Lelucon seputar Instagram
CEPIKA-CEPIKI

Lelucon seputar Instagram

Ilustrasi (Luke van Zyl via Unsplash)

Menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman umat Muslim, sepanjang pengamatan saya, tambah lama kok rasa-rasanya tambah berat. Godaannya, maksud saya.

Kita sudah razia warung-warung makan yang masih nekat buka siang-siang, eh malah temen-temen kita ngirimi gambar makanan plus es buah di dinding Facebook. Kita mau puasa media sosial, ndilalah Pak Beye kok bikin status yang meme-able. Mau nggak ikutan membagikan, nanti dikira kudet.

Pak Sandi rupa-rupanya juga tidak mau ketinggalan. Idenya untuk menggelar sholat tarawih di Monas langsung menuai kontroversi, meski akhirnya batal. Namun, ia sempat memberitahu salah satu alasan di balik rencana sholat tarawih itu, yang menurut saya, milenial banget: instagrammable.

Warganet yang kayaknya lupa kalau lagi puasa langsung nyamber seperti ibu-ibu berdaster yang nyamber semua omongan tukang sayur.

Tapi saya tidak akan membahas masalah hukumnya menyebarkan ibadah di media sosial, toh – sadar atau tidak – satu dua kali pasti kita pernah juga berdoa di dinding Facebook dan Twitter. Mau dikasih tahu kalau Tuhan nggak punya akun media sosial, nanti malah dijawab “Tuhan kan Mahatahu”. Lagipula, saya memang nggak paham soal begituan.

Yang menarik malah memperhatikan bagaimana media sosial mengubah kelakuan kita. Saya ingat di tahun 90-an ada pepatah yang bedebah banget: “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk sorga”.

Di era media sosial, digital, dan milenial kayak sekarang ini, pepatah itu kayaknya sudah ganti jadi: “Kecil dibikinin media sosial, muda viral, tua terkenal, mati jadi meme”.

Saya jadi ingat percakapan sepasang anak dan bapak di sebuah terminal waktu mau mudik Lebaran beberapa tahun yang lalu. Si bapak – sebagaimana kebiasaan bapak-bapak lain di seluruh dunia – menceritakan masa mudanya kepada si anak.

Si bapak sepertinya sedang memotivasi anaknya supaya rajin sekolah. Ceritanya panjang, mulai dari tidak punya buku, cuma berbekal sabak – semacam tablet minus memori internal – sampai sekolahnya yang berkilo-kilometer jauhnya, yang bahkan menempuhnya harus melewati dua lembah dan tiga hutan belantara.

Untuk menjadi genin – karakter ninja junior dalam serial Naruto – saja nggak gitu-gitu banget susahnya.

Saya ingat jawaban si anak. Santai sambil tetap mainan gawai, si anak berkata, “Bapak enak, lewat hutan gak ada apa-apanya. Lha, anak jaman sekarang, sekolahnya memang deket dan ada angkotnya, tapi sepanjang jalan dari rumah ke sekolah berjejer mal-mal, warnet, sampai rental PS, Pak…”

Puasa sepertinya kayak gitu juga. Jaman dulu, kita cuma harus bertarung dengan diri sendiri, lalu datanglah restoran impor yang tetap buka di bulan puasa, juga restoran di mal yang kata Mas Gilang justru dipenuhi oleh mereka yang nggak puasa (terus masalahnya di mana?), sampai media sosial dan ulah para pejabat negara yang berpotensi membuat puasa kita cuma dapat ‘haus dan lapar’ saja.

Pertanyaannya sekarang, kenapa Pak Sandi lebih memilih Instagram dibandingkan media sosial yang lain? Saya pikir karena sebagai media sosial yang berkutat dengan foto, praktis Instagram tidak punya saingan yang berarti. Foto bicara lebih banyak daripada status, mungkin itu juga berpengaruh.

Saya sekarang malah jadi mikir-mikir, seandainya tokoh-tokoh besar di masa lalu hidup di masa kini, menanggapi keunggulan Instagram dibandingkan Facebook atau Twitter, mungkin mereka juga akan punya pendapat yang berbeda.

Pak Pramoedya, misalnya, seandainya beliau mencapai masa kejayaannya di era sekarang, mungkin beliau akan bilang: “Orang boleh menulis status setinggi langit, tapi selama ia tidak bikin insta story, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Bermain Instagram adalah bekerja untuk keabadian.”

Dan, untuk media sosial lainnya, terutama Twitter yang didirikan oleh Jack Dorsey, Pak Pram mungkin akan memberikan pesan yang sendu: “Kita sudah melawan, Jack. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya…”

Atau, almarhum Gus Dur, yang kita kenal sangat pluralis, mungkin beliau juga akan punya pendapat sendiri: “Tidak penting apa pun akun Facebook atau Twittermu. Kalau kamu bisa membuat insta story yang keren di mata semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa akun Facebook atau Twittermu.”

Atau, Aidit yang sedotan rokoknya di film Pengkhianatan G30S/PKI begitu ikonik. Kalau beliau memimpin rapat rencana – menurut versi Pak Harto – pemberontakannya di hari-hari ini, besar kemungkinan kata-katanya yang kutip-able itu juga akan berubah bunyinya:

“Lihat Fadli Zon dan Fahri Hamzah, praktis mereka sudah menguasai jagat Twitter. Tapi karena mereka tidak menguasai Instagram, maka mereka gagal. Instagram adalah kunci!”

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.