Lucinta Luna (Instagram)

Lucinta Luna dan Abash tersandung kasus penyalahgunaan obat-obatan jenis psikotropika. Alih-alih fokus ke kasus yang menjerat pasangan selebgram tersebut, masyarakat kita malah sibuk bergunjing perihal gender keduanya. Semisal, ketika polisi sempat bingung menempatkan Lucinta di sel laki-laki atau perempuan. Walaupun pada akhirnya, hukum mengakui status perempuan Lucinta Luna yang sudah disahkan oleh pengadilan negeri.

Selama ini, Lucinta Luna kerap menebar sensasi dengan mengaku sebagai perempuan tulen sejak lahir. Untuk branding di media sosial, menebar sensasi tampaknya lazim dilakukan oleh sejumlah figur untuk mengukuhkan eksistensinya di internet.

Dari narasi itulah, awak media julid dan netizen kepo mencari tahu tentang jati diri sang pemain film Bridezilla tersebut. Bahan demi bahan dikumpulkan untuk membuktikan bahwa Lucinta Luna adalah seorang transpuan.

Dengan pintarnya, Lucinta Luna memanfaatkan rasa ingin tahu masyarakat akan hidupnya sebagai pijakan menuju ketenaran. Lucinta pun sukses memainkan perannya. Bersama Abash, Lucinta merawat pamor dan imajinya dengan berbagai drama dan komedi. Dari mulai ngaku hamil sampai melahirkan. Lalu, ditutup dengan punchline: Abash menggendong anak monyet. Ternyata, tujuan kemesraan mereka adalah panggung hiburan untuk penggemar (dan pembenci) semata.

Baca juga: Begini Promosi di Akun Selebgram, Mulai dari yang Unik Hingga Bikin Kamu Melongo

Ketika Lucinta Luna dan Abash berurusan dengan polisi, segala misteri dibongkar tanpa tedeng aling-aling. Dengan gamblang, awak media mewartakan temuan polisi ini dengan judul-judul bombastis, mengundang netizen untuk menghujat. Netizen yang budiman pun menikmati kasus ini dan tak lupa menertawakannya.

Masyarakat yang masih gagap dengan keberagaman gender ikut memanfaatkan momen ini untuk menghina, bahkan melecehkan. Lupa bahwa Lucinta Luna adalah manusia juga yang bisa terluka.

Lucinta Luna mengaku terpaksa mengonsumsi psikotropika lantaran dirinya depresi. Selama ini, ia kerap jadi korban cyber bullying yang dilakukan oleh akun-akun jahat di media sosial.

Setelah Lucinta dinyatakan sebagai tersangka karena positif mengonsumsi psikotropika, dirinya kembali jadi sasaran bullying. Lagi-lagi, netizen tidak fokus pada masalah narkoba, melainkan menghakimi identitasnya. Salah apa sih dia? Ia ditangkap polisi karena penyalahgunaan obat-obatan jenis psikotropika, bukan karena menjadi seorang transpuan.

Namun, sejumlah pihak tampaknya aji mumpung untuk membongkar rahasia sang artis dengan tameng bukti dari kepolisian. Maka, berakhirlah saga epik hasil gimmick Lucinta Luna selama ini.

Baca juga: LGBTQ+ Sama dengan Kita, ‘Ambyar Generation’ juga jika Ditinggal Pas Lagi Sayang-sayangnya

Jika memang Lucinta bersalah dalam kasus psikotropika, proseslah sesuai hukum yang berlaku. Namun, kita tidak perlu menambah hukuman dengan kata-kata yang menyakiti hatinya. Sebab, memilih hidup sebagai transpuan di negeri ini sudah begitu berat karena diskriminasi masyarakat.

Lucinta Luna hanya satu contoh dari keberagaman gender di dunia ini. Serial Sex Education musim kedua di Netflix telah mengenalkan berbagai orientasi seksual dan gender kepada penontonnya. Melalui episode demi episode, Otis sang tokoh utama serial tersebut bersinggungan dengan para tokoh yang punya orientasi seksual bermacam-macam.

Serial Sex Education 2 ini cocok jika diberi subjudul “Laskar Pelangi vs Pelecehan Seksual”. Sebab, tokoh-tokohnya adalah representasi dari simbol pelangi yang dipakai sebagai bendera LGBTQ+.

Sahabat Otis yang bernama Eric adalah seorang gay. Ia terlibat kisah cinta segitiga dengan dua pria, yakni Rahim dan Adam. Belakangan, Adam diketahui sebagai biseksual yang menyukai laki-laki dan perempuan.

Baca juga: Ini Alasannya Sosok Otis Lebih Dibutuhkan daripada Dilan

Mantan pacar Otis, Ola, ternyata seorang panseksual. Ola menyadari orientasi seksualnya pasca putus dengan Otis dan mulai memimpikan teman perempuannya yang bernama Lily. Lily yang menyambut Ola pun bisa digolongkan sebagai lesbian. Walaupun ceritanya ingin memperkenalkan vaginismus, kondisi yang dialami oleh Lily, yaitu kelainan di mana otot-otot vagina meregang dan menutup setiap melakukan hubungan seks.

Berbeda dengan biseksual, panseksual adalah ketertarikan seksual, romantis, atau emosional terhadap seseorang tanpa memandang jenis kelamin. Seorang panseksual sangat mungkin menyukai seorang transgender. Kebalikannya adalah aseksual yang tidak tertarik dengan segala hubungan seksual, tapi masih mungkin ada ketertarikan dengan hubungan romantis.

Dari perbedaan orientasi seksual para tokoh itu ditemukanlah satu kesamaan, yaitu mereka sama-sama tidak setuju dengan adanya pelecehan seksual. Tokoh Aimee, seorang gadis populer yang digambarkan sebagai ‘playgirl’ karena sering gonta-ganti pasangan, mendapati dirinya dijadikan bahan masturbasi pria asing di dalam bus.

Dari pengalaman tak mengenakkan sebagai korban pelecehan seksual itulah, Aimee mengalami trauma berkepanjangan. Sampai ia tidak berani naik bus lagi dan memilih jalan kaki sampai sekolah. Trauma itu menghantui Aimee sampai ketakutan sendiri dan takut dengan pasangannya sendiri yang notabene laki-laki.

Artikel populer: Heran ya, Kenapa Cowok Enteng Banget Nulis Komentar Mesum?

Mengetahui hal ini, teman-teman Aimee pun curhat bahwa mereka juga pernah mendapatkan pelecehan serupa. Sebagai bentuk solidaritas sesama perempuan, geng cewek ini pun membantu menyembuhkan trauma Aimee. Mereka menemani Aimee naik bus sebagai terapi untuk melawan trauma. Bahwa dia tidak sendiri.

Pelecehan seksual memang sepantasnya kita lawan di dunia ini. Walaupun berbeda-beda orientasi seksual dan gender, prinsip kita satu: anti-kekerasan seksual.

Jika kamu memang meyakini bahwa agama melarang LGBTQ+, bukan berarti bisa bebas mem-bully atau melecehkan mereka. Sebab, melecehkan seseorang yang kamu anggap penuh dosa, tak otomatis membuatmu suci.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini