Ilustrasi pasangan (Photo by Robert V. Ruggiero on Unsplash)

Sebelumnya, saya memang tidak ingin meralat diksi LGBTQ+ menjadi minoritas gender. Ini penting untuk diperjelas dari awal karena saya tak ingin terma LGBTQ+ menjadi tabu, yang harus diperhalus agar lebih bisa diterima.

Kemudian, perlu diluruskan satu hal bahwa in this house we are not judging. Jadi jelas, ini tidak akan meributkan persetujuan orang lain terhadap LGBTQ+. Toh, ada tidaknya LGBTQ+ tidak membutuhkan persetujuan orang lain.

Bahwa teman-teman dengan gender dan orientasi seksual beragam ini memang ada, menghirup oksigen bersama-sama dengan kita, ikut bayar parkir, bayar BPJS atau asuransi kesehatan lain, seketika jadi sad people atau ambyar generation juga kalau ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, dan mungkin juga berpihak keras pada golongan makan bubur diaduk atau tidak diaduk.

Jadi sama, kecuali ruang privat kita semua yang memang semestinya menjadi urusan pribadi masing-masing. Titik. Seharusnya selesai saja sampai di situ. Tapi, ternyata oh ternyata, perjalanan hidup ini tidak semulus oligarki berbagi posisi, sobat-sobat seperinsekyuranku!1!!1!1!!!

Ketika jalan-jalan di mal, nonton bioskop, beribadah, akses pendidikan, mendapatkan fasilitas negara, bahkan saat bernapas pun, teman-teman LGBTQ+ mendapat banyak sekali perlakuan berbeda. Jauh sebelum perlakuan, mereka pun sudah mendapat diskriminasi sejak dalam pikiran!

Baca juga: Menjawab Beberapa Pertanyaan Menohok seputar LGBT

Beberapa waktu lalu, saat mewawancarai calon anggota Women’s March Yogyakarta 2020, saya berbincang dengan berbagai macam orang dan menanyakan perspektifnya terhadap LGBTQ+. Tentu saja, pendapat mereka beragam.

Ada yang terang-terangan membela hak dan pilihan hidup LGBTQ+, ada yang terang-terangan menganggap LGBTQ+ sebagai kumpulan orang dengan mental disorder. Ada pula yang abu-abu alias tidak jelas, seperti ungkapan “yaa gamasalah sih kak yang penting gak perlu ditunjukin aja.”

Hmmm…

Bagi orang-orang yang pro ataupun kontra, mungkin tidak perlu dikulik-kulik lagi. Atau, kalau mau memacu adrenalin akal sehat, bolehlah berbincang dengan Ibu Dwi Estiningsih. Itu pun kalau beliau sudah tidak lagi menganut hukum “saya mute, tidak menerima debat apapun!”

Namun, untuk pernyataan abu-abu tadi, rasanya perlu didiskusikan. Bagaimanapun, itu mengganggu tidur saya berhari-hari selain chat WhatsApp yang tidak digubris pacar. Apa maksudnya tidak harus diperlihatkan? Apa iya, gender dan orientasi seksual adalah sesuatu yang bisa dilihat?

Kalau menengok teori Sexual Orientation, Gender Identity and Expression, and Sex Characteristics (SOGIESC), kita akan memahami bahwa ada perbedaan yang sangat tebal antara sex secara biologis, gender yang dibentuk oleh masyarakat, dan ketertarikan seksual seseorang terhadap orang lain.

Baca juga: Kalau LGBT Penyakit Jiwa, Berarti Hetero juga?

Sex secara biologis adalah bentuk kelamin yang menempel pada badan kita, semisal penis dan vagina. Lalu, orientasi seksual adalah ketertarikan kita terhadap orang lain berdasarkan seksualitas yang mereka miliki. Sementara, gender adalah konstruksi yang berkembang dalam masyarakat yang kemudian menyebut manusia bervagina adalah perempuan, sedangkan yang memiliki penis adalah laki-laki.

Pelabelan inilah yang menjadi akar permasalahannya. Alih-alih hanya digunakan sebagai penamaan saja, masyarakat kemudian menentukan segala peran dan fungsi mereka dalam hidup bersosial. Gampangnya, peran-peran seperti perempuan itu memasak, sedangkan laki-laki bekerja. Perempuan mengulek di dapur, laki-laki mengulik di garasi. Perempuan harus bertutur kata halus, sedangkan laki laki harus sangar, gahar, nan perkasa.

Padahal, peran-peran gender dalam hidup bermasyarakat ini hakikatnya tidak melulu berpatokan pada kelamin apa yang menempel pada selangkangan. Atau singkatnya, nggak ada hubungannya bos, kalau yang bervagina, maka harus lemah gemulai! Atau, pada tataran yang lebih tinggi lagi, belum tentu manusia yang memiliki vagina, rahim, dan payudara yang membesar selalu perempuan.

Lantas, apa maksudnya LGBTQ+ tidak boleh menunjukkan identitasnya?

Baca juga: Kelihatannya Sepele, tapi Tanpa Sadar Kita Jadi Misoginis, Cek Ya!

Teman-teman dengan peran gender yang berbeda dengan bentuk kelaminnya yang nggak bisa dipilih sejak awal ini juga sama seperti mayoritas orang lain yang memiliki bentuk kelamin serta peran gender yang sama. Seperti yang sudah disinggung tadi bahwa dalam SOGIESC, ada terma “gender identity and expression”. Mereka pun juga memiliki hasrat untuk mengekspresikan gender sesuai identifikasi diri sendiri.

Kalau makan bubur enaknya diaduk, ya mereka juga ingin memakannya dengan diaduk dulu, diblender kalau perlu! Meskipun berpenis, tetapi mereka mengidentifikasi diri sebagai perempuan, maka mereka pun juga ingin sekali-kali menggunakan rok dan berias wajah.

Bentuk ‘toleransi’ masyarakat yang mengizinkan kehadiran mereka, tetapi ingin memberangus suara serta ekspresi diri mereka, adalah sebuah paradoks yang duh… gimana ya ngomongnya? Kuingin berkata kasar!

Dalam UUD 1945 Amendemen II Pasal 28E Ayat 2 disebutkan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Sudahlah, ekspresi diri LGBTQ+ ini biarlah menjadi permasalahan mereka saja, apakah hari ini mau pakai gincu warna merah, hijau, atau ungu, itu kan bibir-bibir mereka. Perihal apa kita setuju atau tidak dengan pilihan itu, tak perlu dirisaukan.

Toh, kita juga tidak protes apakah jari kelingking Hotman Paris terbebani dengan cincin emas yang begitu besar dan harus diangkat setiap kali beliau berbicara. Padahal, tentu saja, recehan di sela dompet kita meringis haru melihatnya.

Artikel populer: Ngomong Penis dan Vagina Dianggap Tabu, Pendidikan Seks Dipikirnya Urusan Ranjang Melulu

Selain itu, persetujuan kita selaku masyarakat cis-gender+heteroseks sebenarnya juga tidak terlalu mereka butuhkan guna menunjukkan ekspresi diri. Jadi, kita nggak usah GR!

Persis seperti pernyataan mbak Merlyn Sopjan, narasumber utama film dokumenter Perempuan Tanpa Vagina, dalam acara Transgender Day of Remembrance di Yogyakarta yang kurang lebih seperti ini: “Saya juga tidak menuntut semua orang harus setuju pada semua pilihan yang saya jalani, saya hanya berharap kita semua bisa saling memperlakukan satu sama lain seperti layaknya manusia. Sebab, sama seperti kalian, saya pun manusia.”

Maka, sebagai sesama manusia, mari tunjukkan bahwa kita bisa memperlakukan orang lain selayaknya manusia. Sudah, buang saja pemikiranmu untuk jadi Tuhan itu!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini