Lepas Jilbab Dirisak, Lepas Cadar Kita Bersorak

Lepas Jilbab Dirisak, Lepas Cadar Kita Bersorak

(Instagram/Rina Nose)

Sebelum teknologi digital, termasuk smartphone menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, aktivitas beragama cenderung menjadi urusan privat dibanding publik.

Hampir semua agama mengajarkan bahwa ritual keagamaan, baik secara vertikal antara manusia dan Tuhan maupun secara horizontal antara manusia dan manusia, hendaknya semata-mata untuk mendapatkan pahala dari Tuhan. Pamer kesalehan menjadi semacam ‘tabu’.

Namun kini, smartphone telah melahirkan kultur baru dimana perilaku beragama tidak lagi merupakan urusan pribadi manusia dengan Tuhannya, namun juga menjadi bagian dari aktivitas yang biasa dipajang di ruang display media sosial.

Apalagi dengan semakin maraknya penggunaan medsos, tiba-tiba banyak orang yang menjadi tampak lebih religius dari sebelumnya.

Untuk menjadi sosok yang religius pada jaman now, orang tidak perlu lagi mengeluarkan tenaga ekstra, waktu, dan biaya yang banyak untuk membeli buku-buku keagamaan. Tidak perlu membacanya hingga tuntas, apalagi mendiskusikan dan menyebarluaskannya dalam forum-forum pengajian.

Kita tidak perlu biaya ekstra untuk membeli baju dan berdandan rapi, untuk kemudian datang ke gereja mendengar khotbah yang materinya ditentukan oleh pendetanya. Kita tidak perlu menjadi ustadz atau pendeta untuk bisa menyampaikan ajaran agamanya masing-masing.

Cukup sering-sering browsing, unggah foto ketika sedang umroh/haji di Instagram, sering memasang display atau profile picture religius, menuliskan kutipan ayat-ayat kitab suci, atau broadcast religius via grup WhatsApp.

Intinya mengabarkan bahwa kita baru menghadiri pengajian, menulis status di media sosial usai salat tahajud dan salat dhuha. Dengan begitu, citra religius pun bisa diperoleh.

Praktik beragama kemudian mengalami smartphonisasi ketika karakteristik dan logika smartphone kemudian turut membentuk praktik beragama pada era digital ini.

Maka, setiap ada artis yang melepas jilbab, publik di belantara maya seketika langsung gempar dan heboh. Padahal dulu, sebelum era digital seperti sekarang, bisa jadi banyak figur publik yang ‘bongkar-pasang’ jilbab, namun tenang-tenang saja.

Lalu kenapa sekarang menjadi heboh? Sebab, pada era digital saat ini, apapun yang terjadi di ujung dunia, segera bisa diketahui oleh warga di ujung bumi lainnya. Maka, apapun yang terjadi, pasti akan memantik reaksi mereka yang berkepentingan.

Termasuk kabar artis Rina Nose yang memutuskan untuk menanggalkan jilbab. Jelas, ini membuat penduduk Indonesia yang muslim baik penganut mazhab bumi bulat maupun datar mendadak heboh.

Tapi bukankah mengenakan jilbab adalah sebuah kewajiban bagi perempuan muslim? Ketika kemudian dilepas, tentu wajar jika banyak pertanyaan yang timbul, ada apa di balik lepasnya jilbab tersebut?

Padahal seperti kebanyakan permasalahan lain yang selalu menimbulkan pro dan kontra, pemahaman jilbab juga demikian, ada yang sepakat ada yang tidak sepakat.

Penggunaan jilbab bagi perempuan ini tidak lantas berhenti pada satu kesepakatan. Khususnya tentang batas-batas yang diperbolehkan bagi kaum perempuan untuk memperlihatkan anggota tubuhnya.

Sebagian pakar menyatakan bahwa seluruh tubuh perempuan adalah aurat sehingga harus ditutup. Tak heran, jika bagi sebagian perempuan muslim ada yang mengenakan cadar (kain penutup wajah).

Sementara sebagai pakar lain menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukanlah aurat, sehingga diperbolehkan untuk diperlihatkan.

Tapi berbahagialah hidup di tengah masyarakat yang hipokrit. Perempuan yang melepas jilbab dirisak bahkan dihujat, tapi adem ayem bahkan bersorak ketika perempuan bercadar dipaksa melepas cadarnya.

Kita pun mengamini ketika seorang rektor universitas Islam mengultimatum dosen untuk melepas cadar atau berhenti mengajar. Kita juga bersyukur ketika siswi-siswi SMK di Tegal akhirnya melepas cadar, setelah diekspos habis-habisan.

Stigma itu memang keji. Hanya dengan mengenakan cadar, mereka distempel sebagai kelompok radikalis. Mereka langsung dicurigai terasosiasi dengan kelompok teroris. Padahal, sama-sama dalam kerangka batasan aurat.

Menutup aurat dengan jilbab atau cadar masih menjadi bahan perdebatan dan diskusi. Uniknya, sesuatu yang masih diperdebatkan itu justru dijadikan tolak ukur untuk menilai keimanan seseorang. Hebat bukan?

Kita kemudian dengan mudah menghakimi seseorang dan mengaku paling benar hanya bermodal terjemahan dan searching artikel di internet, bahkan membuat fatwa haram terhadap masalah kekinian.

Tak sedikit dari kita yang menelan mentah-mentah perintah tersebut. Lantas menatap sinis perempuan lain yang tidak berjilbab atau melepasnya.

Teknologi internet dengan hegemoni penggunaan media sosial telah memulai sebuah ‘revolusi’ baru: ‘revolusi pengetahuan’.

Otoritas pengetahuan seolah-olah runtuh dan tak memiliki pijakan. Semua orang bisa mengolah dan mengakses tanpa harus menggugat dan mempertanyakan kebenarannya.

Hal ini berlaku juga dalam beragama. Kecenderungan seperti ini sedang menjangkiti umat. Yang paling berbahaya ketika sudah mengaku paling hebat dan menganggap orang lain berada di bawahnya.

Sudahkah kita lupa bahwa beragama seharusnya membuat pemeluknya semakin santun dan penuh kasih, bukan saling menghakimi dan berebut benar? Aih… pesan moral.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.