Ilustrasi. (Image by Free-Photos from Pixabay)

Apa yang membuatmu senang berkunjung ke kota-kota asing? Didorong oleh sifat kekanak-kanakan, saya kerap melakukan ritual tersebut dengan pengandaian liar bahwa saya adalah Marco Polo, seseorang yang ditugaskan untuk meriwayatkan kota-kota yang ia kunjungi kepada Kublai Khan, dalam novel Italo Calvino, Invisible Cities. Lawatan singkat, menuju kota dengan spesifikasi yang unik, tentu akan membawa kegembiraan tak terbilang.

Tapi mustahil untuk selalu bersifat naif. Saya bukan Marco Polo dan tak ada kota macam Isidora atau Fedora di Indonesia. Lagian, belakangan tempat-tempat wisata diciptakan menjadi identik, mirip-mirip.

Dalam tataran paling ekstrem, kita bergunjing soal vonis yang dijatuhkan pengadilan pada instalasi Love Light di Rabbit Town, Bandung, karena terbukti meniru Urban Light bikinan Chris Burden yang bercokol di Los Angeles County Museum of Art. Pada tataran terendah dalam soal tiru-meniru, kita mengingat upaya serius Kabupaten Pandeglang dalam mengimitasi Hollywood Sign, sebuah markah yang menjadi ikon budaya pop Amerika, di Los Angeles, California.

Baca juga: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Itu contoh nyata yang tampak di depan mata. Contoh-contoh serupa, tetapi agaknya telah dianggap wajar, adalah keinginan untuk meniru tempat vakansi yang lebih dulu trendi, misalnya Bali. Coba ketik di mesin pencari dengan kata kunci daerah tertentu ditambah “mirip Bali” pasti hasilnya banyak, seperti jumlah pejabat korup di Indonesia. (Ciye, pesan moral)

Apa yang membuat hal itu bisa terjadi? Industri wisata yang berorientasi pada cuan, tanpa peduli pada identitas kedaerahan, adalah api paling nyala yang menyulut fenomena ini. Baru kemudian, wisata selfie dan keajaiban algoritma internet mengekor di belakang.

Jangan terkecoh, contoh-contoh tempat wisata yang dikemukakan di atas menjadi serupa karena sejak mula seluruhnya memang diciptakan sebagai titik swa-foto, atau spot selfie istilah kerennya. Mereka hadir untuk memenuhi hasrat narsis manusia di jagat maya.

Baca juga: Tak Perlu Asli, yang Penting ‘Selfie’

Sabar, sabar, jangan ngegas dulu. Tak ada yang harus disesali dengan swa-foto. Ia bukan kegiatan yang layak dilaknat sampai liang kubur, juga bukan kekeliruan yang bisa di-spill di Twitter. Tapi memang pada dasarnya, jika dilakukan dengan cara berlebihan, ia memiliki sisi kelam yang jarang kita lecut ke permukaan.

Bukan hanya bertanggung jawab menyulap destinasi wisata menjadi identik, selfie juga telah mengubah paradigma wisata secara keseluruhan. Kini, sejak ponsel pintar dijual sepaket dengan kamera beresolusi tinggi, titik-titik swa-foto mulai berjamur – bahkan sampai pelosok kampung.

Ada yang luput dalam perbincangan, sesuatu yang sejatinya sangat prinsip. Salah satunya seperti yang diungkap oleh Prof Melani Budianta dalam pidato kebudayaan di DKJ berjudul Lumbung Kebudayaan di Sepanjang Gang, bahwa “Kampung menjadi bagian dari lanskap yang dipakai untuk ber-selfie. Tentu ada peluang ekonomi untuk berjualan kudapan atau souvenir untuk pengunjung yang lewat, tetapi seperti pengalaman sang ibu, privasi terganggu karena ruang privat telah menjadi ruang publik.”

Baca juga: Strategi Agar Tidak Terkecoh Gimik Influencer

Setelah puas ber-selfie, kita memilih foto paling apik untuk diunggah di internet sebagai arsip sekaligus warta kepada followers bahwa kita sudah mampir di lokasi wisata kekinian yang instagramable. Kadang-kadang ditambah dengan tagar #visit atau #explore nama destinasi.

Nah, di sinilah algoritma internet bekerja.

Salah satu ciri mesin ajaib ini adalah membuat lingkaran tertentu di ekosistem media sosial kita, unggahan-unggahan rekomendasi yang tampil paling awal di tab home YouTube atau tab explore Instagram, misalnya.

Dengan kata lain, jika kita rutin mengonsumsi video-video olahraga, maka otomatis mesin canggih ini akan memberi rekomendasi serupa di kanal-kanal yang tengah kita gunakan. Dengan sendirinya, ia akan membuat kita homogen, menjadi monolitik, karena dicekoki oleh preferensi yang pada dasarnya itu-itu saja.

Artikel populer: Harus Banget Auto Bangga dengan Reaksi Youtubers Asing atas Indonesia?

Saat mendayagunakan aneka tagar untuk mencari lokasi wisata, kita akan dikepung oleh unggahan yang paling banyak diminati. Terciptalah tren, geger. Kemudian, para pekerja wisata akan menyediakan hal-hal yang kita butuhkan untuk tetap eksis. Karena foto dengan simbol sayap malaikat tengah viral, seorang pemilik kafe di pelosok Banten menciptakan spot serupa untuk menarik minat pengunjung. Terus begitu. Kemudian ditiru oleh pemilik kedai di Bekasi, juga di banyak daerah.

Akhirnya, orientasi kita pada wisata telah bergeser. Bukan lagi mencari hiburan dan melepas penat. Secara perlahan semua tempat wisata menjadi serupa, mirip satu sama lain. Memang lebih asoy rebahan saat liburan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini