakangan, mereka menikah setelah si gadis kabur dari rumahnya.

Ah cinta tuan, betapa naifnya kita yang melarang orang muda untuk bercinta. Seolah kita tak pernah mabuk oleh candunya.

Miris ya, ketika kita melihat secara langsung bagaimana diskriminatifnya masyarakat kita saat menghadapi saudara-saudaranya sendiri yang berasal dari Papua.

Hal ini mengingatkan saya pada obrolan di linimasa media sosial seorang kiai muda yang kadung dicap liberal oleh banyak orang. Gus Murtadho, biasa saya panggil.

Beliau pernah melemparkan wacana mengenai empati dan simpati masyarakat kita terhadap penderitaan warga Papua yang seringkali dimarginalkan.

Sebab, di sisi lain, masyarakat kita cenderung bangga dan jumawa bisa membantu para korban perang di Timur Tengah, dengan donasi yang tak kecil dan uluran tangan yang terlalu banyak untuk sebuah negeri yang jauh dari pandangan mata.

Padahal, Papua adalah kita. Bagian dari NKRI yang konon katanya memiliki hak yang sama untuk urusan kesejahteraan, pendidikan, kehidupan yang layak, maupun lainnya.

Namun, jika bicara tentang anak-anak Papua dengan segala kesulitan yang dialami, seperti wabah malaria yang tak kunjung henti hingga kelaparan dan gizi buruk, seolah semua menjadi sunyi.

Sedikit sekali hati yang terketuk. Hampir tak ada uluran tangan yang semestinya, sepatutnya, dalam sebuah tindakan nyata.

Ah, mereka lebih sibuk memamerkan ’iman’, sementara tetangga di sebelahnya menderita tak ada yang mau mengerti.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.