Ilustrasi perempuan. (Photo by josue Verdejo from Pexels)

Sebuah gerai makanan cepat saji sempat promo dengan tagline “Ada Yang Menggoda Tapi Bukan Janda”. Membaca flyer promo tersebut bikin mulut melongo. Terus mikir, apa iya tim pemasarannya secupet itu? Apa nggak ada hal lain selain janda?

Janda kerap menjadi bahan tertawaan dan guyonan seksis yang melanggengkan stigma negatif. Menganggap janda sebagai objek belaka. Bahkan, tak jarang, sering disamakan dengan makanan. Cepat saji pula. Janda juga manusia, woii!

Belum lama ini juga sempat ngehits tanaman bernama ‘Janda Bolong’, lalu menjadi bahan meme-meme seksis. Semisal, ungkapan-ungkapan seperti ini:

“Ya iyalah, namanya janda pasti bolong, kalau rapet berarti masih perawan.”

“Biar janda tapi mahal harganya.”

“Yang janda memang selalu jadi primadona.”

“Biar udah bolong, yang penting goyangannya.”

Sebetulnya masih banyak lagi. Tapi sudah, sudah, cukup! Apalagi, ungkapan seperti itu malah disambut riang gembira oleh banyak orang dengan komentar yang nggak kalah seksisnya. Memang apanya yang lucu sih?

Baca juga: Kelihatannya Sepele, tapi Tanpa Sadar Kita Jadi Misoginis, Cek Ya!

Kalaupun punya pikiran mesum, ya mesumnya mending disimpan sendiri aja. Ngapain pamer ke seluruh dunia? Nggak penting! Yang ada, komentar-komentar corny tersebut sangat mengganggu. Bahkan, melecehkan dan melukai orang lain.

Tak heran, banyak perempuan terpaksa bertahan di tengah pernikahan yang toksik dan abusif hanya karena tak ingin menjadi janda kalau nanti sampai bercerai. Janda seakan masih menjadi momok dalam masyarakat kita, sekaligus bahan guyonan seksis.

Saya pun pernah mengalami masa-masa suram ketika ayah meninggal dunia dan ibu menjadi janda pada usia yang terbilang belum terlalu berumur, yaitu 43 tahun, kurang lebih 30 tahun yang lalu.

Bisa dibayangkan seperti apa julidan tetangga saat ibu menjanda. Beliau selalu saja terlihat salah di mata masyarakat. Stigma bahwa janda muda haus belaian lelaki dan bisa merusak rumah tangga orang lain benar-benar melekat dalam pikiran banyak orang.

Baca juga: Bisa Nggak kalau Mesum Sendiri Aja? Nggak Usah DM-DM Segala

Meskipun mereka tahu ibu sibuk mencari uang dengan berjualan pakaian demi memenuhi kebutuhan keluarga, tetap saja ada yang julid dan nuduh-nuduh bahwa bukan hanya baju yang bisa dibeli, yang jualan juga bisa sekalian ditawar. Kan, kejam.

Suatu waktu, saya marah mendengar perkataan itu, tapi bukan simpati atau empati yang saya dapatkan, melainkan nyinyiran: “Dasar anak janda, makanya kurang ajar karena nggak ada yang ngedidik. Ibunya sibuk nyari laki-laki timbang ngurusin anak. Masih kecil udah berani sama orangtua.”

Sedihhh…

Ternyata stigma negatif terhadap janda bukan hanya berdampak buruk pada ibu, tapi juga anak-anaknya.

Ironisnya, keadaan sekarang tidak berubah. Banyak para janda beserta anak-anaknya yang juga harus menderita karena cara pandang masyarakat.

Apalagi, jika itu akibat perceraian. Kalau suami selingkuh, perempuan juga yang disalahkan. Semisal, dianggap nggak bisa memenuhi hasrat suami, dianggap nggak mau merawat diri, hingga dianggap nggak pintar menjaga suami sehingga suami melirik perempuan lain.

Baca juga: Menikah Adalah Pilihan, Begitu juga Menjadi Janda

Yang paling nyebelin, kalau alasannya fisik istri yang berubah setelah menikah. Yaelah, bentuk tubuh setiap perempuan beda-beda keleus… kalau niatnya memang ingin selingkuh, ya selingkuh aja kali, nggak usah alasan macam-macam.

Begitu juga dengan perceraian karena faktor ekonomi, tetap saja perempuan yang disalahkan. Saat nafkah dari suami kurang mencukupi kebutuhan keluarga, istri dianggap tidak becus mengelola keuangan. Dianggap kurang bersyukur, sudah untung suami mau menafkahi. Ada pula yang menganggap istri malas dan nggak mau bantu cari tambahan.

Lalu, ketika alasan perceraian adalah pernikahan yang toksik dan abusif, si perempuan dianggap kurang bersabar, kurang banyak berdoa dan beribadah, nggak mau memohon kepada Tuhan agar suami dibukakan hatinya.

Ya ampun, masa sih diperlakukan kasar gitu bakal diem-diem bae? Apa harus nunggu tubuh tak bernyawa baru bisa bebas dari pernikahan toksik, hanya karena ingin disebut sebagai ‘istri soleha’?

Artikel populer: Saat Perempuan Dituntut Cantik dan Laki-laki Dituntut Kaya

Hal itu pula yang kadang membuat para orangtua sibuk meyakinkan anak perempuan mereka untuk bertahan dalam pernikahan setoksik apapun itu ketimbang bercerai dan menjadi janda.

Orangtua sering kali lebih mementingkan gengsi, merasa malu, kalau dianggap nggak bisa ‘mendidik’ anak karena pernikahan anak perempuannya itu bubar. Mereka takut dinilai nggak mampu mengurus anak perempuannya menjadi istri yang manut bin nurut sama suami.

See, parah kan?

Dan, kehidupan setelah bercerai sering kali lebih berat ditanggung perempuan dengan label janda tadi. Berbanding terbalik dengan lelaki yang menyandang status duda.

Kita kerap mendengar istilah ‘janda gatal’, ‘janda genit’, atau apa-apalah itu. Sebaliknya, para lelaki yang telah bercerai sering kali disebut sebagai duda keren. Kontras banget konotasinya, bukan?

Makanya, saya yakin sekali bahwa para janda adalah perempuan-perempuan tangguh. Hwaiting..!

1 KOMENTAR

  1. Terus yang suka komen julid soal janda juga orang-orang yang sama yang mendesak anak-anak perempuan mereka untuk segera menikah. Giliran suami si anak abusif, si anak diminta sabar ketimbang jadi janda yang kena stigma. Emang, kadang harus nunggu perempuannya gak bernyawa dulu baru dianggap baik. Negeriku yang katanya ramah ini justru sangat jahat sama perempuan, terutama yang berstatus janda.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini