Sampai Kapan Kamu Membenci LGBT? Sampai Mati?

Sampai Kapan Kamu Membenci LGBT? Sampai Mati?

Ilustrasi Black Lives Matter (dailydot.com)

Saya sebetulnya malas melayani debat yang muasalnya dari salah kaprah berjamaah soal putusan MK tentang LGBT dan seks tanpa nikah yang sedang ramai dibicarakan di media sosial.

Pertama, jumlah manusia yang perlu dicerahkan isi kepalanya tidak hanya satu-dua, tapi berjuta-juta. Kedua, saya juga tidak yakin mereka mau berlega hati membuka mata dan pikiran, bahkan setelah disodori penjelasan seilmiah mungkin.

Ya, gimana, hati sudah diliputi kebencian, kok. Jadi daripada membuang waktu buat berdebat dengan orang yang nalarnya sungsang, mending ngoceh di sini saja.

Oke begini, mari kita kuliti soal apa dan bagaimana LGBT itu. Pada dasarnya, LGBT merupakan satu dari puluhan macam orientasi seksual yang melekat pada diri seseorang. Samalah kayak heteroseksual; ya kita-kita ini yang mengaku straight karena tertarik hanya pada lawan jenis.

Salah kaprah pertama: LGBT adalah penyakit. Halah, itu pemahaman yang ngawur banget. Kalau LGBT penyakit, harusnya heteroseksual juga termasuk penyakit, dong. Kan keduanya sama-sama orientasi seksual. Jadi, tolong digarisbawahi ya, LGBT bukan penyakit, apalagi gangguan jiwa.

Paham LGBT sebagai gangguan jiwa bahkan sudah secara resmi dihilangkan oleh Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) pada 17 Mei 1990 dan dicantumkan Depkes RI dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993).

Namanya bukan penyakit, ya nggak bakal nular dan nggak ada gunanya juga cari-cari wacana penyembuhan. Jadi, nggak perlulah merasa diri paling sehat dengan khawatir berlebihan bahwa situ atau anak-anak bakal rusak moral dan imannya hanya karena bergaul sama mereka.

Tapi kalau nggak setuju dan mau bantah, silakan saja bikin penelitian tandingan. Lalu, berdebat dengan ilmuwan-ilmuwan yang kalian anggap kafir itu, yang sudah bareng-bareng ketok palu bahwa LGBT bukan penyakit. Saya sih lebih percaya dengan temuan sains daripada doktrin-doktrin tak berdasar yang gentayangan saban waktu di linimasa.

Salah kaprah kedua: pelaku LGBT adalah aktivis seks sesama jenis, seks anal, penis masuk dubur, dan sumber HIV/AIDS. LGBT itu menjijikkan.

Sudah? Ya belum, doooongโ€ฆ Karena termasuk kaum Sodom yang kehadirannya sudah dikutuk Tuhan sejak zaman Nabi Luth, jadi ya bibit-bibit LGBT harus dibumihanguskan dari Indonesia Raya merdeka negerinya, tapi cupet pola pikirnya ini.

Yes, LGBT memang menjijikkan, tapi cuma bagi kalian yang isi otaknya cuma urusan selangkangan. Salah besar kalau LGBT melulu diidentikkan dengan hubungan badan sesama jenis. Jangan bikin teori sendiri.

Preferensi seksual nggak bisa selalu dikaitkan dengan hubungan seks di ranjang. Terlalu picik kalau kita menganggap pelaku LGBT sudah pasti pernah melakukan seks anal dan semacamnya itu.

Sama seperti pacarannya pasangan straight, relasi antarpelaku LGBT juga nggak selalu berakhir di ranjang. Kalian yang straight memang mau dituduh sering kelon bareng pacar, padahal kenyataannya nggak pernah? Nggak tho? Nah, sama kasusnya dengan pelaku LGBT.

Lalu, gimana dengan pesta seks para gay yang beberapa waktu lalu pernah ramai diberitakan? Halah, jangan tutup mata. Cewek-cowok yang pesta seks juga banyak, kok. Cuma nggak ketahuan aja.

Yang teriak-teriak kalau LGBT adalah penyebab merebaknya HIV/AIDS, kudu banyak-banyak baca referensi. Faktanya, justru porsi terbesar penyumbang dua penyakit kelamin adalah mereka yang hetero, lho.

Kemudian, banyak orang tua yang sepertinya kelewat khawatir anak-anak mereka akan menjadi korban LGBT. Halo, Bukibuk, Pakbapak, tolong dipahami ya. Yang mesti kalian waspadai itu pedofil, bukan LGBT. Beda? Ya beda jauh lah…

Hubungan antara pelaku LGBT tidak bisa disebut sebagai kejahatan, karena sudah dilandasi consent alias persetujuan kedua pihak. Sama halnya waktu kalian jadian sama pacar. Sama-sama mau, kan? Soal mau lanjut ke kasur atau tidak, itu urusan kalian berdua. Wong, sudah sama-sama dewasa.

Sementara pedofil disebut sebagai kejahatan, karena selain merugikan satu pihak, hubungan antara korban dan pelaku juga nggak berlandaskan konsen.

Mana ada sih anak kecil yang tahu dan mau menerima dengan rela hati untuk berhubungan badan pada waktu dan dengan orang yang bukan seharusnya?

Jadi, nggak perlulah teriak-teriak gempa kemarin adalah azab akibat negara memperbolehkan LGBT dan seks di luar pernikahan. Selain salah kaprah, itu juga nggak ada hubungannya.

Lagian kok ya lucu, teriak-teriak anti-LGBT di Facebook yang jelas-jelas sudah mendapuk diri sebagai suporter nomor wahid LGBT.

Mereka yang membela juga bukan berarti dirinya LGBT. Ini murni soal rasa kemanusiaan. Sama seperti hetero, LGBT juga punya hak hidup dan daulat sebagai warga negara yang sepenuhnya dilindungi hukum dan HAM.

Kecuali, kalau anda masih enggan sedikit berempati dan terus-terusan menyerukan kebencian sampai mati.

24 COMMENTS

  1. Waduh neng, mau gimana upaya kalian munafiqun berjuang buat LGBT, ummat islam punya Al-Quran. ๐Ÿ™‚ Punya Hadits, tau shirah nabawiyah.

  2. Hahahaha, saya minoritas keyakinan dan menolak digabungkan dgn gaya hidup orang2 ini.

    Masakan sekadar tidak setuju dan menegur orang dengan perilaku seks ini adalah kebencian? (tanpa kekerasan lho).

    Dan kalau consent adalah dasar, jadi bagaimana dgn misalnya, poligami/poliandri dengan basis demikian?

    • Poligami tergolong legal di Indonesia, meski syaratnya tidak mudah. Kalau poliandri ilegal, malah dianggap zina menurut KUHP. Jadi isu consent tetap relevan dalam konteks poligami, tapi tidak pada poliandri, karena melanggar hukum negara.

    • Halo, mas, huruf P pada abreviasi LGBTQP itu kependekan dari Panseksual ya, bukan pedoseksual. Jadi jangan samakan LGBT dengan pedofil. Banyak banget lho referensi soal ini yg bisa dibaca.

  3. Iya, emang di PPDGJ III si homoseks udah ga masuk lagi gangguan seksual, dan digolongkan sebagai lifestyle..

    dan LGBT gabisa disetarakan dgn heteroseks sih, CMIIW, hal itu bisa dipicu dari faktor lingkungan, pola asuh keluarga, trauma, dlsb. Terlalu kompleks sih klo dibahas lewat tulisan, tapi bisa panjang ngomongin gian sih.
    Nampaknya emang paham liberal dan berlandaskan HAM, semua menjadi terlihat normal. (but it’s not)
    1. Mari kembali lagi ke definisi kata “normal”. Menurut mbak, normal itu apa?
    2. kira2 nih, klo adam gay, kita bisa ada? apakabar eva/hawa cuma bisa bengong liatin si Adam yg notabene sepasang manusia yg pertama kali diciptakan, dan tidak mau bereprodusksi karena dia sadar dia gay.
    3. Adapun gay yg ada kisahnya adalah ketika kaum Sodom yang di azab atas permintaan Nabi Lut/Luth/Lot karena perilaku “menyimpang” kisah ini sy rasa ada di Al-Qur’an, Injil, Taurat. (kalo blm baca, boleh dicoba dibaca mbak)
    4. Sy agak tergelitik aja sih, gimana bisa walaupun sudah ada contoh di dalam kitab suci, tapi mbaknya memilih untuk lebih percaya ilmuwan? I mean, yeah ilmu memang terus berkembang, tapi alangkah lebih bijak bila menelaah segala sesuatunya menggunakan akal sehat dan tabayyun dulu..
    5. Who knows it’s just a part of conspiracy or something like that to support The New World Order? Since there’s only one nation that controls and influencing in almost every aspect, nowadays..
    6. Kalo mbak ga percaya sama new world order, mungkin sama halnya sy yg ga serta merta percaya sama temuan2 yang dipublikasi negara adidaya, yg isinya konspirasi dan mendanai negara lain buat invasi (it’s not related to religion ya, humanity aja)

    iya, manusia memang punya 2 sisi sih, anima animus, tinggal mana yg lebih dominan itu yg timbul. Tapi hal itupun gabisa jadi pembenaran dan mengatakan LGBT merupakan “fitrah”..

    And lastly, I don’t support nor hate..
    Sy punya beberapa temen yang menyukai sesama pas masi kuliah, and I have no issues with them, asik dan lucuk.
    And I know exactly why he become a homosexual. Memang gabisa dijadikan sample dan digeneralisir, tapi ga tiba2 lahir dan tau “oh I’m gay”..

    • Hai, Mas

      – PPDGJ III tidak pernah menyebut homoseksual & lesbian sebagai lifestyle, tapi orientasi seksual. Catat, orientasi seksual tidak sama dengan gaya hidup.

      – “Nampaknya paham liberal dan berlandaskan HAM, semua menjadi terlihat normal. (but it’s not).” Nah, coba luruskan dulu pemahaman mas andhika soal HAM dan liberalisme. Orang-orang liberal justru sangat menghargai hukum.

      – Pertanyaan 1 dan 2: mas andhika yg bikin interpretasi dan berandai-andai sendiri, kenapa saya yg harus jawab?

      – Pertanyaan 3 baiknya disimpan dulu, mas, kalau masih pakai argumen macam “saya rasa, saya kira”. Atau saya kudu baca alquran, injil, dan taurat ayat/bagian mana, nih, yg ada kaitannya dengan preferensi seksual macam lgbt? Silakan sebutkan dg jelas, saya terbuka kok utk belajar hal-hal baru.

      – 4, 5, 6 > New world order? Whoaaa mikirnya kejauhan. Pertanyaan ini juga bisa banget saya balikin ke mas andhika. Kenapa mengintervensi pilihan orang lain dengan meminta saya untuk banyak-banyak tabayun, kembali pada kitab suci, dan mikir dengan akal sehat, sementara mas andhika sendiri ogah percaya sama temuan2 yang (katanya) dipublikasi negara adidaya itu? Gimana? ๐Ÿ™‚

      – Ya, betul, ga tiba-tiba lahir dan tau “wah, aku gay/lesbi”. Tau kenapa? Social & cultural construct kita begitu, mengkotak-kotakan manusia cuma berdasar pada jenis kelamin, bukan gender. Padahal gender sendiri jumlahnya puluhan.

      Thanks ๐Ÿ™‚

  4. Yah mbak….

    Bukankah harusnya ilmu Agama yang didahulukan dari segala ilmu dan Hukum Allah harus didahulukan diantara segala hukum? saya membahas dari sisi agama karena melihat mbaknya memakai Hijab yang insya Allah mbaknya seorang muslimah. Perihal LGBT ini bukan masalah empati mbak, tapi masalah hukum Allah dan Rasulullah.

    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu โ€˜anhuma, Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

    ู„ูŽุนูŽู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุนูŽู…ูŽู„ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู ู„ููˆุทู ุŒ ู„ูŽุนูŽู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุนูŽู…ูŽู„ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู ู„ููˆุทู ุŒ ุซูŽู„ุงุซู‹ุง

    โ€œAllah melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luthโ€ฆ Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luthโ€ฆ 3 kali.โ€ (HR. Ahmad 2915 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

    Dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu โ€˜anhuma, Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

    ู…ูŽู†ู’ ูˆูŽุฌูŽุฏู’ุชูู…ููˆู‡ู ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู ุนูŽู…ูŽู„ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู ู„ููˆุทู ููŽุงู‚ู’ุชูู„ููˆุง ุงู„ู’ููŽุงุนูู„ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูู’ุนููˆู„ูŽ ุจูู‡ู

    โ€œSiapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya!โ€ (HR. Ahmad 2784, Abu Daud 4462)

    Megingat aturan ini disepakati oleh seluruh kaum muslimin, para ulama menggolongkannya sebagai masalah bagian dari agama dengan sepakat umat islam. Yang diisitilahkan dengan sesuatu yang disepakati bagian dari agama.

    Karena itulah, orang yang menganggap LGBT halal, atau memperjuangkan LGBT agar dilegalkan, termasuk perbuatan kekufuran. Berikut kita cantumkan keterangan beberapa ulama dari berbagai madzhab

    Pertanyaan saya sebagai seorang muslim kepada mbaknya yang merupakan seorang muslimah, apakah kita mau mendustai Allah Subhannawata’ala dan Rasul-Nya Salallahu allaihi wassalam?

    Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.

    Allahu a’lam.

      • Salah kaprah pertama: LGBT adalah penyakit. Halah, itu pemahaman yang ngawur banget. Kalau LGBT penyakit, harusnya heteroseksual juga termasuk penyakit, dong. Kan keduanya sama-sama orientasi seksual. Jadi, tolong digarisbawahi ya, LGBT bukan penyakit, apalagi gangguan jiwa.

        dari statement ini, heteroseksual (penyuka lawan jenis), ini fitrah dan ada dalam Alqur’an mbak bahkan orang bujang saja di suruh menikah. gimana kok disangkutpautkan dengan orientasi dan penyakit. analogi yang ga aple to aple, karena hetero adalah fitrah manusia dan ada di Alquran, sementara LGBT adalah penyimpangan dan di Laknat oleh Allah SWT. saya berbicara sikap atau perilaku penyimpangan ya, bukan membenci orangnya.

        kalau mau statementnya sama, bandingkan yang statement salah dengan statement salah, bukan si bolak balik logika nya. misalnya perbandingan yang tepat adalah orientasi sex LGBT dibanding Orientasi sex Pedofili atau sex animal.

        ini kayak baca : mana yang lebih enak, terasi subang atau apel malang? aneh kan

        hati-hati karena perkataan mbak men-denial kan firman Allah SWT.

  5. Subhanallah..

    Ngeri mbak bacanya. baru tau ternyata mbak sedang minat di linguistik dan kajian gender. I know this root cause. as usual mereka yang minat di bidang itu selalu mengarah ke liberalism, Apapun tentang paham relatif tiap orang menjadi acuan dasar tanpa pandang aturan agama, salah satunya LGBT. Dunia (Barat) membolehkan LGBT, ikutlah liberalsm ini atas nama Hak asasi Manusia.

    Kalau saya sih simple, ilmu pengetahuan itu berubah-berkembang dan akan kembali ke Alqur’an (saya yakin) jadi ga usah ikut2an pendapat barat (capek dan mencapekan diri). Islam punya Kitab suci, jatohnya nanti kembali ke kebenaran Alqur’an. Saat ini ilmu di kuasai oleh barat, dari Media, Ilmuwanya, hingga kebijakanya. Mereka dengan mudah memasukan paham dengan tandatangan WHO, toh itu juga bikinan mereka, atau ga voting, yang banyak pendapat menjadi asas kebenaran, duuh. Mbok ya sebelum jadi the next aktifis pro LGBT, kembalilah kepada Alqur’an. sebelum terlambat. Sebelum pintu tobat tertutup.

    Kalau mbak dapat makanya (beasiswa) atau dunia dari jualan pemikiran seperti ini, ya terserah, tapi kalau ga ada uangnya. Tau itu dosa, duh miskin dunia akhirat lho mbak. Maap ya, mikir simple saja. Wallahualam

    Sodara seiman
    Yansen-Muallaf

      • Beasiswa ? kalau benar beasiswa ya terserah mbak nya. it means semua mudah bagi generasi muda untuk di guyur pemahaman barat dengan memberikan previlege gelar dengan sekolah di luar, karena dipandang setelah pulang, mereka dianggap “masyarakat” sebagai paham pembaharu. Big no.

        saya ingin memberikan saran buat mu mbak dan buat kawan-kawan yang membela LGBT ini atau the next liberalism ini.hentikan, karena perbuatan ini terlaknat, Kuatkan imanmu dengan banyak ikut kajian, dari sanad yang jelas bukan dari belajar sendiri, membaca buku karangan barat. sanad yang jelas adalah para sholihin, alim ulama kita, hadir di majelisnya karena pintu-pintu ilmu dan taufiq(takut kepada Allah SWT) hadir dari sana.

        cara penyembuhan kaum LGBT ini bukan dengan membiarkan ruang gerak atas nama hak asasi manusia, tapi mengisolasi supaya tidak menyebar, memberikan pemahaman bahwa perilakunya salah. sekali lagi bukan untuk membenci orangnya namun perilaku penyimpangan inilah yang perlu di luruskan.

        Wallahualam

        Sodara seiman
        Yansen-Muallaf

  6. Aduh mbak e anda lantang eh salah lancang sekali hanya sekedar untuk
    ngoceh. (((“Lalu, berdebat dengan ilmuwan-ilmuwan yang kalian anggap
    kafir itu, yang sudah bareng-bareng ketok palu bahwa LGBT bukan
    penyakit.”)))

    mau nanya dong, anda mulai mengetahui ini sejak
    kapan? ataukah baru-baru beberapa bulan yang lalu? melalui wikipediakah?
    okeoke, mungkin pernyataan resmi dari WHO ini bisa dipegang erat atau
    pernyataan resmi WHO ini sangat bisa menjadi acuan utama, karena
    organisasi ini adalah bentukan PBB yang sangat diketahui dengan jelas
    sebagai badan politik dunia. jadi manusia yang berada di bumi ini
    seharusnya manut. hihi yayaa.

    Sebelum pernyataan resmi WHO ini
    keluar seperti yang anda tulis pada tahun 1990. jauh sebelum itu,
    ratusan atau mungkin ribuan tahun sebelumnya perilaku lgbt sendiri
    dianggap menyimpang atau bisa dibilang hina. dan penghinaan itu dari
    orang kafir sendiri, negeri barat sana. “menggelitik sekali saya untuk
    menggunakan kata kafir” bukan begitu mbak e? nah dulu negeri barat bisa
    bersikap sekeras itu terhadap lgbt. Lalu apakah anda bisa membayangkan
    bagaimana dengan reaksi negeri timur ini yang sangat dikenal kental
    dengan adat dan kebudayaannya. Di era sekarang, dimna sebuah kebenaran
    yang hukumnya sangat relatif ini. Kebanggaan apa coba yang bisa
    dibanggakan oleh sebuah generasi terhadap bangsanya selain mengenal adat
    dan budaya leluhurnya. dimana adat dan kebudayaan itu sendiri mulai
    tergerus oleh perkembangan era informatika.

    orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun hidup tanpa memanfaatkan akalnya “Goethe”

    eh mau nanya dong, lu pernah nonton film “Philadelphia” belum? kalau sudah
    menurut lu piye? bagi gw film yang dibuat tahun 1993 ini sangat bagus
    sekali, film ini mencoba membicarakan kesetaraan kita sebagai manusia
    yang seharusnya bersikap memanusiakan manusia tanpa melihat warna status
    sosial manusia itu. kemasannya sangat apik begitu juga dengan para
    pemainnya. melalui film ini juga Tom Hanks yang berperan sebagai andrew
    Becket seorang pengacara senior dan juga homoseksual yang menderita
    HIV/AIDS. untuk pertama kalinya Tom Hanks dianugrahi piala oscar berkat
    pendalaman karakternya sebagai aktor sangat total.

    hei.. dulu,dulu bgt waktu pertama kali nonton film ini saya sama sekali tidak
    merasa jijik sama LGBT karena saya mencoba untuk mengenal jalanya pola
    pikir negeri barat sana yang telah memperlajari apa itu logika bukannya
    mitos. hingga sekarang pun saya juga tidak merasa terganggu dengan
    penganut LGBT. lalu setelah dikaji film ini sendiri ada unsur politik
    yang diselipkan dimana yang saya ketahui film ini didanai oleh komunitas
    LGBT sendiri. yang mencoba menggiring opini mereka secara sugesti
    meminta hak untuk diperhatikan oleh masyarakat dunia. Begitu juga dengan
    PBB yang jelas menjadi badan politik dunia.

    lanjut bab baru ya, soalnya saya tertarik dengan pemilihan kata yang anda pilih pada
    artikel yang anda tulis ini. hehe sepertinya anda ini seorang aktivis suka ngoceh, bagus si.

    (((“Yes, LGBT memang menjijikkan, tapi cuma bagi kalian yang isi otaknya cuma
    urusan selangkangan. Salah besar kalau LGBT melulu diidentikkan dengan
    hubungan badan sesama jenis. Jangan bikin teori sendiri” )))
    lah mbak e saya cukup bingung dengan paragraf yang anda tulis ini, anda
    mengatakan jangan bikin teori sendiri lalu di paragraf berikutnya anda
    membuat sintesis sendiri dari teori orang selangkangan. duhh.. kalau
    kata anak zaman Z… auah gelapp..

    (((“Lalu, gimana dengan pesta seks para gay yang beberapa waktu lalu pernah ramai
    diberitakan? Halah, jangan tutup mata. Cewek-cowok yang pesta seks juga
    banyak, kok. Cuma nggak ketahuan aja.”))) di paragraf ini, komedi deh kamu.. ๐Ÿ˜‰

    (((“Kemudian,
    banyak orang tua yang sepertinya kelewat khawatir anak-anak mereka akan
    menjadi korban LGBT. Halo, Bukibuk, Pakbapak, tolong dipahami ya. Yang
    mesti kalian waspadai itu pedofil, bukan LGBT. Beda? Ya beda jauh lahโ€ฆ”)))
    kalau ini argumen anda dari paragraf ini sudah kelewatan, menurut saya
    seperti sangat melecehkan sekali. anda yang mengaku minat pada ilmu
    linguistik lalu yang lebih korsa lagi kajian gender tapi sepertinya anda
    lupa dengan esensi dari dua ilmu tersebut. diparagraf ini anda sendiri
    merasakan kegelisahan orang tua yang khawatir terhadap anaknya akan jadi
    korban LGBT atau bisa dibilang terpengaruh dengan LGBT.

    WTF! emang lu udah pernah jadi orang tua? klo lihat usia lu sepertinya belum,
    jadi jangan sembarang bicara soal kekhawatiran orang tuanya kepada
    anaknya. emang lu tau apa soal harapan orang tua kepada anakanaknya.
    rasa sakit anaknya pasti dirasakan langsung oleh orang tua dan itu bisa
    dibilang pasti. lu sendiri menulis artikel ini berpikir secara
    demografinya seperti apa? kalau artikel tulisan ini tertuju kepada
    Bukibuk Pakbapak yang berada di negeri timur ini, tolonglah maafkan
    mereka yaaa karena mereka mungkin masih banyak yang awam terhadap apa
    itu pengaruh kebebasan dari negeri barat sana. mungkin wawasan mereka
    tidak seterbuka engkau! ilmu logika aja di negeri timur ini baru mulai
    dipelajari
    yg seblumnya lebih ke ilmu mitos dan mistis. dan yang hebatnya lu
    menggiring opini dengan mencari kambing yang bisa dihitamkan klo sepuluh
    tahun kemudian
    WHO menyatakan pedofil itu bukan penyakit bagaimana mbak aktivis ngoceh?
    lu kira apa bedanya dengan pedofil, toh sama sama dengan nafsu, hasrat,
    kelamin dan kenikmatan. samasama jalang!

    lu
    tau perasaan kecewa orang tua ketika mengetahui anaknya pindah agama,
    apalagi dari katolik ortodoks. Seperti itulah kekhawatiran orang tua di
    negeri timur ini
    terhadap anaknya dari LGBT.

    “kesalahan
    orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh dan kesalahan
    orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang pandai” -PAT

    next bab berikutnya yaa,

    (((“Hubungan antara pelaku LGBT tidak bisa disebut sebagai kejahatan, karena sudah
    dilandasi consent alias persetujuan kedua pihak. Sama halnya waktu
    kalian jadian sama pacar. Sama-sama mau, kan? Soal mau lanjut ke kasur atau tidak, itu
    urusan kalian berdua. Wong, sudah sama-sama dewasa.”)))

    nah cukup lucu si membayangkan paragraf ini, tapi sama lawan jenis
    tentunya.. berarti kalau sukasamasuka diperbolehkan dong untuk
    bercinta. seperti kata orang prancis yang kebingungan kenapa hubungan
    sex atau bercinta itu bisa ilegal klo blum kawin. karena menurut mereka,

    bercinta itu ialah sebuah kenikmatan manusia yang tiada taraaa.
    melebihi nikmat narkoba manapun.. hmm sepertinya saya setuju. lu? #dor

    (((“Mereka yang membela juga bukan berarti dirinya LGBT. Ini murni soal rasa
    kemanusiaan. Sama seperti hetero, LGBT juga punya hak hidup dan daulat
    sebagai warga negara yang sepenuhnya dilindungi hukum dan HAM.”)))

    saya paham gejolak korsa dari pola pikir tulisan ini, tapi lu harus paham
    berada di negeri mana.. ini negeri sangat kompleks dan rumit lalu juga
    naif karena tidak menyadari bahwa logika itu bertentangan dengan mitos.
    yaa itulah kita negeri yang selalu bangga dengan pencapaian para leluhur
    pendiri bangsanya untuk negara ini.. negeri timur ini masih merasa
    negeri yang beradab dan meski pun adab itu tidak sepenuh berfungsi
    dengan realita yang terjadi sekarang, tapi kita cukup mengetahui esensi
    dari kata adab itu adalah benteng terakhir untuk mempertahan warisan
    dari para leluhur yang akan diteruskan oleh generasi berikut. dan itu
    akan diperjuangkan sampai titik akhir bagi yang masih merasa memiliki
    ikatan batin dengan adat dan budaya bangsanya. karena kebudayaan sebuah
    bangsa tak ternilai harganya. itulah eksostisnya sebuah tradisi dan
    malunya diri apabilah hal itu musnah.

    dan
    bagi saya, saya tidak peduli dan tidak terganggu dengan adanya LGBT ya
    terserah mereka mau ngapain asal mengikuti norma yang berlaku di
    masyarakat setempat dan tau etika yaa terserah lu jalanin hidup.. kita
    tidak berbicara moral ya! tapi sekarang LGBT spertinya di negara ini
    lupa diri sehingga berani memintak hak mereka untuk sah di
    mata Negara. tidak mungkin negara bisa dengan lantang mengakui LGBT dan
    menciptakan tradisi baru. hak itu sulit tapi bukan gak bisa. mungkin
    bisa terwujud di 3 atau 4 genarasi yang akan datang. setelah adat dan
    kebudayaan menjadi hal paling sering direvisi, hingga beberapa kebudayaan dari
    ribuan suku di Negara perlahan-lahan mulai musnah. coba deh lu lihat dari
    berbagai sudut pandang, kenapa di negara yang sangat besar ini yang di
    huni ratusan juta manusia dengan ribuan suku bangsa lalu menganut
    kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. kenapa negeri ini sulit menerima apa
    itu perilaku penyimpangan LGBT.

    (((“Kecuali,
    kalau anda masih enggan sedikit berempati dan terus-terusan menyerukan
    kebencian sampai mati.”))) ini bukan hanya pandai merangkai kata
    kebencian sampai mati atau mungkin kesumat yaa.. tapi bagaimana
    mempertahankan marwah dari
    tradisi leluhur dan Tuhan.

    saya
    paling benci untuk berempati, karena itu sama saja menghina mereka
    karena mereka merasa pantas untuh dikasihani. apalagi dalam hal ini
    banyak yang harus lebih kita perhatikan dari pada ngurusi masalah sex lu
    lu pade. mending mbak
    aktivis ini coba cek ke depan rumah dekat lampu merah, apakah masih ada
    si Budi kecil yang masih berkelahi dengan waktu?

    “note”

    hatihati dengan ilmu karena bisa memberi pandangan baru yang membuat kita
    sebagai manusia merasa lebih congkak. atau lebih tepatnya jangan hanya
    mempelajari satu ilmu saja tapi juga sejarahnya berkebudayaan manusia di
    bumi ini. terkhusus di negeri timur ini.

    semua wawasan yang didapat lebih baik di saring.

    sekian dan terimakasih.

  7. Aduh mbak e anda lantang eh salah lancang sekali hanya sekedar untuk ngoceh. (((“Lalu, berdebat dengan ilmuwan-ilmuwan yang kalian anggap kafir itu, yang sudah bareng-bareng ketok palu bahwa LGBT bukan penyakit.”)))

    mau nanya dong, anda mulai mengetahui ini sejak kapan? ataukah baru-baru beberapa bulan yang lalu? melalui wikipediakah? okeoke, mungkin pernyataan resmi dari WHO ini bisa dipegang erat atau pernyataan resmi WHO ini sangat bisa menjadi acuan utama, karena organisasi ini adalah bentukan PBB yang sangat diketahui dengan jelas
    sebagai badan politik dunia. jadi manusia yang berada di bumi ini seharusnya manut. hihi yayaa.

    Sebelum pernyataan resmi WHO ini keluar seperti yang anda tulis pada tahun 1990. jauh sebelum itu, ratusan atau mungkin ribuan tahun sebelumnya perilaku lgbt sendiri dianggap menyimpang atau bisa dibilang hina. dan penghinaan itu dari orang kafir sendiri, negeri barat sana. “menggelitik sekali saya untuk menggunakan kata kafir” bukan begitu mbak e? nah dulu negeri barat bisa bersikap sekeras itu terhadap lgbt. Lalu apakah anda bisa membayangkan bagaimana dengan reaksi negeri timur ini yang sangat dikenal kental dengan adat dan kebudayaannya. Di era sekarang, dimna sebuah kebenaran yang hukumnya sangat relatif ini. Kebanggaan apa coba yang bisa dibanggakan oleh sebuah generasi terhadap bangsanya selain mengenal adat dan budaya leluhurnya. dimana adat dan kebudayaan itu sendiri mulai tergerus oleh perkembangan era informatika.

    orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun hidup tanpa memanfaatkan akalnya “Goethe”

    eh mau nanya dong, lu pernah nonton film “Philadelphia” belum? kalau sudah menurut lu piye? bagi gw film yang dibuat tahun 1993 ini sangat bagus sekali, film ini mencoba membicarakan kesetaraan kita sebagai manusia yang seharusnya bersikap memanusiakan manusia tanpa melihat warna status sosial manusia itu. kemasannya sangat apik begitu juga dengan para pemainnya. melalui film ini juga Tom Hanks yang berperan sebagai andrew Becket seorang pengacara senior dan juga homoseksual yang menderita HIV/AIDS. untuk pertama kalinya Tom Hanks dianugrahi piala oscar berkat
    pendalaman karakternya sebagai aktor sangat total.

    hei.. dulu,dulu bgt waktu pertama kali nonton film ini saya sama sekali tidak merasa jijik sama LGBT karena saya mencoba untuk mengenal jalanya pola pikir negeri barat sana yang telah memperlajari apa itu logika bukannya mitos. hingga sekarang pun saya juga tidak merasa terganggu dengan penganut LGBT. lalu setelah dikaji film ini sendiri ada unsur politik yang diselipkan dimana yang saya ketahui film ini didanai oleh komunitas LGBT sendiri. yang mencoba menggiring opini mereka secara sugesti meminta hak untuk diperhatikan oleh masyarakat dunia. Begitu juga dengan PBB yang jelas menjadi badan politik dunia.

    lanjut bab baru ya, soalnya saya tertarik dengan pemilihan katakata yang anda pilih pada. hehe sepertinya anda ini seorang aktivis suka ngoceh, bagus si.

    (((“Yes, LGBT memang menjijikkan, tapi cuma bagi kalian yang isi otaknya cuma urusan selangkangan. Salah besar kalau LGBT melulu diidentikkan dengan hubungan badan sesama jenis. Jangan bikin teori sendiri” ))) lah mbak e saya cukup bingung dengan paragraf yang anda tulis ini, anda mengatakan jangan bikin teori sendiri lalu di paragraf berikutnya anda membuat sintesis sendiri dari teori orang selangkangan. duhh.. kalau
    kata anak zaman Z… auah gelapp..

    (((“Lalu, gimana dengan pesta seks para gay yang beberapa waktu lalu pernah ramai
    diberitakan? Halah, jangan tutup mata. Cewek-cowok yang pesta seks juga banyak, kok. Cuma nggak ketahuan aja.”))) di paragraf ini, komedi deh kamu.. ๐Ÿ˜‰

    (((“Kemudian, banyak orang tua yang sepertinya kelewat khawatir anak-anak mereka akan menjadi korban LGBT. Halo, Bukibuk, Pakbapak, tolong dipahami ya. Yang mesti kalian waspadai itu pedofil, bukan LGBT. Beda? Ya beda jauh lahโ€ฆ”))) kalau ini argumen anda dari paragraf ini sudah kelewatan, menurut saya seperti sangat melecehkan sekali. anda yang mengaku minat pada ilmu linguistik lalu yang lebih korsa lagi kajian gender tapi sepertinya anda lupa dengan esensi dari dua ilmu tersebut. diparagraf ini anda sendiri merasakan kegelisahan orang tua yang khawatir terhadap anaknya akan jadi korban LGBT atau bisa dibilang terpengaruh dengan LGBT.

    WTF! emang lu udah pernah jadi orang tua? klo lihat usia lu sepertinya belum, jadi jangan sembarang bicara soal kekhawatiran orang tuanya kepada anaknya. emang lu tau apa soal harapan orang tua kepada anakanaknya. rasa sakit anaknya pasti dirasakan langsung oleh orang tua dan itu bisa dibilang pasti. lu sendiri menulis artikel ini berpikir secara demografinya seperti apa? kalau artikel tulisan ini tertuju kepada Bukibuk Pakbapak yang berada di negeri timur ini, tolonglah maafkan mereka yaaa karena mereka mungkin masih banyak yang awam terhadap apa itu pengaruh kebebasan dari negeri barat sana. mungkin wawasan mereka tidak seterbuka engkau! ilmu logika aja di negeri timur ini baru mulai dipelajari yg seblumnya lebih ke pemahaman mitos dan mistis. dan yang hebatnya lu menggiring opini dengan mencari kambing yang bisa dihitamkan klo sepuluh tahun kemudian WHO menyatakan pedofil itu bukan penyakit bagaimana mbak aktivis. lu kira apa bedanya dengan pedofil, toh sama sama dengan nafsu, hasrat, kelamin dan kenikmatan. samasama jalang!

    lu tau perasaan kecewa orang tua ketika mengetahui anaknya pindah agama, apalagi dari katolik ortodoks. Seperti itulah rasa kekhawatiran orang tua di negeri timur ini terhadap anaknya dari pengaruh LGBT.

    “kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh dan kesalahan
    orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang pandai” -PAT

    next bab berikutnya yaa,

    (((“Hubungan antara pelaku LGBT tidak bisa disebut sebagai kejahatan, karena sudah
    dilandasi consent alias persetujuan kedua pihak. Sama halnya waktu kalian jadian sama pacar. Sama-sama mau, kan? Soal mau lanjut ke kasur atau tidak, itu urusan kalian berdua. Wong, sudah sama-sama dewasa.”)))
    nah cukup lucu si membayangkan paragraf ini, tapi sama lawan jenis tentunya.. berarti kalau sukasamasuka diperbolehkan dong untuk bercinta. seperti kata orang prancis yang kebingungan kenapa hubungan sex itu ilegal klo blum kawin resmi. karena menurut mereka, bercinta itu ialah sebuah kenikmatan manusia yang tiada taraaa. rasanya mungkin melebihi nikmatnya narkoba.. hmm sepertinya saya setuju. lu? #dor

    (((“Mereka yang membela juga bukan berarti dirinya LGBT. Ini murni soal rasa kemanusiaan. Sama seperti hetero, LGBT juga punya hak hidup dan daulat sebagai warga negara yang sepenuhnya dilindungi hukum dan HAM.”)))
    saya paham gejolak korsa dari pola pikir tulisan ini, tapi lu harus paham berada di negeri mana.. ini negeri sangat kompleks dan rumit lalu juga naif karena tidak menyadari bahwa logika itu bertentangan dengan mitos. yaa itulah kita negeri yang selalu bangga dengan pencapaian para leluhur pendiri bangsanya untuk negara ini.. negeri timur ini masih merasa negeri yang beradab dan meski pun adab itu tidak sepenuh berfungsi dengan realita yang terjadi sekarang, tapi kita cukup mengetahui esensi dari kata adab itu adalah benteng terakhir untuk mempertahan warisan dari para leluhur yang akan diteruskan oleh generasi berikut. dan itu akan diperjuangkan sampai titik akhir bagi yang masih merasa memiliki ikatan batin dengan adat dan budaya bangsanya. karena kebudayaan sebuah bangsa tak ternilai harganya. itulah eksostisnya sebuah tradisi dan malunya diri apabilah hal itu musnah.

    dan bagi saya, saya tidak peduli dan tidak terganggu dengan adanya LGBT ya terserah mereka mau ngapain asal mengikuti norma yang berlaku di masyarakat setempat dan tau etika yaa terserah lu jalanin hidup.. kita tidak berbicara moral ya! tapi sekarang LGBT di negara ini sepertinya lupa diri sehingga berani memintak hak mereka untuk sah di
    mata Negara dan masyarakat. tidak mungkin negara bisa dengan lantang mengakui LGBT dan menciptakan tradisi baru. hak itu sulit tapi bukan gak bisa mungkin itu bisa terwujud dalam 3 atau 4 genarasi yang akan datang. setelah adat dan kebudayaan menjadi hal yang paling sering direvisi, hingga beberapa kebudayaan dari ribuan suku di Negara perlahan-lahan mulai musnah. ini sedih bgt.
    coba deh lu lihat dari berbagai sudut pandang, kenapa di negara yang sangat besar ini yang di huni ratusan juta manusia dengan ribuan suku bangsa lalu menganut
    kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. kenapa negeri ini sulit menerima apa itu perilaku penyimpangan LGBT.

    (((“Kecuali, kalau anda masih enggan sedikit berempati dan terus-terusan menyerukan
    kebencian sampai mati.”)))

    ini bukan hanya pandai merangkai kata kebencian sampai mati atau mungkin kesumat yaa.. tapi bagaimana kita mempertahankan marwah dari tradisi leluhur dan juga Tuhan.

    saya paling benci untuk berempati, karena itu sama saja menghina mereka karena mereka merasa pantas untuh dikasihani. apalagi dalam hal ini banyak yang harus lebih kita perhatikan dari pada ngurusi masalah sex lulu pade. mending mbak aktivis ngoceh ini, coba cek ke depan rumah dekat lampu merah, apakah masih ada si Budi kecil yang masih berkelahi dengan waktu?

    “note”
    hatihati dengan ilmu karena bisa memberi pandangan baru yang membuat kita sebagai manusia merasa lebih congkak. atau lebih tepatnya jangan hanya mempelajari satu ilmu saja tapi juga sejarahnya berkebudayaan manusia di bumi ini. terkhusus di negeri timur ini.

    Pandai itu harusnya lebih bijak. bagaimana kepandaian itu mampu menjaga dan melihai nilai kearifan dari tradisi luhur yang sudah dianut oleh masyarakat. tanpa mengatakan mereka itu bobrok “karena setelah yang saya pelajari dan yang saya baca dari buku, kearifan budaya yang mereka lakukan selama ini ternyata salah termasuk orang tua saya sendiri yang terlalu kolot.” ini terlalu kasar untuk kita terapkan sebagai manusia yang peka dengan ilmu pengetahuan. pandangan siapa salah dan benar kini tidak relevan karena itu hukumnya relatif, yang ada hanya pengiringan sebuah opini tanpa melihat baik dan buruk yang dampaknya langsung dirasakan oleh manusia. tidak ada yang hakiki!

    panjang ya komennya, ini kalau zaman dulu sperti bermain kritik esay. sebenarnya malas bgt ngomentari hal yang tidak penting ini. tapi karena situ terlalu korsa untuk ngoceh dan lalu merasa oke tanpa mencoba tapak tilas mengenai apa itu marwah dari sebuah tradisi berkebudayaan dalam berbangsa. tidak semua hak mampu terpenuhi, semua merasa punya hak yang ingin didahulukan karena kita manusia yang bebas. tapi kita punya norma dan etika. yang paling jelas kewajiban yang ingin kita bagi ke khalayak ramai.

    ingat mbak e budaya timur dan barat jelas berbeda, cara mereka berpikir terbuka memang menarik untuk dikaji tapi tidak semua atau mungkin belum bisa untuk diterapkan, lebih elok ditelaah dulu. sosial di dunia ini dikendalikan oleh politik dan keinginan kapital. monggo baca buku Noam Chomsky.

    sekian dan terimakasih.

  8. Jngan selalu berpatokan dg ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan tdk selalu sejalan dg akal(akal yg normal:Adam dg Hawa)Bacalah artikel Sam Brodie mantan LGBT,dia bertobat dari homoseksual

  9. Ini jadi teringat ceramahnya Kyai Haji Zainuddin MZ Alm : “Yang mabok elu, yang judi elu, yang zina elu, tapi mabok judi dan zina itu maksiat. Kalau ini negeri kebanyakan maksiatnya, Allah marah. Turunlah bencana alam. Yang kena dampak bukan elu doang MONYONG!”

    Dasarnya? Al anfal ayat 25 ;

    “Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

    Saya setuju dengan pemikiran beliau. Karena kenapa?

    Pertama karena sesama muslim itu harus saling mengingatkan. Jika kita acuh tak acuh, ya sama saja dengan membiarkan. Betul?

    Kedua karena sudah jelas bahwa Ibnu Qudamah rahimahullah berkata : โ€œUlama bersepakat atas keharaman sodomi (liwath). Allah Taโ€™ala telah mencelanya dalam Kitab-Nya dan mencela pelakunya, demikian pula Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, beliau mencelanyaโ€

    Selain itu juga dalam Alquran disebutkan :

    Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: โ€œMengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?โ€ [Al-Aโ€™raaf: 80].

    Dalam ayat yang agung ini, Allah Taโ€™ala menyebutkan bahwa perbuatan sodomi antar sesama pria, yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth โ€˜alaihis salam, merupakan perbuatan fahisyah.

    Sedangkan fahisyah adalah suatu perbuatan yang sangat hina dan mencakup berbagai macam kehinaan serta kerendahan.

    Ah semoga kita semua diberikan hidayah, wasilah Nya. Dan juga semoga Allah menurunkan pertolongan dan hidayahNya kepada mereka dan kita semua, Amiinn

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.