Lelaki Memasak di Dapur Itu B Aja

Lelaki Memasak di Dapur Itu B Aja

Ilustrasi (Photo by Jason Briscoe on Unsplash)

Beberapa hari lalu saya sedang streaming lagu sobat ambyar ketika postingan teratas YouTube mendistraksi. Video iklan kecap terkenal dengan header merah menyala bertuliskan “Mendukung Kesetaraan di Dapur, di Hari Kesetaraan Perempuan 26 Agustus 2019” seketika mengalihkan “Cidro”.

Sebelumnya, link iklan itu sudah muncul di WAG yang mayoritas isinya adalah calon ulama jomblo muda harapan umat. Si pengirim link mencoba memancing diskusi dengan bertanya, “Apa nih komentarnya DI HARI KESETARAAN PEREMPUAN 26 AGUSTUS 2019?” (iyaa chat-nya memang capslock begitu).

Jujur, sebagai orang yang ngakunya meminati kajian (kesetaraan) gender, saya merasa kudet karena baru tahu ada hari semacam itu. Lebih merasa kecolongan karena kabar itu justru datang dari akhi penolak kesetaraan gender – tapi rajin nyimak perkembangannya. Meskipun diskusi di WAG berakhir nggak jelas, setelah melihat iklan yang dimaksud saya semakin merasa nggak jelas.

Iklan dimulai dengan pertanyaan retoris berdasar penelitian Hill Asean 2018 yang menunjukkan hanya 1 dari 3 suami yang mau membantu di dapur. Fenomena ini konon menimbulkan permasalahan rumah tangga karena tidak ada pembagian tugas.

Baca juga: Rumah Tangga Itu Seperti Main-main Saja

“Aku sudah jalankan tanggung jawab aku, sekarang kamu juga jalanin!” teriak istri. “Tanggung jawab aku kerja, kamu di dapur! Udah begitu kodratnya!” teriak suami.

Adegan berantem di dapur berganti dengan munculnya sosok suami versi taubat yang dengan lembut berkata, “Konflik seperti ini harus dihentikan. Lelaki harus bisa masak.”

Iklan diakhiri dengan masuknya anak lelaki mereka yang menginformasikan tentang peluncuran program koki muda sejati di sekolah-sekolah di Indonesia untuk mengajak remaja agar bisa masak. Lalu, suami versi taubat bergabung bersama anak dan istrinya dengan sepiring ayam kecap kemudian mereka makan bersama.

Saya tidak tahu siapa sebenarnya target pasar iklan ini, sebab lelaki mana yang mau nonton iklan kecap kemudian bertaubat karenanya? Terlebih sekalipun disebutkan hanya 1 dari 3 suami yang mau membantu di dapur, aktivitas lelaki di dapur sebenarnya bukan hal yang langka.

Dalam dunia masak-memasak profesional, daftar chef teratas diisi para lelaki. Di Indonesia misalnya, nama-nama seperti Juna Rorimpandey hingga Edwin Lau mendominasi media.

Baca juga: Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Di acara kompetisi masak pun komposisi peserta dan juara bisa dibilang seimbang secara gender. Misalnya, dari 4 musim acara pencarian bakat memasak di televisi, dua musim dimenangi laki-laki dan dua musim lainnya dimenangi perempuan. Termasuk, pada edisi pencarian bakat koki-koki cilik.

Bahkan, dalam beberapa penelitian yang pernah saya ikuti semasa kuliah dulu, lelaki di dapur terbukti bukan hanya hadir, melainkan mendominasi perempuan di ruang domestik. Bagi beberapa feminis, dominasi tersebut disebut-sebut sebagai bentuk baru kolonialisasi lelaki terhadap perempuan. Sebab, para koki itulah yang mendikte perempuan bagaimana memasak yang benar berdasar standar lelaki.

Dalam buku A Woman’s Place Is in the Kitchen: The Evolution of Women Chefs, Ann Cooper mencatat 45% pekerja industri kuliner adalah perempuan. Sedihnya, jumlah perempuan pemegang posisi teratas (chef) di industri itu tidak sampai 10%.

Konon, hal itu karena dunia memasak profesional berat secara fisik dan emosional. Para chef setidaknya harus menghabiskan waktu masak sambil berdiri hingga 16 jam per hari di ruangan yang suhunya bisa mencapai 110 derajat, mempersiapkan hidangan dengan komposisi plating yang sempurna sekaligus memastikan rasanya nikmat.

Baca juga: Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Kemampuan manajemen fisik dan emosi seperti itu, menurut para investor kuliner, sulit dimiliki perempuan sehingga ruang karir penguasa dapur justru dipenuhi laki-laki. Anehnya, mereka yang menganggap kemampuan chef lelaki keren seperti melupakan kemampuan perempuan yang sehari-hari melakukan kerja seperti itu, sekalipun tanpa apresiasi dan topi putih bergengsi.

Menurut mereka, memasak bagi perempuan adalah kodrat (tugas) domestik, sementara memasak bagi lelaki adalah manifestasi keahlian profesi.

Entah sejak kapan kegiatan memasak menjadi bias gender begitu. Padahal, dalam buku Sapiens: A Brief History of Humankind, Yuval Noah Harari mencatat bahwa memasak dalam sejarah manusia merupakan aktivitas yang gender-blind, bukan kodrat perempuan atau skill laki-laki.

Secara lebih epik, Richard Wrangham dalam bukunya, Catching Fire: How Cooking Made Us Human, bahkan menyebutkan bahwa aktivitas memasak lah yang membuat manusia berevolusi menjadi manusia. Menurut dia, memasak merupakan mode adaptasi manusia terhadap alam sebagaimana sapi beradaptasi terhadap rumput untuk bertahan hidup.

Meskipun tidak sepenuhnya sepakat pada teori-teori itu, saya mesti berterima kasih pada keduanya, karena akhirnya para lelaki mau menganggap memasak di dapur sebagai kegiatan yang juga sama kerennya dengan bekerja di kantor dalam ikhtiar manusia bertahan hidup.

Artikel populer: Yang Tidak Dipahami Banyak Orang Mengapa Perempuan Saling Bersaing

Meski begitu, rasanya sedih sekali karena aktivitas itu mesti dikampanyekan dalam rangka mencapai kesetaraan di dapur. Seolah-olah jika istri bisa bekerja di kantor, maka agar setara lelaki juga harus bisa memasak di dapur.

Iya sih, kesetaraan gender itu membebaskan. Tapi bagi calon pelaku rumah tangga sepertiku, keharmonisan gender rasanya lebih menyejukkan. Mungkin bagimu ini hanya soal istilah, tapi menurutku konsep setara-serba-sama seperti itu menjadikan hubungan begitu kaku dan transaksional. Sehingga, ketika lelaki bisa memasak dia digelari ‘Suami Sejati’ dan berkat pengorbanannya lah kesetaraan untuk perempuan bisa tercapai. Dalam konteks hubungan (percintaan) sejujurnya ini menyedihkan.

Baik laki-laki atau perempuan, ketika melakukan sesuatu untuk kebaikan hubungan, menurutku tidak perlu dianggap spesial sehingga harus dikampanyekan ala akademi suami sejati oleh produsen kecap. Sebab, dalam kamus rumah tangga, pembagian peran yang dilakukan adalah devote, bukan sacrifice. Mengabdi, bukan berkorban.

Kalau kata Sujiwo Tejo, cinta itu nggak butuh pengorbanan. Begitu kamu merasa berkorban, maka sesungguhnya kamu sudah nggak cinta. Kalau sudah nggak cinta jangankan berantem di dapur, berantem di kasur saja rasanya pasti menyebalkan. #ehgimana.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.