Lebih Penting Curhat dengan Netizen daripada Keluarga atau Teman Sendiri

Lebih Penting Curhat dengan Netizen daripada Keluarga atau Teman Sendiri

Ilustrasi via Pixabay

Ada banyak sekali pergeseran nilai dan budaya dalam dua dekade terakhir. Misalnya dalam dunia psikologi, terutama yang berhubungan dengan penanganan stres.

Jika kamu adalah mahasiswa psikologi awal 90-an yang sedang penelitian, pastilah memilih tema-tema populer, seperti menulis diary sebagai upaya penanganan stres atau pengaruh menulis diary terhadap kesehatan mental individu.

Namun, tentunya tema-tema tersebut sekarang sudah berubah, karena tak ada lagi orang yang curhat di buku harian. Perilaku masyarakat berubah sejak Facebook menggusur Friendster pada akhir 2007.

Media sosial tak lagi sekadar platform jejaring pertemanan. Media sosial berubah menjadi ‘teman’ itu sendiri.

Dulu, Friendster memudahkan kita mencari teman baru untuk berbagi ide dan perasaan. Tapi, kini, Facebook bersama Instagram, Twitter, dan platform sejenis berevolusi, bahkan seakan-akan menjadi bagian dalam diri kita. Manunggaling kawula Facebook, Instagram, dan Twitter.

“Hai, apa yang kamu pikirkan?”

“Hai, apa yang kamu lakukan hari ini?”

“Hai, mau ngomong apa hari ini?”

Ya begitulah, dalam interaksi sosial kekinian, sebagian orang tak terlalu butuh individu dengan keintiman tertentu di dunia nyata.

Haloo… Ini eranya Revolusi Industri 4.0. Industri yang menghasilkan ‘pabrik cerdas’. Sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual. Gitu kan?

Baca juga: Ketahui Beberapa Hal sebelum Kamu Melenguh, eh Mengeluh di Grup WA

Yang dibutuhkan sekarang cukup email untuk mendapatkan sahabat sejati. Eh, kuota internet juga deng. Bahkan, kamu-kamu yang fakir kuota tak perlu cemas, sebab ada platform yang versi hemat kuota. Duh, pengertian banget.

Lha, gimana nggak pengertian, coba? Media sosial tidak pernah mengeluh kalau kita curhat. Mereka menerima segala bentuk sampah emosi setiap detik.

Nah, karena begitu pentingnya media sosial, beberapa konten kreator memanfaatkan peluang ini. Belakangan, jasa curhat online marak sekali. Sebagian gratis, sebagian lagi berbayar.

Jadi, orang tinggal mengirim pesan anonim dan materi curhatnya ke admin. Lalu, admin akan mengkurasi materi curhat agar ‘layak tayang’ di feeds, timeline, maupun dinding media sosial.

Tentu, curhatan itu ada yang merespons. Kan masyarakat kita terkenal sebagai netizen yang budiman. Ada yang memberi solusi, ada pula yang malah caci maki. Namanya juga curhat terbuka, memang surat aja ada yang terbuka?

Baca juga: 3 Nasihat yang Tidak Perlu Didengar oleh Orangtua Milenial

Dari pengamatan saya sebagai konselor, para pencurhat ini rata-rata orang tua muda atau dewasa milenial dengan rentang usia 20-35 tahun. Materi curhatnya beragam. Kebanyakan terkait urusan domestik.

Namun, unsur dramanya tak kalah dari sinetron azab di TV. Dari persoalan ranjang, kehamilan, keuangan, utang, hingga KDRT dan perkosaan.

Terkadang kita akan menemukan jenis curahan hati sekompleks serial Game of Thrones dengan banyak tokoh dan babak. Semakin panjang ceritanya, semakin penasaran, eh?

Netizen pun berlomba-lomba menjadi konselor terbaik. Segala jenis solusi berusaha ditawarkan, dari yang paling logis hingga paling religius. Dari menyarankan pelaku curhat untuk rukiyah hingga menyarankan untuk curhat ke suaminya.

Yhaa… Kalau harus curhat ke suami, ngapain curhat ke netizen, Bambang…

Sementara, sejumlah akun penyedia jasa curhat online menggaet trafik dengan cepat, endorsement pun hadir di feeds setiap waktu. Pemilik akun tak perlu menempuh pendidikan profesional psikologi untuk mendapatkan penghasilan dari curhatan orang lain.

Lantas, mengapa curhat dengan netizen begitu nikmat? Tentu saja karena setiap orang butuh katarsis dan pelepasan stres. Itu adalah syarat mutlak menjaga kesehatan jiwa. Terlebih, curhat di media sosial dengan netizen menawarkan validitas eksternal.

Baca juga: Saran untuk Milenial yang Instagramnya Kurang Bergengsi

Contohnya begini. Dalam persoalan rumah tangga, sesungguhnya sang istri sebagai pelaku curhat online sudah tahu bahwa cepat atau lambat akan ngomong ke suaminya. Namun, yang dibutuhkan adalah dukungan dan validitas eksternal. Apakah ia berada di posisi yang benar atau salah?

Kalaupun nanti diskusi dengan suami gagal, sang istri tetap memiliki pembenaran sendiri. Lha, netizen aja bilang benar, netizen kan selalu benar. Hihi…

Selain itu, media sosial menawarkan respons cepat dan beragam. Bagaimana ajaibnya tawaran dari netizen mulai dari yang logis, religius, barbar, hingga tak masuk akal. Bahkan, psikolog pun kalah praktis dengan netizen. Iyalah, netizen mah bebas.

Sayangnya, netizen bukanlah pergerakan harga saham yang bisa dihitung potensi arahnya. Seringkali pencurhat berharap terlalu banyak. Mereka ingin semua mata tertuju padanya dan simpati akan mengalir deras.

Namun, seringkali bukan simpati yang diperoleh pencurhat, justru cemoohan. Dalam kasus yang lebih serius, curhat di media sosial malah berbuah perundungan yang menimbulkan masalah baru.

Artikel populer: Akibat Terlalu Sering Bilang “Maaf, Sekadar Mengingatkan”

Berbagai kalimat hujatan menghujani kolom komentar, seperti “ya wajarlah dihukum berarti mbak banyak dosa” atau “masnya ini sengsara banget, pasti dulunya banyak dosa”.

Tentu itu jauh dari ekspektasi dan menjadi sisi negatif dari tren curhat online. Curhat online juga bisa menjadi tidak berfaedah, karena netizen tidak tahu secara detil si pencurhat. Berbeda dengan curhat tertutup kepada keluarga atau teman sendiri.

Tapi ya gimana, kaum milenial terbiasa dengan hal-hal yang praktis. Itu mengapa akun curhat online tetap memikat, terlebih menghadirkan drama yang acara Uya Kuya aja sih lewat.

Bahkan, hanya dengan membaca kisah orang lain, tanpa ikut melakukan validasi, kita sudah mendapatkan bonus bahwa ternyata bukan hanya kita yang sengsara di muka bumi.

Dear diary, maaf… ternyata curhat online dengan netizen terasa lebih nikmat.”

“Baiklah, Marimar. Jadi utang yang kemarin udah dibayar?”

“Belum.”

“Sono minta sama netijen!”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.