Ilustrasi (Image by LhcCoutinho from Pixabay)

Sepak bola adalah olahraga paling populer di muka bumi, siapapun berhak memainkannya. Tak peduli suku, agama, atau jenis kelamin. Sebaliknya, jika setiap orang berhak menendang bola, maka orang-orang juga berhak tak memainkannya, tak mengerti tentangnya, bahkan membencinya.

Seorang kawan, sebut saja namanya Agung, baru-baru ini datang ke lapangan futsal dengan gaya yang tak biasa; alih-alih memakai sepatu, ia datang mengenakan sandal – tepatnya sandal gunung. Pakai topi koboi pula. Dengan outfit macam begitu, ia berlarian mengejar bola. Sepintas, ia seperti sedang cosplay menjadi Panji Petualang ketimbang pemain bola. Ini pertama kali ia bermain futsal selama hidupnya.

Beberapa hari sebelum itu, kami memang merencanakan fun futsal. Seorang teman lain bernama Jamian melontarkan pertanyaan kepada Agung, “Memangnya ngana bisa tendang bola?” Agung terdiam sejenak, lalu membalas, “Memang kenapa kalau tra (tidak) bisa? Ngana (kamu) nih anggap bola sebagai simbol maskulinitas.”

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Saat masih tinggal di Jakarta, saya juga pernah mendengar ucapan seorang kawan tentang sepak bola. Menurutnya, hanya orang-orang tolol yang memainkan sepak bola. Sebab, kata dia, 22 manusia mengejar satu buah bola merupakan tindakan yang sulit diterima nalar, lebih aneh lagi hal itu ditonton oleh jutaan manusia lainnya. “Suruh saja mereka beli bola masing-masing, kelar kan?” katanya.

Tentu saja, jika memakai ukuran rasionalitas, tak hanya sepak bola, setiap olahraga akan dirasa tak masuk akal. Saling memukul Kok dalam bulutangkis, menyodok bola di meja biliar, atau berebut bola untuk memasukkannya ke dalam keranjang bolong. Itu semua tak masuk akal.

Jorge Luis Borges, salah satu tokoh sastra besar abad 20, juga bersikap sama terhadap sepak bola. “Kebodohan membuat sepak bola menjadi olahraga populer,” kata Borges. Bahkan, menurutnya, sepak bola menjadi satu dari banyaknya kejahatan terbesar bangsa Inggris.

Tapi, apa yang membuat Borges membenci sepak bola berbeda dengan teman saya tadi. Bukan persoalan estetika, kebencian Borges lahir dari intrik politik yang menyeruak di Argentina kala Piala Dunia 1978. Saat itu, Argentina sedang dikuasai Jorge Rafael Videla Redondo, yang dua tahun sebelumnya mengkudeta Presiden Isabel Peron.

Baca juga: Sosialisme Adalah Kejutan Dalam Sepak Bola, tapi Kapitalisme Menikmatinya

Piala Dunia 1978 adalah alat bagi Videla untuk mencitrakan dirinya yang dikenal sebagai diktator, bahwa ia mampu memimpin negara di selatan Benua Amerika itu. Kebencian Borges kiranya bermula dari sana. Bahwa sepak bola, bagi Borges, identik dengan fanatisme yang kemudian bisa berkembang menjadi dogma.

Dalam KBBI, dogma berarti “pokok ajaran (tentang kepercayaan dan sebagainya) yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan.”

“…sebagai hal yang benar dan baik” itulah yang membuat Jamian melontarkan pertanyaan “memangnya ngana bisa tendang bola” kepada Agung. Dan, saya rasa bukan hanya si Jamian, ada banyak orang di luar sana yang pernah berkata semacam itu.

Sepak bola sering kali dianggap sebagai olahraga yang ‘laki banget’. Intensitas benturan fisik membuat ia seolah-olah menjadi lambang ilusi kejantanan. Ada stigma bahwa lelaki harus mampu menggiring dan menendang bola, bahkan beradu fisik di lapangan. Itu seakan-akan menjadi sesuatu yang “…tidak boleh dibantah dan diragukan”. Mereka yang mengingkarinya, bakal dicurigai kelelakiannya.

Baca juga: Mengapa Sekarang Makin Banyak Laki-laki yang Berdandan?

Tahun 2006 silam, FIFA membuat proyek pencatatan pesepakbola di seluruh dunia. Dengan tajuk “Big Count”, organisasi sepak bola dunia itu mendata jumlah pemain sepak bola di seluruh negara anggota. Indonesia berada di urutan ke-7 sebagai negara dengan pesepakbola terbanyak. Urutan pertamanya adalah Tiongkok.

Dari data tersebut, jumlah pemain sepak bola di Indonesia tercatat sebanyak 7.094.260 atau ‘hanya’ 2,89% dari total populasi. Meski demikian, pesepakbola yang terdaftar cuma 66.960 orang.

Sedangkan Jerman, negara dengan populasi lebih rendah ketimbang Indonesia, menempati urutan ke-4. Negara yang pernah terbelah karena perbedaan ideologi itu, secara persentase, boleh dibilang memiliki pesepakbola paling banyak jika diukur dengan jumlah penduduk, yakni mencapai 19,79%. Sebagai pembanding, persentase Tiongkok hanya 1,99%.

Sayangnya, dalam survei tersebut, jumlah pesepakbola perempuan yang dicatat FIFA adalah nol. Sederhananya, dari 7 juta pemain sepak bola di Indonesia itu, semuanya adalah laki-laki. Tentu saja, kita patut mencurigai metode penelitiannya. Namun, lagi-lagi ini masalah klasik. Mantan pelatih Timnas Perempuan Indonesia, Andre Picessa Pratama pernah mengeluh tentang tidak adanya database pemain sepak bola perempuan di Tanah Air.

Artikel populer: Sepak Bola Perempuan Melawan Stigma, Ayo Tendang, Jeung!

‘Keterasingan’ perempuan dalam sepak bola ini juga dapat dilihat pada ranah suporter. Kita tahu, ada dikotomi dalam komunitas suporter di Indonesia. Kelompok suporter perempuan biasanya ditempeli nama tersendiri. Sebut saja Bonita (Bonek Wanita), Jak Angel, atau Aremanita. Padahal, semestinya tak dibutuhkan terminologi khusus untuk menyebut suporter perempuan. Mereka, perempuan dan laki-laki, sama-sama berhak menyandang nama yang sama.

Kembali kepada persoalan lelaki yang tidak suka sepak bola. Sebagaimana olahraga lainnya yang mengutamakan gairah dan cinta, sepak bola semestinya bebas dari pemaksaan. Tak ada kewajiban untuk memainkannya. Toh, pemain sekelas Batistuta dan Vieri saja ternyata tak memiliki ketertarikan besar terhadap sepak bola. Mereka hanya bersikap profesional sebagai pekerja di industri sepak bola.

Jadi, tak ada yang berhak mencurigai kelelakian seseorang hanya karena ia tak suka sepak bola. Lagian, itu sepak bola atau fasisme?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini