Ilustrasi (Photo by cottonbro from Pexels)

Kabar baik apa yang kamu dengar dan baca hari ini? Bagaimanakah wujudnya? Semoga tidak sulit menjawab pertanyaan itu, meskipun faktanya kita masih diselimuti kabar duka mengenai korban jiwa akibat Covid-19 hingga lesunya ekonomi.

Dalam kondisi seperti itu, seberkas kabar baik laksana mendapatkan mukjizat; diterima oleh seorang nabi, dinantikan oleh banyak umat dan diharapkan tak pernah berhenti.

Baru-baru ini, saya mendapat kabar baik tentang pernikahan seorang teman. Sederhana, penuh keceriaan, kebahagiaan, khidmat, namun dalam bayang-bayang virus Corona. Di Jogja, seorang kawan juga menyaksikan kebahagiaan yang sama. Cinta berwujud pernikahan. Pernikahan di tengah pandemi Corona bagaikan sebuah episode dalam Love in the Time of Cholera Corona.

Cinta memang tidak mengenal situasi dan kondisi. Dalam kondisi kemiskinan yang akut sekalipun, perjuangan kisah cinta ‘orang-orang miskin’ tak mengenal surut. Pada masa-masa genting, cinta tetap hidup, tumbuh, dan bermanifestasi. Namun, untuk membuktikan cinta itu ada, tentu tidak melulu mengambil contoh tentang pernikahan, bukan?

Baca juga: Bagaimana kalau Menikah dengan Upah Seuprit, tapi Tuntutan Sosial Selangit?

Kita bisa saja mengambil setumpuk novel roman tentang pernikahan, tapi apakah pernikahan selalu dilandasi dengan kecintaan? Belum tentu. Terkadang, pernikahan hanya salah satu babak dari pelarian hidup.

Dalam masa pandemi ini, manifestasi cinta bisa saja dengan menyemprot cairan disinfektan secara gratis ke rumah warga, membagi-bagikan masker, hand sanitizer, membantu kelompok masyarakat yang rentan, atau menutup (lockdown) desa agar tak ada warga yang berpotensi terinfeksi virus Corona.

Begitulah cinta. Ia bukan ideasional semata, melainkan kesatupaduan antara yang ideal dan material. Sesekali ada sedikit rasa sakit, namun bukanlah menyiksa, apalagi membunuh. Pada kehidupan sehari-hari, cinta tidak melahirkan kepanikan, justru ia menenangkan.

“Kepanikan adalah separuh dari penyakit. Ketenangan adalah separuh dari obatnya. Dan, kesabaran adalah permulaan dari kesembuhan.” Begitu kata Ibnu Sina.

Baca juga: Di Rumah Aja Tanpa Harus Merasa Heroik

Untuk mengatasi rasa panik berlebih saat serbuan wabah Corona, beberapa orang memilih menghabiskan waktunya di rumah dengan berkebun, membaca buku, atau melukis. Saya bukan orang yang biasa berkebun dan berkonsentrasi tinggi saat membaca buku, namun saya memiliki impian untuk menjadi seorang pelukis.

Sebagaimana mimpi pada umumnya, konon bermimpi juga mesti diawali dengan imajinasi, keliaran ide, dan merdeka dari rasa takut. Mungkin dengan memiliki watak semacam itu, suatu saat saya bisa sekelas dengan Joni Ramlan – seorang pelukis ternama – yang melukis kemiskinan.

Bagaimanapun, selama masa pandemi ini, warga miskin juga termasuk kelompok yang mesti mendapat prioritas perlindungan. Sebab, social distancing, physical distancing, ataupun pembatasan sosial berskala besar – entah apalah itu namanya – tentu semakin menekan kehidupan mereka.

Baca juga: Pembatasan Sosial, Buruh dengan Upah Harian Bisa Apa?

Adanya jaring pengaman sosial (social safety net) bernilai seratus triliun rupiah dari negara diharapkan bukan sekadar angka-angka. Bantuan itu harus tersalur tepat sasaran. Dengan begitu, bisa muncul kabar baik di tengah masa yang sulit ini.

Sebab, munculnya kabar buruk pada waktu yang tidak tepat, terlebih tentang sesuatu yang tidak tepat, juga bisa menjadi babak baru bagi tertundanya kedatangan kabar baik. Misalnya, ungkapan “yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup wajar, yang miskin melindungi yang kaya agar tidak tularkan penyakitnya”.

Maksud hati ingin berbagi kabar baik dan mendistribusikan rasa cinta, ternyata tak seindah harapan. Bahkan, itu bisa dikatakan hanya cinta sepihak. Betapa pernyataan semacam itu adalah kecintaan abal-abal dan dirasakan tanpa beban oleh kalangan kelas menengah dan atas.

Kecintaan abal-abal itu tak ubahnya cinta segitiga yang diam-diam menikam dalam pelukan, atau seolah menjadi kabar buruk bagi kaum miskin papah dan prekariat.

Artikel populer: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Rasa cinta dan kabar baik adalah kesatuan. Cinta yang diwujudkan dengan cara mengerdilkan dan menyudutkan sebagian pihak dan meninggikan pihak-pihak yang lain hanya akan berujung pada pesakitan.

Itulah sebabnya mengapa cinta pada hakikatnya adalah kabar baik, sebagaimana kabar baik itu datang kepada Florentino Ariza untuk dambaannya, Fermina Daza, dalam novel Love in the Time of Corona Cholera karya Gabriel García Márquez.

Pada masa-masa yang mestinya saling menguatkan seperti sekarang ini, bukankah berbagi kabar baik bisa menjadi multivitamin penambah semangat untuk bertahan hidup?

Love in the Time of Cholera Corona seharusnya bukanlah isapan jempol belaka. Kecintaan kita terhadap kabar baik akan bertemu pada waktunya, sekalipun 51 tahun 9 bulan 4 hari lamanya. Sebab itu, terimalah tulisan ini sebagai satu kabar baik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini