Ilustrasi Flu (Image by Gerd Altmann from Pixabay)

Dokter zong yi dia udh kena virus selama 8 hari. Jadi, bawang putih dikupas kulitnya, trs bawang putih ny di rebus selama 3 menit (Airnya 7 gelas). Yang kena virusnya sekali minum 2 kali. Pas hari kedua udh agak mendingan sakitnya, serta keluarkan dahak hitam dan sudah tidak demam lg. Pas bsk harinya sudah kembali normal (sudah sembuh).”

Ada yang dapat forward soal bawang putih itu dalam heboh infeksi Virus Corona di grup WhatsApp? Saya yakin banyak. Semakin menggemaskan ketika pesan itu ditanggapi serius oleh member lain di grup WA.

Ya, sedemikian mudahnya kabar-kabur beredar di grup WA. Sesuatu yang tampaknya tidak terpikir oleh Jan Koum dan Brian Acton ketika mengembangkan aplikasi tersebut.

Faktanya, selain politik, kabar-kabur tentang kesehatan merupakan konten yang paling renyah untuk disebarkan dari grup ke grup. Bahkan, hoaks kesehatan memiliki ‘keunggulan’ karena masa edarnya bisa sangat panjang dibanding hoaks politik atau bahkan agama yang sangat kontekstual alias bergantung pada momen.

Konten provokatif tentang Jokowi dan Prabowo, misalnya, begitu seksi kalau disebarkan 1-2 tahun silam. Kalau disebar sekarang, ya langsung ketahuan tidak benar atau ketinggalan zaman. Wong, Pak Prabs sudah jadi menterinya Pak Jokowi.

Baca juga: Bagaimana Mendeteksi Berita Bohong: Panduan Ahli untuk Anak Muda

Sedangkan konten absurd tentang obat-obatan yang berbahaya, campuran daun-daunan yang berkhasiat, penanganan penyakit jantung, hingga telur palsu nggak kenal momen. Informasi semacam ini akan selalu menjadi hal baru bagi yang baru membacanya, meskipun isu yang disampaikan adalah kabar-kabur dari 5-10 tahun yang lalu.

Dalam kasus daftar obat-obatan yang ditarik, misalnya, saya selalu mendapat pertanyaan konfirmasi dari beberapa teman, setidaknya enam bulan sekali. Artinya, peredaran informasi palsu dari grup ke grup tidak berhenti, lalu sampai ke orang-orang yang kebetulan saya kenal dan kebetulan berkenan mencari tahu kebenarannya. Bisa hitung berapa banyak yang menyebar tanpa peduli kebenaran?

Dengan segala hormat, harus diakui bahwa rata-rata orang yang menyebarkannya adalah kalangan baby boomer ke atas. Akhir 2018, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut bahwa orang-orang yang asal forward itu berusia 45 tahun ke atas. Bagi kalangan ini, informasi yang dianggap baru harus diketahui orang lain, meski tanpa mengecek terlebih dahulu kebenaran maupun kebaruannya.

Baca juga: Ibu-ibu dalam Pusaran WhatsApp Group

Tanpa bermaksud memukul rata, tapi begitulah datanya. Walau demikian, masih cukup banyak kalangan baby boomer yang proaktif melakukan pengecekan. Pada saat yang sama, tidak sedikit pula generasi Y (milenial) dan Z yang juga asal forward.

Persoalannya adalah ketika penyebaran informasi nggak karu-karuan di grup WA terjadi pada grup dengan rentang usia anggota yang begitu jauh, seperti grup WA lingkungan RT, kantor, dan keluarga besar. Bagi sebagian anggota, keikutsertaannya dalam grup semacam ini tidak lebih dari kewajiban sebagai anggota suatu kumpulan dan bukan sepenuhnya karena minat.

Hal ini tentu agak berbeda dengan grup WA pertemanan. Riset sederhana yang saya lakukan dengan 100-an responden menyimpulkan bahwa seseorang akan cenderung lebih aktif di grup WA, jika terdapat interest yang sama.

Pada grup WA dengan rentang usia yang jauh, orang-orang yang lebih tua cenderung lebih dihormati dan lebih sering meneruskan pesan-pesan dari grup lain. Harapannya, anggota grup lain, baik yang setara maupun lebih muda, bisa mendapatkan informasi tersebut. Hal ini yang kemudian meningkatkan bobot peran generasi baby boomer dalam penyebaran informasi di grup WA.

Baca juga: Nggak Langsung Balas Chatting, Kasar Nggak sih?

Nah, ketika informasi yang diteruskan ternyata hoaks, kedaluwarsa, atau setidaknya belum ada bukti ilmiah, maka menjadi sebuah dilema bagi golongan muda. Mau langsung disanggah secara frontal? Nanti dibilang nggak sopan. Mau dibiarkan? Kok ya merasa ikut mendukung penyebaran informasi yang salah. Mau keluar dari grup? Nggak enak sama yang lain.

Terutama soal hoaks kesehatan. Apabila ada orang-orang dengan latar belakang kesehatan di sebuah grup besar, sebenarnya bukan hal sulit untuk menambahkan pertanyaan “benarkah ini?” setelah meneruskan pesan. Setidaknya itu akan memicu orang-orang yang lebih tahu untuk memberi sanggahan atau dukungan tanpa rasa segan karena toh memang ditanya.

Atau kalau tidak, sebagaimana sering dilakukan oleh ibu mertua saya, begitu mendapat informasi baru tentang kesehatan, maka pesan diteruskan secara japri untuk kemudian bisa saya konfirmasi kebenarannya. Kalau kebetulan tidak tahu, ya tinggal dicari tahu dengan kemudahan yang disediakan Mbah Google.

Saya yakin tidak semua golongan tua berkenan dituduh sebagai penyebar informasi bohong. Nyatanya, ketika ada yang iseng mengkonfrontasi, selalu ada jawaban klasik yang malah terkesan menyalahkan si penyanggah. Semisal, “Ya, kan saya hanya nge-share.”

Artikel populer: Seandainya Dilan, Rangga, dan Fahri Berada dalam Satu Grup WhatsApp

Untuk itu, diperlukan peran golongan muda untuk memberantas penyebaran informasi yang tidak selalu benar, antara lain dengan menekankan kepada orangtua bahwa tidak semua informasi yang baru diterima adalah hal yang benar-benar baru dan wajib diketahui orang lain. Setidaknya, sebuah aliran informasi bisa berhenti di satu gawai. Itu sudah sangat membantu.

Dan, sebagai bonus untuk menghibur diri di tengah himpitan zaman sekaligus meningkatkan awareness pada jenis-jenis hoaks terbaru, tinggal forward saja setiap hoaks yang kita peroleh dari grup besar ke grup teman dekat dan jadikan bahan tertawaan! Pada titik inilah, kita dapat merasakan ‘indahnya’ berbagi hoaks di grup WA.

Tentunya, bisa dengan menyertai kalimat “sehat harus, bodoh jangan”, kalau ingin memplesetkan bukunya Muhidin M Dahlan berjudul Nakal Harus, Goblok Jangan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini