Ilustrasi laki-laki. (Photo by Gift Habeshaw on Unsplash)

Seorang teman lelaki baru saja menyambut kelahiran anaknya yang ketujuh. Ia kemudian mengatakan bahwa istrinya disarankan untuk disteril. Namun, ada dosen yang bilang, “Mengapa bukan lelakinya saja yang disteril sebagai bentuk hadiah?”

Belakangan, seorang Youtuber yang memiliki puluhan juta subscriber menyatakan bahwa ia ingin memiliki 13 anak. Secara tidak langsung, public figure ini menghilangkan agensi perempuan dalam menentukan pilihan atas kesehatan seksual dan reproduksi.

Tentu saja setiap orang berhak memiliki anak berapapun. Di beberapa kelompok masyarakat adat, banyak anak memang dibutuhkan untuk mengelola wilayah adat. Namun, sayangnya hingga hari ini kesadaran dan tanggung jawab akan kontrasepsi masih dibebankan kepada tubuh perempuan.

Baca juga: Yakin nih Suara Suami dari Tuhan? Kok Nggak Adil?

Hak atas kontrasepsi ini jarang sekali digaungkan. Jika ya, kampanyenya hanya tertuju pada perempuan yang sudah menikah. Kampanye perihal kontrasepsi sering kali ditujukan kepada perempuan miskin agar tidak memiliki anak. Seorang perempuan di Amerika bahkan membayar perempuan pengguna NAPZA agar tidak memiliki anak. Tanpa disadari, perempuan yang menjadi targetnya adalah perempuan kulit hitam yang miskin – jauh dari akses ekonomi dan rehabilitasi.

Memang aneh, pengetahuan tentang kontrasepsi dan aksesnya tidak dimiliki oleh banyak orang. Pendidikan mengenai kesehatan seksual dan reproduksi hanya terbatas pada kalangan tertentu. Dan, pengetahuan soal kontrasepsi tampaknya dijauhkan dari perempuan, terutama yang belum menikah.

Terlepas pilihan seseorang apakah dia akan melakukan hubungan seksual sebelum atau setelah menikah, pengetahuan tentang kontrasepsi adalah hak perempuan dan laki-laki. Justru, semakin seseorang memahami kontrasepsi, kehamilan tidak diinginkan (KTD) bisa dihindari.

Baca juga: Orang Berhak Punya Pasangan dan Anak, Sebagaimana Mereka yang Melajang dan Tak Ingin Punya Anak

Sebuah laporan dari Melissa S. Kearney dan Phillip B. Levine pada 2015 menyebutkan bahwa serial reality show bertajuk 16 and Pregnant dari MTV berhasil menurunkan angka kehamilan remaja di Amrik hingga 5,7% sejak acara itu tayang pertama kali.

Keingintahuan dan hasrat remaja untuk berhubungan seks akan selalu ada. Apalagi, internet sangat mudah dibanjiri dengan informasi yang salah tentang hubungan seksual, salah satunya video porno yang sangat tidak realistis serta mengeksploitasi perempuan.

Kita tak akan bisa menutupi fakta bahwa seks adalah hal alami bagi manusia. Cepat atau lambat, anak perempuan dan lelaki akan mengetahui kenyataan tersebut. Yang bisa dilakukan adalah meminimalkan risikonya.

Karena itu, jangan menjauhkan pengetahuan tentang kontrasepsi dari lelaki maupun perempuan. Selain itu, pentingnya pemberdayaan terhadap perempuan agar kelak ia bisa menentukan kontrasepsi yang tepat bagi dirinya. Dan, bekerjasama dengan pasangannya agar kontrasepsi ini tidak dibebankan kepada perempuan saja, tapi juga kepada lelaki.

Baca juga: Salahkah Perempuan Lajang ke Dokter Kandungan?

Hingga hari ini, pilihan kontrasepsi untuk lelaki masih terbatas pada kondom dan vasektomi. Pernah ada upaya untuk menciptakan kontrasepsi hormonal untuk lelaki. Namun, mengingat efek sampingnya, penelitian itu jadi terhambat.

Padahal, jika dibandingkan dengan kontrasepsi hormonal pada perempuan, efek sampingnya kurang lebih sama. Lantas, perempuan masih dipaksa untuk menerima fakta tersebut dan meneruskan penggunaan kontrasepsi hormonal.

Lihatlah, betapa bias ketersediaan kontrasepsi beserta ilmu pengetahuannya. Semua dibebankan kepada perempuan, bahkan perempuan harus menanggung efek samping dari kontrasepsi itu.

Di sinilah kontradiksinya. Satu sisi, perempuan dijauhkan dari pilihan dan pengetahuan akan kontrasepsi. Di sisi lain, ketika perempuan sudah tahu dan punya pilihan, ia yang dibebankan untuk memakai kontrasepsi itu sendiri.

Artikel populer: Saat Perempuan Dituntut Cantik dan Laki-laki Dituntut Kaya

Lantas, apa solusinya?

Butuh kerja sama, integrasi, dan kolaborasi jangka panjang untuk mengadakan pilihan kontrasepsi untuk semua. Perempuan dan lelaki harus tahu soal kontrasepsi dan memiliki agensi untuk berdaya dalam menentukan pilihan perihal kontrasepsi.

Dunia medis juga perlu menciptakan kontrasepsi yang aman dan saling menguntungkan bagi perempuan dan lelaki. Kita pun harus mulai menumbuhkan kesadaran akan pentingnya lelaki berkontrasepsi dengan memakai metode alami, kondom, pil, hingga vasektomi.

Dokter-dokter juga harus mendorong agar lelaki sebagai pasangan berperan aktif untuk melakukan kontrasepsi, bukan hanya menyarankan perempuan yang sudah capek-capek mengandung 7 hingga 13 anak! Justru, lelaki yang semestinya didorong untuk berkontrasepsi karena dalam satu waktu dia bisa menghamili banyak perempuan, sedangkan perempuan hanya bisa hamil sekali dalam sembilan bulan. Betul?

Mendorong ketersediaan pengetahuan dan akses akan kontrasepsi adalah tugas kita bersama. Termasuk, para public figure semacam Youtuber!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini